Hilangnya Rasa dalam Demokrasi

TintaSiyasi.com-- Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto alias Danny Pomanto menemukan pemborosan total sebesar Rp 680 miliar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2021. Danny lalu melakukan rasionalisasi anggaran tersebut pada APBD Perubahan 2021. Danny awalnya menemukan Rp 670 M anggaran pemborosan yang disebutnya untuk senang-senang pegawai. Anggaran pemborosan itu kini bertambah jadi Rp 10 miliar yang akan digunakan untuk uang bensin kendaraan dinas (news.detik.com, 14/09/2021).

Danny Pomanto mengungkapkan, anggaran yang dipotong dalam APBD Perubahan berupa anggaran belanja bahan bakar sekitar Rp 100 miliar, anggaran pembelian Alat Tulis Kantor (ATK), anggaran belanja makan dan minum pegawai hingga Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) sekitar Rp 100 miliar, anggaran gaji Pegawai Kontrak mencapai Rp 500 miliar (papua.tribunnews.com, 15/09/2021).

Sudah menjadi rahasia publik. Demikian adanya potret rusak yang terjadi pada sebagian elit pejabat dan pegawai yang bertugas dalam sistem demokrasi dewasa ini. Hilangnya rasa amanah yang didasarkan pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah adalah keniscayaan dalam demokrasi. Demokrasi tegak atas asas sekularisme yakni pemisahan agama dari kehidupan dengan menjunjung tinggi nilai kebebasan jelas akan berdampak pada pemikiran dan tingkah laku manusia ketika diadopsi dalam kehidupannya.

Munculnya anggaran “senang-senang” pegawai di tengah pandemi, jelas semakin memukul rakyat atas ulah para elit hedonis, menambah penderitaan di tengah guncangan kesulitan dalam segala aspek kehidupan. Uang rakyat digunakan untuk kesenangan pejabat sebagai wakil rakyat. Rakyat diperas dengan pajak hanya untuk membiayai kesejahteraan pejabat yang tidak amanah. Sungguh bagaimana mereka bisa mempertanggungjawabkan ulahnya di hadapan Allah kelak?

Mengharap munculnya pemimpin serta pegawai yang amanah dalam menjalankan tanggung jawabnya hanya bisa didapatkan dari sistem Islam yang berasal dari Allah SWT. Sistem yang melahirkan individu yang berkepribadian Islam yang memahami tujuan kehidupan sehingga ia akan senantiasa merasa berhati-hati dalam setiap perbuatannya termasuk ketika diserahi tugas dan tanggung jawab.

Dari sinilah betapa pentingnya untuk segera mewujudkan penerapan sistem Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dibutuhkan peran umat untuk mulai melakukan perubahan dan meninggalkan sistem demokrasi yang rusak dan merusak. []


Oleh: Putri Dwi Kasih Anggraini
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar