Insentif bagi Wakil Menteri, Kebijakan Tak Empati


TintaSiyasi.com-- Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja meneken aturan terkait penghargaan terhadap jabatan Wakil Menteri. Lewat Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2021, aturan itu mengatur uang penghargaan bagi wakil menteri yang telah berakhir masa jabatannya (viva.co.id, 30/8/2021).

Sebagaimana dikutip dari salinan Perpres oleh VIVA, senin 30 Agustus 2021, Uang penghargaan bagi wakil menteri paling banyak sebesar Rp580.454.000,00 untuk 1 periode masa jabatan Wakil Menteri demikian bunyi pasal 8 ayat (2). 

Di saat masyarakat berada dalam kesusahan di masa pandemi ini, para pejabat malah bakal diberi insentif dengan nilai fantastis, di mana rasa empati mereka. Padahal kinerja mereka dalam menangani pandemi pun belum ada wujudnya. Penanganan pandemi hingga hari ini pun belum bisa di urai. 

Alangkah lebih baik jika dana itu dikucurkan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat ketika negara memberlakukan lockdown dan biaya untuk pemenuhan kesehariannya diambil dari dana tersebut. Sehingga roda perekonomian akan segera bergeliat setelah penanganan pandemi bisa di atasi. Jika masyarakatnya sehat maka roda kehidupan pun akan bisa kembali normal. 

Jangan sampai negara berfoya-foya di atas penderitaan rakyat. Ketika diminta untuk melakukan lockdown beralasan tidak punya dana untuk memenuhi kebutuhan rakyat, giliran memberi insentif pejabat hingga ratusan juta negara bisa langsung meratifikasi. 

Sebelumnya juga diberitakan seorang pejabat yang mendapat jabatan komisaris di enam perusahaan BUMN. Di saat rakyat kesulitan mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penguasa malah mempertontonkan sikap tak empati.

Sekali lagi rakyat dipertontonkan dengan sikap penguasa yang tak mengundang simpati. Inilah bobroknya sistem kapitalisme yang selalu menjadikan kekayaan hanya berputar di kalangan para kapitalis saja. 

Slogan siapa kuat dia dapat benar-benar terbukti dengan nyata. Dalam konsep sistem ini sebenarnya tidak ada konsep bantuan sosial yang ada hanya lipstik semata untuk melanggengkan kekuasaan mereka. 

Ketika mereka sudah sampai di tampuk kekuasaan maka rakyat yang telah mengusung mereka akan ditinggalkan dan tak akan dilayani. Kalaupun ada upaya dari orang-orang yang masih ada kebaikan dalam hatinya tetap saja mekanismenya tidak akan bisa berjalan karena terikat oleh sistem yang dari dasarnya saja sudah cacat. 

Karena tegaknya sistem kapitalis itu di atas nilai-nilai pemisahan kehidupan dari aturan pemilik alam semesta, maka aturan yang dibuatpun adalah aturan manusia yang serba lemah dan terbatas. 

Berbeda dengan Islam karena sistemnya tegak diatas pondasi keimanan kepada sang pemilik alam semesta maka aturan hidupnya berlandaskan pada syariat yang telah digariskan oleh Allah. 

Islam juga merupakan diin yang memiliki seperangkat aturan kehidupan yang menyolusi semua problematika manusia maka hasilnya pun akan berbeda dengan sistem yang tengah diterapkan hari ini. 

Gambaran sikap seorang pemimpin sekaligus pejabat negara, pernah dicontohkan oleh Amirul mlMukminin Umar Bin Khatab ra. Beliau pemberi teladan terbaik setelah masa Rasulullah SAW. 

Umar Bin Khattab pernah 'mengharamkan' dirinya memakan daging ketika rakyatnya kelaparan. Bahkan beliau pernah menyatakan, jika terjadi musibah kelaparan maka akulah yang pertama lapar dan yang terakhir kenyang. Ini gambaran seorang penguasa yang rela menjadi perisai bagi rakyatnya, bukan menjadi penguasa yang pertama kali menikmati kekenyangan sedangkan rakyatnya kelaparan. 

Kondisi penguasa yang tidak perduli pada rakyatnya, kondisinya persis dengan apa yang digambarkan oleh ayat berikut:

قُلْ هَلْ نُـنَبِّئُكُمْ بِا لْاَ خْسَرِيْنَ اَعْمَا لًا (103)
اَ لَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا (104) 
اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰ يٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهٖ فَحَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًـا(105) 

"Katakanlah (Muhammad), "Apakah perlu Kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya? (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat." (QS. Al-Kahfi : 103-105).

Demikianlah Allah telah memperingatkan hamba-Nya agar tak berbuat sekehendak hatinya. Ada aturan di setiap langkah manusia ketika menata kehidupan, apalagi menjadi penguasa yang memiliki tugas melayani rakyatnya. Jika tak berlandaskan pada hukum Sang Pencipta maka kesengsaraan dan kehinaan akan tercipta dengan sendirinya. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Emmy Emmalya
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar