Kaum Separatis Kembali Beringas, Islam Solusi Tuntas

TintaSiyasi.com-- Tragedi berdarah menyeruak dari Tanah Papua. Pada Senin (13/09/2021) aksi teror dilakukan oleh kaum separatis yang disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), mereka melakukan serbuan dan pembakaran fasilitas kesehatan yang kali ini menelan korban seorang tenaga kesehatan muda belia Gabriella Meilani yang bertugas di Puskesmas Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Perawat Gabriella Meilani meninggal dunia usai dirinya jatuh ke jurang saat berusaha menyelamatkan diri dari serangan kelompok bersenjata. "Kami juga sangat menyesalkan dan mengecam keras terjadinya insiden yang membuat perawat Gabriella terpaksa lari dan menyelamatkan diri. Serangan, penyiksaan, dan perbuatan yang merendahkan martabat manusia apapun, apalagi sampai yang mengarah ke pembunuhan di luar hukum tidak bisa dibenarkan. Hak untuk hidup adalah hak fundamental," ungkap Wirya Adiwena Deputi Direktur Amnesty International Indonesia dalam siaran pers yang diterima, Minggu 19/9 (merdeka.com).

Separatisme begitu nyata mengancam, serangan yang terbilang brutal ini kembali terjadi, yang sebelumnya pun tak tanggung-tanggung menyerang siapa saja, baik warga sipil maupun aparat keamanan. Kelompok ini terus melakukan kerusuhan secara massif, membakar gedung, merusak fasilitas umum, bahkan menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Bahkan pada Desember 2018 lalu, kaum separatis bersenjata ini mengeksekusi mati 20 warga di distrik Yigi, Nduga, Papua. Tentu hal semacam ini sangat mengancam jiwa. Menimbulkan ketakutan dan rasa tidak tenang terutama bagi tenaga kesehatan yang bertugas di garda terdepan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terlebih dalam kondisi pandemi seperti saat ini, dimana pelayanan kesehatan menjadi jauh lebih mendesak.

Tidak hanya kenyamanan, ketenangan serta ketenteraman warga yang diusik, kesatuan negeri pun berpotensi goyah, sebab alasan kerusuhan terus membara adalah karena ini bagian dari gerakan disintegrasi, gerakan yang berupaya ingin melepaskan diri dari negara induknya, atau memisahkan diri dari Indonesia.

Meski terulang kembali, respon pemerintah terkesan lamban dan belum melakukan penanganan tegas untuk memberantas tuntas kelompok tersebut, hal ini lah yang menyebabkan kaum separatis bersenjata ini kembali saja berulah. Padahal disintegrasi merupakan masalah yang sangat serius. Jika dibiarkan berlarut-larut dan akhirnya berhasil memisahkan diri, maka daerah-daerah lain juga akan melakukan hal yang sama. Jika Papua terus bergejolak dengan isu separatisme dan disintegrasinya, tidak menutup kemungkinan daerah lain pun menghendaki kemerdekaan semisal Papua. Hal terburuk yang mungkin terjadi adalah Indonesia bisa terpecah belah dan tinggal nama saja karena semua daerah ingin memisahkan diri.

Persoalan di Bumi Cenderawasih ini memang begitu rumit dan kompleks. Karena berbagai unsur yang melatarbelakanginya. Baik kemiskinan, ketidaksejahteraan, hingga masih bercokolnya intervensi asing bertahun-tahun lamanya di tanah Papua. Ini yang kemudian menjadi cikal bakal munculnya gerakan separatisme dan disintegrasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin di Papua selama enam bulan terakhir mengalami peningkatan sebesar 0,16 persen poin, yaitu dari 26,64 persen pada Maret 2020 menjadi 26,80 persen pada September 2020. BPS juga menyebutkan persentase penduduk miskin di Papua untuk daerah perkotaan mengalami peningkatan sebanyak 0,12 persen poin menjadi 4,59 persen (4,47 persen pada Maret 2020) serta pedesaan naik sebanyak 0,19 persen poin menjadi 35,69 persen (35,50 persen pada Maret 2020).

Sejalan dengan kemiskinan yang meningkat, sudah tentu rakyat Papua hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Ditambah dengan arus investasi asing yang terus mengalir, seperti keberadaan Freeport, pada kenyataannya tidak memberikan dampak yang signifikan pada kesejahteraan rakyat Papua. Pun masuknya berbagai industri ke Papua, tidak sinkron dengan kesejahteraan yang di dapat rakyat. Padahal Papua adalah tanah yang sangat kaya, sumber tambang emas dan lain sebagainya. Dengan masuknya asing, tidak bisa dinafikkan ini menjadi salah satu faktor penyebab gerakan disintegrasi, karena daerah yang kaya akan sumber daya alamnya menjadi rebutan berbagai pihak termasuk bangsa asing, mereka ingin memecah belah daerah tersebut sehingga akan mudah bagi asing untuk menguasai kekayaannya. Dan saat ini terbukti, kekayaan melimpah ruah tersebut dikuasai oleh para kapitalis, pemilik modal besar, sedangkan rakyat Papua tak dapat apa-apa. Meski begitu, penguasa seolah tak ambil pusing, kebijakan yang lahir akhirnya menimbulkan kekecewaan dan juga kemudian menjadi pencetus gerakan disintegrasi.

Bagaimana Islam memandang gerakan separatisme dan disintegrasi seperti ini? 
Menjaga persatuan dan kesatuan di tengah-tengah umat hukumnya wajib, pun sudah sangat jelas urgensinya dalam Islam, Allah berfirman, “Dan berpegang teguhlah kamu semunya kepada tali (agama) Allah. Dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, kemudian Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat-Nya orang-orang yang bersaudara, dan (ingatlah ketika) berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-Imran [3]: 103).

Islam melarang bercerai-berai, termasuk menetang gerakan disintegrasi seperti ini karena sangat mengancam persatuan dan kesatuan serta menyebabkan negeri kaum Muslim terkoyak. Meski Islam juga tidak mengacuhkan adanya potensi perbedaan dan perselisihan ditengah umat, maka Islam juga menetapkan, “Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisaa'[4]:59). Ketetapan ini berlaku jika terjadi perselisihan antara rakyat dan khalifah (negara), dan di antara rakyat dengan rakyat. Semuanya ini dikembalikan kepada  Allah dan Rasul, atau Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Sampai kapan gerakan ini akan terus berulang? Munculnya gerakan separatisme dan disintegrasi ini sudah tentu menandakan adanya masalah pada persatuan dan kesatuan, karena jika tidak, kaum separatis tidak akan keukeuh ingin memisahkan diri. Sehingga dibutuhkan satu titik yang menjadi pemersatu agar persatuan bisa terbentuk dan tidak lenyap. Titik yang seperti apa? Apakah tokoh, kesamaan kepentingan, nasib yang sama, atau samanya pemahaman tentang kehidupan (ideologi). Jika titik pemersatu didasarkan pada tokoh yang sama, maka jika tokoh terebut meninggal potensi untuk kembali bercerai-berai akan ada. Termasuk jika landasannya kesamaan kepentingan atau kesamaan nasib, jika kepentingan sudah tak lagi sejalan atau nasib sudah berbeda, akan hancur persatuan dan akan muncul peperangan untuk memperebutkan kepentingan.

Maka yang menjadi dasar kuat untuk menyatukan adalah samanya pemahaman tentang kehidupan yaitu ideologi. Ideologi yang ada di dunia ini ada tiga, yaitu kapitalisme, sosialisme, dan Islam. Kapitalisme dan sosialisme adalah ideologi yang lahir dari pemikiran manusia yang konsep-konsepnya jika diterapkan dalam kehidupan sangat sarat dengan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Sehingga akan menguntungkan pihak tertentu saja dan merugikan yang lain. Berbeda dengan Islam, ideologi yang lahir dari Allah SWT. Tuhan semesta alam. Jika Islam diterapkan, keadilan dan kesejahteraan akan teralisasi. Tidak ada ketimpangan apatah lagi disintegrasi seperti saat ini, sehingga kasus KKB yang beringas tidak akan pernah terulang kembali justru berbagai daerah ingin berintegrasi. Penguasa pun akan bekerja keras sesuai hukum syara’ untuk mensejahterakan rakyatnya karena kesadaran akan beratnya pertanggungjawaban akan kekuasaan mereka di hadapan Allah SWT. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Ahida Tamanni, S.KM
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar