Melahirkan Generasi Pemimpin Umat

TintaSiyasi.com-- Istilah "banyak anak, banyak rejeki" adalah istilah yang seringkali kita dengar. Khususnya pada generasi '90an ke atas. Hal itu bisa kita tilik dari banyaknya paman, bibi, dan sepupu-sepupu yang kita punya ataupun saudara dari kakek dan nenek kita. Orang-orang dahulu terbiasa memiliki keluarga besar. Mereka tak pernah merasa takut tentang kemampuan memberi makan atau menyekolahkan anak-anaknya.

Jika kita bandingkan dengan kehidupan di masa kini, yang terjadi justru adalah kebalikannya. Gaungan "childfree" kembali mengudara semenjak disuarakan oleh influencer dan artis. Meski bukanlah pemikiran baru, tetapi cukup menjadi perhatian khayalak.

Pemikiran tersebut didasari oleh beberapa hal, salah satunya masalah finansial. Hal ini dilihat dari ramainya unggahan biaya untuk sekadar melahirkan. Ditambah lagi biaya pengasuhan, pendidikan, kebutuhan anak, dan lain sebagainya. Biaya-biaya tersebut banyak sekali tersebar di sosial media.

Padahal di dalam surah Al Isra ayat 31, Allah telah berfirman, "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar".

Berdasarkan worldmeter, setidaknya ada 7,8 miliar penduduk dunia pada 2021. Jumlah tersebut tersebar di lebih dari 230 negara dan terus bertambah setiap tahunnya. Namun, ada juga beberapa negara yang mengalami penurunan jumlah penduduk (databoks.katadata.co.id, 10/8/2021).

Ketika populasi Eropa terus menurun, mereka terus mencoba menerapkan program untuk meningkatkan angka kelahiran mereka. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari habisnya generasi penerus bahkan terancam hilangnya peradaban mereka. Hal tersebut juga bisa disebabkan karena jumlah penduduk pada rentang usia dewasa menuju tua lebih banyak daripada usia muda dan anak-anak. 

Faktor hilangnya peradaban menurut Ibnu Khaldun adalah degradasi moral dan hilangnya keadilan. Tentu faktor tersebut telah nampak pada hari ini, yaitu di dalam kehidupan yang sekuler. Semuanya mempertontonkan ketidakadilan, degradasi moral dan perburuan syahwat tanpa sungkan, bahkan kian subur.

Untuk menghindari kehancuran sebuah peradaban, salah satu langkah adalah dengan memperbarui penduduknya. Generasi terlahir jika ada kelahiran. Cara terminimal yang bisa dilakukan adalah dengan perbaikan pendidikannya. Dilanjutkan dengan semangat menuntut ilmu yang tinggi, meningkatkan aktivitas serta produktivitas. 

Islam memberikan banyak sekali pilar-pilar pendidikan generasi. Islam juga memotivasi agar menjadikan anak-anak mereka sebagai aset dunia dan akhirat.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Apabila manusia itu meninggal dunia, terputuslah segala amalnya kecuali 3, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak sholeh yang berdoa baginya." (HR. Muslim). 

Secara fisik, perempuan diberikan rahim untuk melestarikan keturunan. Ketika mengandung, melahirkan hingga menyusui sangat banyak pahala yang Allah janjikan. Maka sejatinya, kekhawatiran untuk memiliki anak adalah bentuk menyalahi fitrah. Di dalam Islam telah ditegaskan bahwa anak adalah rezeki. 

Kehidupan sekuler saat inilah yang mengakibatkan munculnya pemikiran semisal childfree ini. Jika saja kita memegang Islam secara sungguh-sungguh maka tak perlulah merasa khawatir. Sungguh banyak keutamaan yang Allah berikan dengan memiliki anak, baik di dunia maupun akhirat. Terutama dalam menyiapkan generasi sebagai pemimpin umat menuju kebangkitan Islam. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Anita Sya'ban
(Lingkar Studi Muslimah Bali)

Posting Komentar

0 Komentar