Halal Syarat Mutlak, Bukan Sekadar Formalitas

TintaSiyasi.com-- Setiap Muslim di mana pun dan kapan pun, sudah selazimnya selalu terikat dengan aturan Ilahi. Termasuk dalam perkara makanan dan minuman. Syarat mutlak makanan dan minuman yang hendak dikonsumsi seorang Muslim adalah halal, baik secara zat maupun cara perolehannya. Halal adalah jaminan mutu dari Sang Pencipta terhadap makanan dan minuman yang layak bagi tubuh manusia. Sebab, Sang Pencipta Mahatahu mana yang terbaik untuk ciptaan-Nya. Hanya saja, hawa nafsu manusia seringkali mendorong pada perbuatan yang menyalahi aturan Ilahi. Manusia sudah diberikan rambu-rambu mana yang baik mana yang tidak oleh Sang Pencipta. Kehidupan yang sekularisme ini membuat manusia mudah menyepelekan rambu-rambu tersebut. Sebagaimana isu yang baru-baru ini ramai diberitakan, yakni tentang daging anjing yang diperjualbelikan di pasar wilayah Ibukota. Daging anjing tersebut sudah cukup lama diperjualbelikan di pasar tersebut.

Republika.co.id (12/9/2021) melansir, pihak Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Jaya membenarkan adanya oknum pedagang yang menjual daging anjing di Pasar Senen Blok III, Jakarta Pusat. "Kami dapat memberikan klarifikasi bahwa benar adanya pedagang dari Perumda Pasar Jaya yang melakukan penjualan daging anjing tersebut di Pasar Senen Blok III," kata Manajer Umum dan Humas Perumda Pasar Jaya Gatra Vaganza saat dikonfirmasi di Jakarta, Ahad (12/9).  

Gatra menjelaskan, penjualan daging anjing tersebut tidak sesuai dengan peraturan Perumda Pasar Jaya. Dalam peraturan tersebut, daging anjing tidak termasuk dalam komoditas yang dapat diperjualbelikan di jaringan pasar milik Pemprov DKI Jakarta tersebut. PD Pasar Jaya pun menjanjikan akan mengevaluasi operasional pasar sehingga penjualan komoditas di luar peraturan yang ada tidak terulang kembali.

Sekularisme merupakan sistem hidup yang memisahkan urusan agama dari dunia. Manusia dalam sistem sekularisme membuat aturan hidup yang bersumber dari akalnya sendiri. Tak ayal, perilaku manusia ala sekularisme nampak hedonis dan materialis. Halal-haram tak dijadikan sebagai standar perbuatan. Semboyannya adalah muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga. Sungguh miris kehidupan ala sekularisme. Daging anjing yang kini ramai dibincangkan adalah respon dari pengaduan masyarakat atau komunitas pecinta hewan. Artinya, tidak ada kontrol atau sidak terkait kehalalan daging yang dijual di pasar secara teratur. Pemerintah baru akan bergerak, ketika ada pengaduan atau komplain dari masyarakat.

Jaminan pangan halal dalam sistem sekularisme nampak sebagai formalitas belaka. Labelisasi halal dilakukan demi meraup untung (menarik minat konsumen Muslim). Berbeda halnya dengan negara yang menerapkan sistem Islam. Mutu pangan dinilai dari aspek kehalalannya dan thayyib (baik).


Halal Syarat Mutlak dalam Sistem Islam

Makanan menjadi bagian penting dalam Islam sebab makanan akan memengaruhi fisik dan perilaku manusia. Islam mengatur Muslim untuk memakan makanan halal dan menghindari makanan haram dan meragukan.

Aturan dasar mengenai makanan dalam Islam semakin jelas dalam risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Aturan ini berlaku tak hanya sebagai bagian ajaran agama, tapi juga sistem negara, terutama setelah Islam memiliki entitas negara kota di Madinah.

Lesley Stone dalam A Contextual Introduction to Islamic Food Res trictions menulis, catatan hadis menunjukkan Muhammad SAW menyembelih hewan dengan terlebih dulu menyebut nama Allah SWT. Ini merupakan bentuk dari upaya memberikan jaminan halal terhadap daging yang akan dikonsumsi.

Inilah yang membuat daging hewan halal menjadi halal juga dimakan. Alat penyembelihan berupa pisau yang sangat tajam juga diharuskan untuk menghindari penyiksaan terhadap hewan karena mati kesakitan.

Mengutip perkataan ulama Maulana M Ali yang mengatakan penyebutan nama Allah SWT dalam penyembelihan menunjukkan seriusnya urusan menghilangkan nyawa, bahkan pada hewan meski tak membawa untung secara ekonomi. Ini juga sekaligus permohonan izin kepada yang Mahakuasa untuk memakan makhluk hidup ciptaan-Nya dan menumbuhkan kesadaran eksistensi Tuhan (Republika.co id, 10/8/2014).

Sedangkan jenis makanan halal sangat banyak ragamnya. Nash syariat menyebutkan yang haram. Sebagaimana kaidah ushul "pada dasarnya segala sesuatu itu mubah (boleh), kecuali ada dalil yang mengharamkannya". Berkebalikan dengan realitas hari ini. Makanan dan minuman yang halal harus mendapatkan sertifikasi/labelisasi. Selayaknya seorang Muslim paham terkait konsep halal dan thayyib. Bukan sekedar taklid pada sertifikat atau label halal. Kehidupan yang diatur dengan sistem sekularisme hari ini memunculkan ragam makanan yang diragukan kehalalannya. Ditambah lagi, penguasanya tidak berupaya untuk mengedukasi ke rakyat terkait konsep "halalan thayyiban".

Wahai kaum Muslimin, sudah saatnya kita memperjuangkan tegaknya syariat Islam dalam kehidupan. Segala syubhat dan problematika kehidupan kita insyaallah bisa terpecahkan dengan tuntas apabila aturan hidupnya bersumber dari wahyu Ilahi. Dengan demikian, keberkahan hidup akan kita dapatkan. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Happy Ummu Syakila
(Aktivis Dakwah Islam)

Posting Komentar

0 Komentar