Jadi Jurnalis Islam, Begini Kisah 'Lugu' Om Joy


TintaSiyasi.com -- Siapa sangka, jurnalis senior yang satu ini memilih masuk dunia jurnalistik bukan karena bercita-cita menjadi jurnalis. Om Joy, sapaan Joko Prasetyo, dikenal sebagai jurnalis yang gigih dan lantang menyuarakan ideologi Islam. Namun, dalam penuturannya, ternyata awal mula ia memilih jurnalistik bukan karena motif dakwah sebagaimana sekarang.

Alasan Om Joy memilih jurnalistik terbilang amat sederhana, hanya untuk melengkapi pilihan jurusan pada formulir pendaftaran kuliah. Om Joy mengisahkan, sesungguhnya ia ingin memperdalam seputar tasawuf. Karenanya, ia mendaftar kuliah jurusan Tasawuf. 

Hanya saja, karena kolom pilihan jurusan pada formulir pendaftaran ada dua dan harus terisi keduanya, maka jurusan Jurnalistik menjadi pilihan Om Joy ketika itu. "Jadi intinya, pilih jurusan Jurnalistik itu, ya, mendadak saja di TKP ketika daftar kuliah agar pilihan pertama dan pilihan kedua terisi," tulis Om Joy di salah satu WhatsApp Group yang dimiliki Tintasiyasi.com, Selasa (24/08/2021).

Om Joy punya keinginan yang kuat untuk bisa diterima di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung atau yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD). Keinginan itulah yang mendorong putra tentara ini memilih Jurnalistik dan meletakkannya pada pilihan pertama di kolom pendaftaran, mengorbankan Tasawuf yang ia idamkan.

Ia mengatakan, saat itu Jurnalistik adalah jurusan baru di universitas yang dikenal dengan UIN Bandung itu. "Dengan pemikiran (bahwa) itu jurusan baru, siapa tahu banyak yang tak tahu, sehingga peluang saya keterima di IAIN jadi lebih besar, saya kan ingin baca-baca buku tentang NII di Perpustakaan IAIN. Selugu itu pikiran saya saat itu (sekarang juga masih belum pinter, sih, ha ... ha ...)," tulis Om Joy.

Penasaran karena PSPB

Alasan yang menurut Om Joy lugu itulah yang justru menghantarkannya menjadi mahasiswa UIN Bandung. Namun, menariknya, "keluguan" itu ternyata lahir dari sebuah pemikiran yang mendalam akan negara dan agamanya. Ia terdorong oleh rasa penasaran yang besar terkait sejarah Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang secara umum dikenal sebagai Negara Islam Indonesia (NII). 

"Saya masuk IAIN Bandung karena ingin baca buku-buku terkait Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII)," kata Om Joy.

Ia menuturkan, sejak sekolah dasar (SD), kisaran tahun 1986-1992, ia telah diliputi penasaran tentang NII. Ia bertanya-tanya mengapa di buku PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa), NII disebut menggulingkan negara. 

"Dari SD, saya penasaran mengapa di buku PSBB (eh, PSPB ya, bukan PSBB. Ha...ha...), NII disebut menggulingkan kereta api yang banyak penumpangnya (rakyat) dan membakari rumah warga. Masak pejuang Islam seperti itu?" kenang Om Joy.

Rasa penasaran Om Joy yang terpendam sejak SD itu pun terbuka jalannya ketika ia berada di bangku sekolah menengah atas (SMA). Saat itu, ia mempertanyakan perihal NII kepada mentor agama dalam kegiatan ekstra kurikuler mentoring yang ia ikuti. Sang mentor yang juga alumni SMA yang sama dengannya itu adalah mahasiswa UIN SGD jurusan Tasawuf. 

Om Joy mengatakan, mentornya itu menyarankan agar ia datang ke perpustakaan IAIN SGD Bandung karena di sana banyak buku yang membahas NII, salah satunya yang ditulis Deliar Noer. "Maka saya pun bertekad untuk menjadi mahasiswa IAIN agar tidak malu kalau datang ke Perpus (perpustakaan) IAIN," ujar Om Joy.

Itulah yang mendorong Om Joy mendaftar kuliah di IAIN SGD tersebut. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kegigihan Om Joy membuahkan hasil. Rasa penasaran yang bergelayut dalam benaknya sejak SD itu pun akhirnya menemukan jawabannya di tahun 1998. Yaitu, ketika ia kuliah tingkat pertama. 

Berdasarkan pengkajiannya itu, Om Joy mendapati, tampak ada berbagai upaya pencitraburukan NII, termasuk dengan fitnah keji sebagaimana dalam buku PSPB SD yang pernah ia temukan.

Menurutnya, NII bukanlah pemberontak, melainkan pihak yang mempertahankan wilayah Nusantara dari penjajahan.

"Pendeklarasian Negara Madinah Karunia Allah dilakukan ketika di Indonesia terjadi kekosongan kekuasaan (vacuum of power), karena kekuasaan Republik Indonesia pada saat itu berdasarkan perjanjian dengan Belanda hanya se-Yogyakarta saja. TNI pun longmars menuju Jogja, mereka yang tak mau tunduk dengan hasil perundingan Belanda, bergabung dengan SM Kartosoewirjo mendirikan NII," terang Om Joy. 

Diketahui, sejarah mencatat kala itu Indonesia dalam keadaan lemah. Perjanjian Linggarjati membuat wilayah Indonesia hanya tersisa Jawa, Madura dan Sumatera. Sementara, Perjanjian Renville telah membuat teritorial Indonesia di Pulau Jawa hanya tersisa Yogyakarta.

Dalam kelemahan dan kekosongan kekuasaan itu, pada 7 Agustus 1949, SM Kartosoewirjo mendeklarasikan Negara Madinah Karunia Allah atau yang dikenal Negara Islam Indonesia (NII) di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kemudian, NII Jawa Barat itu didukung oleh Aceh, Sulawesi Selatan dan daerah lain yang tidak setuju dengan perjanjian yang menguntungkan Belanda itu.
 
 Idealis
 
 Sejak Om Joy remaja, ia mempunyai minat yang kuat untuk memperdalam seputar tasawuf. Semasa SMA ia banyak membaca buku seputar tasawuf. Ia pun ingin mengembara untuk belajar Islam dan mendakwahkan Islam. 

Akan tetapi, dorongan untuk diterima di UIN Bandung membuat Om Joy menempatkan Jurnalistik di pilihan pertama di kolom pendaftaran. "Sampai sekarang saya tidak mengerti mengapa saya mengisi kolom pilihannya seperti itu. Padahal, saya kan inginnya Tasawuf, mestinya Tasawuf ditulis di pilihan pertama," tuturnya.
 
Dari penuturannya, kecintaan pada tasawuf tampaknya telah mematri hati Om Joy. Ia selalu berharap diterima di jurusan Tasawuf. Meski demikian, Allah-lah yang menentukan. Allah menakdirkan Om Joy diterima di jurusan Jurnalistik.

Namun, meski di dunia jurnalistik, keinginannya untuk mengembara guna mempelajari dan mendakwahkan Islam tidak luntur dari dalam diri Om Joy. "Kelas tiga SMA saya juga pernah khuruj dengan Jamaah Tabligh dan belajar ke NII hingga tahun pertama kuliah," ujar Om Joy.

Di dunia jurnalistik pun ia mengembara dengan tetap memegang idealisme Islam. Ia melalang buana ke berbagai media. Di antaranya, Om Joy pernah berada di salah satu harian umum yang beredar se-Jawa Barat, surat kabar yang beredar di Jawa Barat bagian timur, juga di salah satu tabloid nasional.

Di mana pun ia bekerja, Om Joy teguh memegang prinsip-prinsip ideologi Islam. Atas landasan ideologi Islam itu, ia bahkan pernah lebih memilih tidak dibayar dalam pekerjaannya daripada diberi bayaran yang berpotensi menimbulkan dosa dan terkategori suap. 

Ibarat menggenggam bara api, keteguhan Om Joy mengemban ideologi dan mendakwahkan Islam itu tak pernah absen dari rintangan. Tanpa menyebut nama medianya, benturan ideologi pernah ia alami dari salah satu media tempatnya bekerja. Ia bahkan  dipindahkan ke bagian administrasi karena hal itu.

Kini, Om Joy berada di media yang menyuarakan ideologi Islam. Jurnalistik telah menjadi tunggangan untuk cita-citanya, mengembara mempelajari dan mendakwahkan Islam.[] Saptaningtyas

Posting Komentar

0 Komentar