Berperilaku Manusiawi Hanya dengan Islam

TintaSiyasi.com-- Sejak tahun 2012, MS pegawai pria di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengalami hal yang tidak menyenangkan yakni pelecehan dan perundungan. Hal tersebut mencuat setelah MS membuat surat terbuka dan viral di sosial media. Pelaku yang diduga delapan orang merupakan teman kerja dalam lingkup yang sama, kasus ini masih menjalani pemeriksaan di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) (Suara.com, 08/09/2021).

Kekerasan baik verbal maupun nonverbal sudah banyak terjadi di setiap kalangan masyarakat, baik terhadap anak ataupun orangtua, ataupun terhadap gender laki-laki maupun perempuan, dengan berbagai motif yang sejatinya sesama manusia masih bisa dikomunikasikan dengan cara yang lebih baik. Namun mengapa hal ini terjadi? Biasanya karena tekanan berbagai pihak, ketidaksukaan, perilaku yang sepele dari korban dan ditanggap dengan negatif yang berlebihan ataupun motif lainnya. 

Maka mengelola perasaan di masa sekarang adalah hal yang harus diperhatikan, kesehatan mental katanya. Merubah perilaku seseorang harus dimulai dengan mengubah mindset atau cara berpikirnya untuk merespon sesuatu. Perilaku seseorang seharusnya menjadikan akidah atau keimanan sebagai landasan ia berbuat. Sayangnya, kehidupan saat ini memisahkan keimanan dengan pola hidup sehari-hari. Seolah kita beriman saat kita melakukan ibadah secara mahdhah saja atau secara langsung berhadapan dengan Sang Khaliq. Padahal, keimanan harus senantiasa kita emban setiap saat hingga akhir hayat. 

Maka salah, jika konsep berpikir merasa tidak diawasi Sang Pencipta saat sendirian, saat tidak ada aparat dan melakukan kejahatan terhadap manusia lain adalah hal yang jauh dari perikemanusiaan, tidak sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Jika ada muncul pertanyaan, bukankah hukum Islam juga ada bagian yang seolah tidak manusiawi, semisal potong tangan, jilid, jihad, dan sebagainya? 100% salah. Hukum di dalam Islam adalah dari Pencipta manusia, yang pastinya lebih paham hukuman seperti apa yang dapat menjerakan dan dapat mencegah melakukan kejahatan kembali. Hukum potong tangan bagi pencuri pun didetaili motifnya apa karena kelaparan atau memang benar-benar mencuri. Lalu dilihat kembali jumlah yang ia curi, jika tidak sampai batas yang harus dipotong tangan maka ada hukuman ta'zir dari khalifah. Selain itu juga, hukum Islam dapat menjadi penebus dosa bagi pelakunya sehingga kelak di akhirat tidak akan lagi di hisab akan dosanya tersebut. Selengkapnya tentang hukum Islam memang harus kita pelajari lebih lanjut, tidak gampang menilai sebelum belajar dan tidak skeptis untuk membuka diri dalam belajar agama.

Maka sudah sangat jelas, Islam sangat menentang kekerasan dalam bentuk apapun jika tidak ada tuntunannya dalam syariat. Hal-hal yang seolah nampak menyalahi kemanusiaan di dalam Islam pun, hal tersebut ada maksud nan agung dari Al-Khaliq, ada aturan dan hukumnya yang tidak sembarangan dilakukan. Maka kita perlu mempelajarinya dan tidak mudah menilai tanpa mau belajar.

Semoga kita menjadikan kehidupan kita berlandaskan keimanan agar perilaku kita terjaga, pupuk juga keimanan kita dengan ilmu serta amal sehingga kita tidak berpikir memisahkan kehidupan kita dengan tuntunan hidup. Karena sejatinya kita butuh aturan hidup yang sesuai tuntunan hidup yang berasal dari Allah.

"Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al Hujurat ayat 11).

 Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Yauma Bunga Yusyananda
(Member Ksatria Aksara Kota Bandung)

Posting Komentar

0 Komentar