Hati Nurani yang Tergadaikan

TintaSiyasi.com-- Dilansir dari media nasional cnbcindonesia.com (30/08/2021), menyatakan bahwa Presisen Joko Widodo (Jojowi) meneken aturan baru terkait dengan posisi wakil menteri dalam kabinet. Payung ini mengatur bonus, hingga perhargaan kepada para wakil menteri.

Aturan yang dimaksud dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) 77/2021 tentang Wakil Presiden yang diteken Jokowi pada 19 Agustus lalu, seperti dikutip melalui laman Sekretariat Negara, Senin (30/08/2021).

Dalam aturan ini disebutkan bahwa wakil menteri (Wamen) yang berhenti atau telah menyelesaikan masa jabatannya akan diberikan uang penghargaan layaknya pesangon. “Uang penghargaan bagi wakil menteri paling banyak sebesar Rp 580.454.00,00 untuk satu periode masa jabatan wakil menteri,“ bunyi pasal 8 ayat 2 aturan tersebut.

Akhirnya pemerintah mengeluarkan regulasi yang menjamin jabatan Wamen mendapat bonus yang fantastis bernilai ratusan juta rupiah di tengah kesulitan ekonomi rakyat yang menghimpit. Pemerintah begitu tega mengeluarkan kebijakan yang benar-benar di luar nalar. 

Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi berpengaruh pada perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Banyak karyawan/buruh terkena PHK, meningkatnya angka pengangguran, banyaknya usaha yang tutup akibat sepinya pasar, banyak siswa atau mahasiswa yang putus sekolah/kuliah akibat ketiadaan biaya, daya beli masyarakat akan kebutuhan pokok melemah, meningkatnya angka kelaparan dan kekurangan gizi, meningkatnya angka kematian akibat Covid-19, meruginya petani akibat pandemi dan kebijakan impor yang dilakukan pemerintah, meningkatnya angka perceraian, dan lain sebagainya. Itulah potret buram rakyat saat ini yang sangat memilukan.

Ketok palu terkait bonus Wamen yang dilakukan pemerintah di tengah kondisi rakyat yang memilukan, buka hanya mempertontonkan hilangnya “sense of crisis” tapi makin menguatkan pandangan publik bahwa jabatan ini bagian dari politik balas budi dan politik kekuasan.

Padahal Presisen Jokowi menekankan pentingnya “sense of crisis” atau kepekaan dalam menghadapi krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19 seperti yang dikutip dari kompas.com (02/02/2021) beberapa bulan yang lalu.

Sungguh aneh memang. Seharusnya hubungan pemerintah dan rakyat  adalah bak orang tua dan anak. Sebagai orang tua, maka apapun dilakukan untuk kebahagiaan anaknya. Mustahil orang tua akan melakukan perbuatan yang akan menyakiti bahkan melukai perasaan anaknya. Orang tua memiliki kepekaan yang sangat tinggi bila menyangkut anak-anaknya. Entahlah apa yang terjadi dengan “orang tua” rakyat Indonesia.


Bagi-Bagi Kue Kekuasaan 

Dalam sistem demokrasi, hal yang sangat lumrah terjadi manakala pemenang pemilu berbagi “kue kekuasaan” (kursi jabatan) kepada pendukungnya hingga jorjoran memberikan bonus yang  fantastis. Sementara rakyat seringkali menjadi “anak tiri” yang terlupakan keberadaannya.

Habis manis sepah dibuang. Mungkin itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan bagaimana rakyat di mata pemegang tampuk kekuasaan. Rakyat didekati saat dibutuhkan suaranya untuk memenangkan kompetisi pemilu. Setelah itu mereka berangkulan dengan para elite oligarki yang dipandang sudah berjibaku mengawal dari awal hinga mereka sampai pada kursi kekuasaan. Walhasil berbagai kebijakan yang diambil tercium syarat politik balas budi. Dan pada akhirnya melahirkan kebijakan tidak pro rakyat.

Inilah fakta kedaulatan rakyat menurut demokrasi sejatinya omong kosong. Yang ada hanyalah  kedaulatan di tangan pemilik modal. Para oligarki kekuasaan inilah yang sejatinya berdaulat atas rakyat. Dan rakyat hanyalah korban dari keserakahan dan ketamakan mereka.

Demikian juga jika dikatakan, bahwa rakyat adalah sumber kekuasaan. Rakyat yang mana? Karena  pada faktanya suara rakyat tidak didengar saat menetapkan UU ataupun kebijakan pemerintah. Suara rakyat dianggap angin lalu. Bisikan-bisikan dari para elite oligarki kekuasaanlah yang sering didengar dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan.
 
Acara yang digelar setiap saat oleh para elite pemegang kekuasaan  adalah “pesta pora berbagi kue kekuasaan”. Mereka tak memedulikan sedikitpun kondisi rakyat. Entah di mana letak hati nurani para pejabat. Mungkin saja hati nuraninya mati ataupun sudah tergadaikan oleh syahwat kekuasaan. Hingga mereka lupa diri dan lupa daratan.


Bagaimana dengan Islam?

Berbeda dengan Islam, kekuasan untuk mengangkat kepala negara (khalifah) berada  di tangan rakyat melalui proses baiat. Hanya saja khalifah diangkat bukan untuk menjalankan kehendak dan kedaulatan rakyat. Tetapi menjalankan kehendak dan kedaulatan Al-Khaliq (Allah SWT). Dengan kata lain, pejabat dalam negara Islam diangkat untuk menjalankan hukum yang ditetapkan oleh Allah. Bukan untuk menjalankan hukum buatan rakyat. Pasalnya kekuasaan tertinggi pembuat hukum bukan di tangan rakyat tapi di tangan Allah SWT.

Dalam Islam, Allah SWT adalah satu-satunya pihak yang berhak menetapkan hukum bagi hambanya. Sebagaimana dalam firman-Nya yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat  40, “...Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia...”.

Sehingga sistem kekhilafahan dalam Islam  menerapkan Islam secara kaffah. Dari sistem inilah lahir para pemimpin yang amanah dan peka terhadap kondisi rakyat. Mereka menyadari bahwa pelaksanaan semua tugasnya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT di akhirat. Sehingga betul-betul melaksanakan semua tugasnya  dengan penuh tanggung jawab dan tidak mengabaikan sedikit pun urusan rakyatnya. Kemarahan Allah sangat mereka takuti ketimbang penilaian di mata manusia. Sehingga tidak disibukkan dengan membangun pencitraan di mata rakyat.

Abdullah bin Umar mengatakan Rasulullah SAW bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang pemimpin umat manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya." (HR. Bukhari : 4789).

Kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab adalah gambaran seorang pemimpin dalam Islam yang memiliki kepeduliaan terhadap urusan rakyatnya. Dikutip dari buku ‘Para Penggemgam Surga’ karya Syaikh Muhammad Ahmad Isa, Zaid ibn Aslam meriwayatkan bahwa ayahnya berkata, “Aku bepergian bersama Umar ke pasar. Ketika itu seorang perempuan muda mendatanginya dan berkata, Wahai Amirul Mukminin, suamiku meninggal dunia dan meninggalkan seorang bayi perempuan yang demi Allah akan tumbuh besar tanpa tanah, kebun dan makanan. Aku khawatir segala tentangnya. Aku adalah anak perempuan Khaffah ibn Ima’ Al-Ghifari. Ayahku ikut serta dalam perang Hudaibiyyah bersama Rasulullah”. Lalu dia mengambil dua kantong yang dipenuhinya dengan bahan makanan pada seekor unta. Dia letakkan juga pakaian dan uang di antara kedua kantong itu dan menyerahkan tali kekangnya kepada perempuan tersebut seraya berkata, “Bawa ini semua, insyaallah akan mendatangkan kebaikan bagi dirimu”.

Bentuk kepedulian Umar tak hanya itu saja, seperti yang diriwayatkan dari Auza’i bahwa Umar ibn Al-Khattab keluar rumah pada tengah malam. Hal tersebut dilihat oleh Thalhah. Umar masuk ke sebuah rumah, lalu ke rumah lainnya. Ketika pagi menjelang, Thalhah mendatangi salah satu rumah itu dan mendapati pemiliknya seorang perempuan tua yang buta dan lumpuh. “Apa urusan laki-laki tadi malam datang ke rumahmu?” tanya Thalhah. Perempuan tersebut mengatakan pada Thalhah bahwa laki-laki itu rutin mengunjunginya sejak lama. Dia memberikan sesuatu yang dapat meringankan penderitaannya dan membersihkan kotorannya.

Pada  saat kondisi paceklik pun, Umar rela hanya makan roti dan tidak mau makan daging disebabkan oleh kondisi rakyatnya yang sangat memprihatinkan. Umar merasa tidaklah pantas rakyatnya yang sedang dilanda kesusahan sementara ia makan enak. 

