Berkoalisi Amankan Kursi, Mengalahkan Penanganan Pandemi

TintaSiyasi.com-- Untuk sebagian orang, empuknya kursi jabatan dan kekuasaan memang menggiurkan, sehingga banyak orang yang ingin mendapatkannya. Demikian juga dengan para elite politik di negeri ini, tidak henti-hentinya menunjukan manufer politik untuk sebuah kursi jabatan. Segala cara dilakukan asalkan kursi jabatan dan kekuasaannya tetap aman.

Wacana penggalangan dukungan untuk kontestasi politik 2024 lebih menjadi perhatian partai dan wakil rakyat. Mereka berfokus menggalang koalisi dan menjajaki berbagai posisi demi mengamankan kedudukan. Di antaranya Partai Amanat Nasional ( PAN) yang merapat kekoalisi pemerintah.

Seperti dilansir dari Tribunnews.com (28/8/2021), yang mewartakan bahwa PAN telah merapat ke pemerintah yang mengakibatkan total koalisi pendukung presiden berkuasa menjadi 82 persen. Hal ini akan menjadikan bertambahnya partai-partai yang menjadi stempel pendukung kebijakan pemerintah.

Hal ini juga disorot oleh Analis politik dan Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, yang  mengharapkan Partai Demokrat dan PKS tetap konsisten dipihak oposisi bila PAN betul merapat ke koalisi pemerintah, karena negara tanpa ada kekuatan oposisi tidaklah baik (Tribunnews.com, 28/8/2021).

Dalam sistem demokrasi memang tidak ada kawan atau lawan yang abadi, semua berdasarkan pada asas kepentingan dan manfaat semata. Hari ini menjadi lawan, besok bisa menjadi kawan asalkan kekuasaan dan jabatan pada posisi aman. Tidak peduli bagaimana nasib rakyat yang menaruh harapan, agar aspirasi mereka disuarakan.

Para elite politik bukannya berjuang untuk mengentaskan nasib rakyat dari keterpurukan akibat pandemi, mereka justru asik dengan dirinya sendiri. Sibuk berkoalisi mengamankan kursi. Padahal mereka itu adalah pejabat publik yang digaji oleh uang rakyat, sehingga sudah seharusnya dimasa sulit ini peran mereka dinantikan untuk mendorong penguasa menolong penderitaan rakyat. Mengeluarkan kebijakan yang bisa meringankan beban derita rakyat, bukan malah menjadi stempel yang mengaminkan suara korporat.

Fakta di atas, semakin mempertegas wajah demokrasi yang sesungguhnya. Sistem politiknya mendorong lahirnya parpol dan politisi pengabdi kursi bukan pelayan kemaslahatan rakyat. Partai politik berlomba-lomba untuk mempertahankan kursinya dari pada sibuk mengurusi urusan rakyat. Rakyat diabaikan demi empuknya kursi jabatan dan kekuasaan.

Inilah cacat bawaan dari demokrasi, sebuah politik yang lahir dari ideologi kapitalisme sekuler, sistem yang menafikkan keberadaan agama dalam pengaturan kehidupan. Sistem yang menghapus rasa takut kepada Allah SWT. Inilah biang keladi yang melahirkam pejabat pengabdi kursi yang minim empati.
Fakta di atas tidak akan terjadi jika sistem Islam diterapkan dalam sebuah sistem pemerintahan. Karena sistem Islam memandang kepemimpinan adalah amanah yang dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat. Pengkhianatan terhadap amanah rakyat adalah dosa besar. Tersebab karena pemimpin terikat dengan hukum syariat dari Allah SWT. Seperti yang tertulis dalam sebuah hadis yang berbunyi: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR al-Bukhari dan Muslim).

Sistem Islam akan mendorong para pejabat dan penguasa selalu bersikap adil dan amanah, karena dorongan ketakwaan kepada Allah semata. Islam akan melahirkan pejabat yang bekerja meriayah umat dengan segenap kamampuannya.

Sejarah telah membuktikan, hanya sistem Islam yang bisa melahirkan para penguasa dan pejabat yang adil dan amanah. Sejak Nabi Muhammad SAW, hingga Khalafaur Rasyidin dan masa kekhilafahan sesudahnya telah melahirkan banyak contoh sosok penguasa yang adil dan amanah. Mereka adalah para penguasa dan pejabat ulung dalam mengatur pemerintahan. Mereka dicintai rakyatnya dan disegani oleh lawan ataupun kawan. Mereka terkenal dengan budi pekerti yang luhur dan amanah dalam meriayah semua lapisan masyarakat.

Oleh karena itu, sudah saatnya umat yang besar ini sadar akan pentingnya sebuah sistem yang bisa melahirkan penguasa dan pejabat yang takut kepada Allah SWT. Dan sistem itu tidak lain dan tidak bukan adalah sistem Islam yang diterapkan dalam sebuah pemerintahan. Perlu perjuangan untuk mewujudkan sebuah sistem yang diridhai Allah. Sehingga cita-cita melanjutkan kehidupan Islam di dunia ini bisa terlaksana. Sebuah sistem yang keberadaanya bisa mendatangkan rahmat ke seluruh alam. Tidakkah kita merindukannya? Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Isty da'iyah
(Pegiat Opini Islam)

Posting Komentar

0 Komentar