Inspirator Orang Tua Hebat Ungkap Bahaya yang Mengintai dari Ide Childfree



TintaSiyasi.com-- Berbicara ide childfree tentang pemahaman tidak mau punya anak yang viral karena disampaikan seorang YouTuber, Inspirator Orang Tua Hebat Dini Sumaryanti mengungkap bahaya yang mengintai akibat childfree.

"Akan muncul bahaya yang mengintai, karena bergesernya tujuan penciptaan naluri meneruskan keturunan menjadi sekedar penyaluran perasaan cinta dan pemuasan kebutuhan seksual," tutur Dini kepada TintaSiyasi.com, Selasa (24/8/2021).

"Kasihan, orang yang menganut ide childfree ini, dengan berbagai alasannya hanya berpikir untuk mengejar kebahagiaan jangka pendek," imbuhnya.

Menurutnya, pemikiran ini dalam jangka panjang akan memiliki dampak yang negatif, dari sisi individu maupun masyarakat.

"Dari sisi individu karena dia membuat pilihan yang tidak sesuai dengan nalurinya. Setiap manusia memiliki potensi dasar yang Allah install bersamaan dengan penciptaan manusia," ujarnya. 

Menurutnya, potensi dasar ini adalah kebutuhan jasmani juga naluri-naluri (gharizah). Di antaranya gharizah nauk (untuk melestarikan keturunan dan menyalurkan rasa kasih sayang). 

"Naluri meneruskan keturunan ini jika muncul tentunya menutut untuk dipenuhi. Jika tidak akan menimbulkan keresahan pada tingkat ringan dan stres di level berikutnya," jelasnya.

Menurutnya, ada juga yang menyalurkan ke tempat lain, menyanyangi hewan peliharaan, jika merasa repot memelihara robot bayi atau anak seperti yang saat ini berkembang di Jepang.

"Akan muncul bahaya yang mengintai karena bergesernya tujuan penciptaan naluri meneruskan keturunan menjadi sekedar penyaluran perasaan cinta dan pemuasan kebutuhan seksual," tegasnya. 

Menurutnya, aborsi akan legal jika terlanjur hamil, namun tak ingin punya anak. "Perceraian meningkat karena tak ada anak penguat pada pasangan, konflik kecil sudah mampu menghancurkan mahligai rumah tangga," katanya.

Dari sisi masyarakat, ia menjelaskan, piramida masyarakat akan terbalik, tentu kita tahu jika piramida sudah terbalik produktifitas dalam masyarakat pun rendah. "Jika penurunan populasi itu sudah terjadi. Sampai-sampai beberapa negara memberikan hadiah pada setiap kelahiran, misalnya," jelasnya.

Sejak 2013, ia mengungkapkan, setiap bayi yang baru lahir di Lestijärvi, salah satu kota terkecil di Finlandia, 'bernilai' €10.000 atau setara Rp155,5 juta. "Angka itu muncul setelah para pejabat pemerintah Lestijärvi memutuskan untuk melawan penurunan angka kelahiran dan populasi yang terus menyusut di kota tersebut, yang hanya satu anak yang dilahirkan pada tahun sebelumnya," bebernya.

Menurutnya, pemerintah setempat memperkenalkan insentif yang disebut 'bonus bayi'. Ia menambahkan, melalui skema itu, setiap penduduk yang melahirkan akan berhak mendapat €10.000, dibayar dalam kurun 10 tahun. 

Akibatnya, sejak kebijakan itu dibuat, hampir 60 anak lahir di Lestijärvi. "Dibandingkan dengan tujuh tahun sebelumnya di mana hanya 38 anak lahir, bayi-bayi baru ini merupakan pendorong besar bagi kota berpenduduk kurang dari 800 orang ini," jelasnya.

Sejarah

Kalau melihat sejarah, ia menjelaskan, istilah childfree populer di akhir abad 20 di Inggris mendapatkan banyak pengikut. Menurutnya, istilah yang menggambarkan keputusan seorang wanita yang belum/sudah menikah maupun pasangan secara sadar memutuskan untuk tidak memiliki anak (keturunan).

"Para pendukung gaya hidup childfree (e.g. Corinne Maier, Penulis asal Paris dalam bukunya No Kids: Reasons For Not Having Children, mengutip beragam alasan dalam pandangan mereka," katanya.
 
Pertama, sudah banyak tanggung jawab sosial dan keluarga, seperti menjadi perawat atau pengasuh utama dari orang tua, saudara atau pasangan yang disabel.

"Kedua, masalah finansial. Ketiga, kurangnya akses untuk mendukung jaringan dan sumber daya. Keempat, untuk kesejahteraan pribadi," jelasnya.

Kelima, adanya masalah kesehatan, termasuk kelainan genetik. Keenam, ketakutan bahwa aktivitas seksual akan berkurang. Ketujuh, beragam ketakutan (misalnya, pengalaman disekap atau kekecewaan) sama seperti ketakutan bagi seorang anak.

"Kedelapan, kerusakan atau masalah dalam suatu hubungan. Kesembilan, ketakutan akan perubahan fisik akibat kehamilan, childbirth experiencedan masa pemulihan (misalnya berkurangnya daya tarik fisik)," bebernya.

Kesepuluh, keyakinan bahwa seseorang bisa memberikan kontribusi besar pada kemanusiaan lewat usahanya, bukan lewat cara membuat anak. Kesebelas, kesadaran akan ketidakmampuannya untuk menjadi orang tua yang sabar dan bertanggungjawab.

"Keduabelas, pandangan bahwa keinginan untuk membuat anak adalah suatu bentuk narcissismKetigabelas, tidak ada pasangan yang cocok. Keempatbelas, keyakinan bahwa adalah suatu tindakkan yang kurang tepat untuk membawa seorang anak yang tidak diinginkan ke dunia ini," katanya.

Kelimabelas, keyakinan bahwa adalah suatu tindakan yang kurang tepat untuk sengaja membuat anak sementara di luar ada banyak anak yang butuh diadopsi. Keenambelas, kepedulian akan dampak negatif pada lingkunan yang bisa mengancam seperti overpopulation, pollution, dan kelangkaan sumber daya alam. Ketujuhbelas, antinatalism, keyakinan bahwa membuat manusia-manusia baru ke dalam dunia adalah suatu sikap immoral yang dilakukan turun termurun.

"Kedelapanbelas, keyakinan akan kondisi bumi yang terus memburuk ke arah negatif sehingga menolak untuk membawa seorang anak ke dalam situasi yang kian memburuk tersebut (global warming effects, perang, kelaparan). Segala peristiwa buruk tersebut dapat membawa anak hidup dalam penderitaan hingga kematian," katanya.

Kesembilanbelas, keyakinan bahwa manusia cenderung memiliki anak karena alasan yang salah. (misalnya, ketakutan, tekanan sosial dari norma atau aturan budaya). Keduapuluh, mengikuti ajaran agama yang menolak memiliki anak. Keduapuluhsatu, tidak suka pada anak-anak. Keduapuluhdua, ketidakyakinan akan stabilitas hubungan orang tua.

"Keduapuluhtiga, tidak tertarik. Keduapuluhempat, keyakinan bahwa mereka terlalu tua untuk punya anak. Keduapuluhlima, orientasi karier,"ujarnya.

Ia menjelaskan, jika melihat alasannya, wajar fenomena ini muncul dari Barat, dari masyarakat yang menganut sistem hidup kapitalis.

"Semua hal distandarkan dengan pemikiran kapitalis. Punya anak jadi beban karena butuh materi untuk membesarkan dan memberi pendidikan. Belum lagi karena punya anak membuat para wanita jadi tidak produktif dalam standar kapitalis," katanya.

Hal itu ia lihat dari data makin tinggi tingkat pendidikan perempuan Barat makin besar presentase pelaku childfree. Ia mengungkap data, meningkatnya level pendidikan berkorelasi dengan meningkatnya keinginan childfree, yaitu: tidak lulus SMA (13,5 persen), lulus SMA (14,3 persen), pendidikan tinggi tanpa gelar (24,7 persen), Associate Degree (11,4 persen), S1 (18,2 persen) and S2/S3 (27,6 persen%).

Menurutnya, idr produkifitas hanya dinilai dengan materi yang didapat saat bekerja. Hal itu ia nilai sebagai pendorong perempuan Barat menuntut persamaan hak inilah awal muncul gerakan femiinis. Yaitu, menuntut persamaan hak dalam lapangan kerja, juga dalam gaji. Akhirnya, muncul ide children free ini.

"Alasan lain takut fisiknya, tubuhnya rusak karena punya anak. Masyarakat barat penganut sistem kapitalis ini juga merupakan masyarakat sekuler, memisahkan keidupan dari nilai-nilai ketuhanan," bebernya.

"Wajar muncul alasan lain bahwa bumi sudah rusak, tidak ingin menambah kerusakan, takut masa depan anak dan lain sebagainya, semua ketakutan ini muncul karena mereka hanya mengandalkan pada diri sendiri dan secara naluri mengakui manusia itu lemah," jelasnya lagi.

Ia menyayangkan sikap penganut  childfree, tak ada di benak mereka menggantungkan kepada Sang Maha Perkasa, hingga wajar tak mencari tahu bagaimana Sang Maha Kuasa menetapkan aturan hidup agar tak terjadi kerusakan.

"Namun, sangat tidak wajar jika perempuan-perempuan Muslim juga menerima ide ini, ini yang sangat bertentangan dengan syariat Islam, juga sangat tidak sesuai fitrah mnusia," pungkasnya.[] Sri Astuti

Posting Komentar

0 Komentar