Begitulah bagaimana gambaran Khalifah Umar ibn Khattab yang selalu sigap mengecek semua kebutuhan rakyatnya dan memastikan jangan sampai ada di antara mereka yang kekurangan bahkan terzalimi akibat kepemimpinannya.

Kepekaan dan kepedulian seorang pemimpin yang luar biasa ini lebih disebabkan karena didukung oleh penerapan sebuah sistem kehidupan dan pemerintahan yang islami. Sebuah tatanan kehidupan yang diliputi oleh suasana keimanan. Sehingga tercipta kehidupan masyarakat yang saling peduli, saling tolong-menolong dan jauh dari sikap individualistis. Semuanya berjalan saling beriringan satu sama lain.

Jika pemimpin yang peduli pada rakyatnya, maka rakyat pun menghargai dan menghormati pemimpinnya. Rakyat begitu mencintai pemimpinnya, pun sebaliknya pemimpin sangat mencintai dan empati terhadap rakyatnya.

Semua gambaran kehidupan di atas tidak kita temukan di negeri ini atau negeri manapun di belahan dunia. Pasalnya, sistem yang menaunginya adalah bukan sistem Islam melainkan sistem kapitalisme sekuler. Sistem yang menganut dijauhkannya agama dari kehidupan (fashlu ad din ‘anil hayah), sekaligus dijauhkan dari kehidupan bernegara (fashlu ad din ‘anid daulah). Sehingga, terciptalah suatu kehidupan yang  jauh dari suasana keimanan baik pemimpin maupun rakyatnya. Walhasil, lahirlah orang-orang yang bersikap individualistis (baik rakyat maupun pemimpin). Mereka hanya mementingkan kepentingan diri sendiri ataupun kelompoknya.
 
Di saat dunia menghadapi pandemi yang tidak berkesudahan ini, rakyat sangat membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kepekaan dan kepedulian yang tinggi kepada rakyatnya. Pemimpin seperti apakah gerangan? Yakni pemimpin yang siap mengulurkan tangannya saat rakyat memerlukan, empati terhadap rakyat, mau melayani rakyat tanpa pandang bulu, tidak bergaya hidup mewah di saat rakyat menderita, mau hidup lebih susah dibanding rakyatnya, dan lain sebagainya. Semata-mata mereka bekerja untuk kepentingan rakyat bukan kepentingan sekelompok rakyat.

Pemimpin bersama-sama rakyat bahu-membahu menghadapi kondisi pandemi ini. Berupaya secara maksimal untuk mengurangi penularan Covid-19 bahkan berupaya memutus rantai penyebarannya. Agar pandemi segera usai dan kehidupan kembali normal seperti biasa.

Dalam islam, sumber daya (baik alam maupun manusia) dan anggaran negara yang ada dialokasikan semaksimal mungkin untuk membantu penanganan wabah (pandemi). Penyaluran subsidi/bantuan kepada rakyat dilakukan secara tepat (baik waktu maupun sasaran yang dituju), amanah (tidak mengkhianati rakyat), dan tidak sedikitpun dikorupsi. 

Penjagaan terhadap jiwa atau nyawa seorang manusia menjadi fokus perhatian dalam penanganan wabah. Benar-benar nyawa seorang manusia itu sangat berharga. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Maidah ayat 32, “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi." (TQS. Al-Maidah : 32).


Khatimah

Hati nurani setiap manusia cenderung memihak kepada kebenaran. Namun bila hati ini tumbuh dalam sistem yang bukan Islam, maka dia akan tergadaikan. Sebagaimana saat hati nurani para pemimpin dan pejabat di negeri ini tergadaikan oleh berbagai kepentingan politik, seakan-akan hati nuraninya sudah mati. Peka, peduli, empati maupun rasa yang lainnya sebagai perwujudan rasa sayang terhadap rakyatnya pergi entah ke mana. Walhasil rakyat dibiarkan sendiri untuk menghadapi berbagai masalah yang menghimpitnya. Para pejabat makin kaya raya, sementara rakyat makin tersiksa.

Wahai para pejabat! Tidakkah kalian memiliki hati nurani sedikitpun terhadap rakyat? Ingatlah apa yang kalian peroleh saat ini tak kan abadi. Ingatlah apa yang kita tanam saat ini akan kita tuai kelak hasilnya di hari akhir. Hari di mana setiap manusia dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya terhadap semua yang pernah dilakukan selama hidup di dunia. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Sri Rachmawati, S.P.
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar