Kang Dewa: Hijrah Bukan Sekadar Ganti Profesi, Tapi Ubah Visi Misi Akhirat


TintaSiyasi.com-- Pengusaha Muslim Dewa Eka Prayoga mengatakan, hijrah bukan hanya sekadar menganti profesi tapi mengubah visi dan misi akhirat.

"Hijrah bukanlah sekadar menganti profesi tapi mengubah visi dan misi akhirat," ungkapnya di kanal YouTube UIY Official, Ahad (29/8/2021).

Menurutnya, hijrah bukan soal ikut-ikutan saja tapi tentang kesadaran untuk menuju lebih baik lagi. "Hijrah bukan agar terlihat shalih di mata orang tapi beneran pengen menjadi shalih. Hijrah bukan tentang hanya di lisan tapi di perbuatan. Hijrah bukan hanya di ucapan tapi di amalan perbuatan. Hijrah bukan hanya sekadar menganti profesi tapi mengubah visi dan misi akhirat," bebernya.

Kang Dewa, sapaan akrabnya mengatakan, hijrah itu bukan tentang perasaan, tapi pemikiran. "Hijrah bukan tahu tentang ekstensi diri tapi substansi hidup. Hijrah bukan tentang lagi perasaan saja tetapi pemikiran kita," tambahnya. 

"Di titik seperti sekarang ini saya sering mengatakan hijrah gampang, yang susah istiqamah dalam hijrah," tangkasnya.

Ia mengatakan, di tahun 2012 yang saat itu merupakan tahun-tahun krisis, jika sekarang orang-orang yang dalam kondisi pandemi mengalami kondisi krisis ekonomi, ia juga mengalami kondisi serupa.

"Kejadiannya semenjak 18 hari pasca-pernikahan. Jadi pernikahan itu adalah kebangkrutan dan saya harus menanggung kerugian besar akibat keteledoran saya menerima sebuah investasi," kisahnya.

"Titik baliknya ngalamin dua fase hidup. Pertama, fase krisis saat bangkrut, akhirnya mengubah perpepsi  tentang purpose of life. Kedua, pada saat saya sakit. Sakit ini akhirnya membuat pemikiran saya semakin terbuka. Dari situlah banyak episode spiritual," imbuhnya. 

Lanjut dia katakan, bahwa tidak mungkin sesuatu itu memburukan, pasti akan membaikkan. "Di situlah frame-nya diubah, lebih ikhlas, lebih ridha, memahami lagi, membaca lagi, ngaji lagi," tuturnya.

“Ketika jatuh saya juga tidak kehilangan dalam keimanan, karena alhamdulillah baliknya ke masjid, sering dengar kajian dan segala macam," terangnya.

Menurutnya, di titik kondisi terpuruk, boleh kehilangan seluruh harta, boleh kehilangan seluruh kepercayaan yang dimiliki oleh kawan-kawan, boleh kehilangan seluruh jabatan dan profesi, tetapi jangan kehilangan keimanan.

"Hikmahnya adalah tidak boleh kehilangan keimanan kita kepada Allah," imbuhnya.

Ia menuturkan, kala itu ia memiliki utang sebesar Rp7,7 miliar dan akhirnya apa pun yang bisa dilakukan ia lakukan yang terpenting halal di mata Allah. 

"Sampai satu titik yang akhirnya dalam kondisi terpuruk itu, saya punya prinsip bahwa enggak mungkin ini bisa dibereskan secara masuk akal 'enggak mungkin', di saat penghasilannya tidak sampai 5 juta. Di situ saya  punya keyakinan bahwa hanya sesuatu yang tidak bisa masuk akal yang bisa menyelesaikan sesuatu yang tidak masuk akal," bebernya. 

Oleh ustaznya, ia diajarkan sebuah nasihat pamungkas, yakni, ia harus sering menolong orang banyak. “Kenapa ustaz? Justru saya yang mesti ditolong. Karena kamu butuh pertolongan Allah. Kalau kamu ingin ditolong oleh Allah, kamu harus menolong orang banyak. Dari situlah saya terima, kemudian saya berdoa kepada Allah. Ya Allah hadirkanlah orang-orang yang bisa saya bantu dengan kehadiran saya hidup mereka bisa bertumbuh dan berkembang," munajatnya berdoa.

"Alhamdulillah akhirnya entah kenapa tiba-tiba orang-orang datang ke saya konsultasi tentang bisnis, tentang jualan. Dari situlah ketika bisa menolong orang lain dalam jumlah yang banyak perlahan mulai bangkit," jelasnya.

Mentok

Selain itu, ia membeberkan, kenapa penghasilannya mentok di angka-angka sekian. 

Ia mengatakan ketemu solusinya di masjid, di kajian, di halaqah. "Bahwa kita perlu membantu orang lain. Termasuk poinnya adalah perlu banyak beristighfar dan bertobat, agar rezeki tidak seret," katanya.

“Titik pertama di waktu kondisi bangkrut mulai memahami tentang bagaimana mengambil tanggung jawab terhadap hidup, menerima sebuah qadha Allah, terlebih lagi sakit. Akhirnya makin paham lagi tentang konsep pasrah. Kita perlu sabar,  perlu ridha, syukur, tiada tempat bergantung kecuali pada Allah, banyak zikir, shalat, shalawat, ingat mati," paparnya.

Menurutnya, ketika di titik sehat jangan sampai disia-siakan. Di titik itu justru harus makin menguatkan tujuan hidup, tentang bagaimana menyiapkan kematian, bagaimana memberikan dampak buat kehidupan. "Bahkan saya punya prinsip bisnis itu hanya sekadar wasilah tujuannya lillah," katanya.

"Maka kalau bisnis yang kita jalankan tidak mendekatkan kita pada Allah mending tidak usah bisnis sekalian. Bahwa yang namanya bisnis pilihan, dakwah kewajiban," tegasnya. 

Lalu ia menjelaskan, bagaimana supaya kita istiqamah dalam hijrah. Pertama, ia memberikan analogi sederhana, hidup itu bagaikan handpone yang sering kali di-charge. Sama dengan hidup, wajar kalau motivasi hijrahnya untuk bisa lebih baik hilang atau berkurang, makanya perlu di-charge dengan mengikuti kajian, ngaji, dan diberi siraman rohani agar kembali ke track hijrahnya.

Kedua, perlu punya sistem yang ngigetinnya. Analogi sederhananya adalah sholat wajib saja Allah masih ingatkan sama adzan. Apalagi ini hijrah ibaratnya tidak langsung diingetin tiap hari kudu ada sistemnya yang ingetin kita. Lagi-lagi ini tentang ngobrol bareng sama orang terdekat, ngaji bareng, berjemaah, saling mengingatkan dalam kebaikan. Ini cara saya untuk tetap on the track," tuntasnya.[] Lanhy Hafa

Posting Komentar

0 Komentar