Jurnalis Ini Ungkap Pengaruh Kemenangan Taliban terhadap Indonesia secara Politik


TintaSiyasi.com -- Jurnalis Joko Prasetyo mengungkapkan pengaruh kemenangan Taliban atas pasukan Amerika Serikat (AS) terhadap kaum Muslim, termasuk di Indonesia

"Sangat berpengaruh dan menyemangati kaum muslimin di mana saja, termasuk di Indonesia, bahwa Amerika itu yang selama ini kita kira sebagai negara tak terkalahkan akhirnya kalah sudah," ungkapnya dalam Bincang Media Umat edisi ke-26, Antara Perjuangan Kemerdekaan Afghanistan dan Indonesia, Sabtu (11/09/2021) di kanal Youtube Follback Dakwah.

Ia menjelaskan, pengaruhnya itu misalnya perspektif dari sisi positif, yaitu saling menyemangati antara sesama kaum Muslim, bahwa dengan semangat jihad, negara penjajah super power sekali pun bisa dikalahkan. "Ya negara penjajah (Amerika Serikat) yang selama ini dianggap super power dalam kekuatan, dia enggak lebih dari dua puluh tahun sudah kalah scara militer," tuturnya.

Dia melanjutkan bahwa jika kaum Muslim di mana saja memiliki semangat jihad fi sabilillah, maka Insya Allah akan tumbuh semangatnya dalam melawan penjajah seperti Amerika. Jadi, kaum Muslim di Indonesia, meskipun tidak dijajah Amerika secara militer, tapi faktanya dijajah secara nonmiliter, baik secara politik, ekonomi, dan sebagainya, sehingga semangat jihad itu harus bangkit.

"Hanya saja, kalau Taliban itu angkat senjata karena memang dijajah secara militer. Ya kita angkat pemikiran, perang pemikiran sehingga kaum Muslim Indonesia sadar. Yang tadinya ini mereka enggak paham bahwa mereka sedang dijajah secara nonmiliter jadi paham. Ya itu satu sisi. Akan berhasil itu sebagaimana berhasilnya Taliban di Afghanistan. Insya Allah kita juga akan berhasil mengusir penjajah," ujarnya.

Kesamaan Perjuangan

Dia menjelaskan bahwa dalam melawan penjajah, antara kaum Muslim di Nusantara dan Afghanistan memiliki kesamaan dalam banyak aspek. Seperti, sama-sama dulunya bagian dari kekhilafahan dan memiliki spirit Islam yaitu jihad fi sabilillah dalam melawan penjajah secara militer.

"Itu persamaannya, bahwa tadinya sama-sama bagian dari Khilafah Islam. Terus, sama-sama memiliki ciri khas jihad. Kenapa jihad fi sabilillah? Ya karena kan mereka kaum Muslim. Kaum Muslim kan wajib melawan penjajahan," ujarnya.

Karena itulah, lanjutnya, yang membuat kaum Muslim bertahan dalam melawan penjajah. Terlepas dari teknologinya apakah canggih atau tidak, tetap bertahan melawan penjajah dan akhirnya menang secara militer, baik kaum Muslim di Afghanistan dan Nusantara.

"Nah, kedua-duanya sama-sama bagian dari khilafah, terus dijajah oleh kafir penjajah dari Barat sana yang de facto juga agamanya bukan Islam. Terus menang secara militer. Menang secara fisik karena tadi, ruh jihadnya. Semangat jihadnya jelas," pungkasnya. [] Rasman

Posting Komentar

0 Komentar