Ancaman Terorisme, Bahasa Arab Cirinya?

TintaSiyasi.com-- Lagi, Islam dikaitkan dengan terorisme, seakan Islam sebagai embrio terorisme. Berbagai tudingan terus disematkan kepada penganutnya. Mulai dari pakaian yang bercirikan Islam seperti celana cingkrang, bercadar, bergamis, bahkan pesantren tempat para santri belajar agama dianggap sebagai sarang teroris. Ketakutan terhadapan Islam dan kaum Muslim (Islamofobia) terus didengungkan hampir di seluruh belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Baru-baru ini pengamat intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati yang dikutip hops.id, selasa (7/9) menyampaikan kekhawatirannya bahwa anak muda kita sudah tak mau lagi hormat pada bendera RI, tak mau menyanyikan lagu Indonesia raya. Lalu diperbanyak Bahasa Arab. Penyebaran terorisme dengan memperbanyak Bahasa Arab sangat mengkhawatirkan generasi penerus bangsa.

Penyatakan Susaningtyas mendapatkan berbagai kritikan dari warganet bahkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat Muhammad Cholil Nafis angkat bicara. Kiai Cholil mengkritik pernyataan Susaningtyas Nefo Kertopati melalui akun media sosial Twitter-nya (8/9), “Mengamati atau menuduh. Gara-gara tak mengerti Bahasa Arab maka dikiranya sumber terorisme atau dikira sedang berdoa. Ini bukan pengamat tapi penyesat”. Tak hanya ketua MUI, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Dadang Kahmad juga menyayangkan pernyataan Susaningtyas dan menilai ini bagian dari Islamofobia (Republika.co.id, 08/09/2021).

Mendapatkan kritikan dari berbagai pihak akhirnya pengamat Intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati memberikan klarifikasi. Bahwa Dia tidak mungkin mengatakan umat Islam sebagai embrio terorisme. Meski telah mengklarifikasi tudingan tersebut, namun pernyataan sesat tersebut telah melukai umat Islam apalagi jika dikaitkan dengan Bahasa Arab yang merupakan Bahasa Al-Qur'an.


Framing Sesat Islamofobia

Sejak genderang perang global melawan terorisme (GWOT) kian mengudara dan menjadi tren topik dunia saat itu hingga kini, berbagai upaya dilakukan oleh Barat selaku pencetus dan pemeran utama dalam membasmi terorisme. Beragam bentuk aksi kebencian yang menyudutkan kaum Muslimin pun mulai dilakukan secara terang-terangan oleh kelompok anti-Islam di berbagai belahan bumi. Narasi terorime yang dikaitkan dengan Islam terus digencarkan hingga memunculkan sikap Islamofobia. Bahkan untuk kali pertama, dalam sejarah dunia berbagai perwakilan negara bertemu secara daring dalam rangka memperingati “hari dunia memerangi islamofobia” yang ditetapkan setiap tanggal 15 maret. Bahkan dewan khusus pelapor (special raporteur) dalam hal kebebasan beragama dan berkeyakinan, menyampaikan laporannya berjudul ‘Countering Islamophobia/Anti-Muslim Hatred to Eliminate Discrimination and Intolerane Based on Religion or Belief’. Dengan demikian, dua peristiwa penting tersebut secara jelas telah menyepakati dan mendukung secara aklamasi, kata ‘Islamofobia’ untuk dapat digunakan di dalam forum resmi meskipun digunakan secara bergantian dengan kata ‘kebencian anti-Muslim’. 

Secara bahasa, Islamofobia berasal dari dua kata, yaitu Islam dan fobia (ketakutan yang berlebihan). Jika ditarik maknanya, istilah tersebut didefinisikan sebagai prasangka atau ketakutan yang tidak wajar terhadap Islam dan kaum Muslimin. Kecemasan dalam fobia dialami apabila seseorang menghadapi objek atau situasi yang ditakuti atau dalam 
antisipasi akan menghadapi kondisi tersebut. Sebagai tanggapannya, orang 
menunjukkan tingkah laku penghindaran yang merupakan ciri utama semua fobia 
(De Clerq, 1994). Opini umum terkait Islamofobia terus berkembang  menjadi sebuah pemahaman, dan bahkan sampai kepada tindakan atau perbuatan yang menunjukkan kebencian terhadapat Islam. 

Dilansir Religion News, jajak pendapat menunjukkan, umat Islam semakin dilihat dari sudut pandang yang tidak menguntungkan. Sumber lain menyebut, laporan mencatat hampir empat dari 10 orang di Eropa memiliki pandangan negatif terhadap Muslim, mengacu pada survei yang dilakukan antara 2018 dan 2019. Laporan tersebut juga mengatakan, di seluruh dunia, penggambaran negatif dan sepihak dari Muslim di media telah berkontribusi pada kebangkitan Islamofobia. Laporan PBB mencatat studi Komisi Eropa Melawan Rasisme dan Intoleransi yang menemukan bahwa dari 600 ribu berita di Belanda pada 2016 dan 2017, terdapat kata sifat yang paling sering digunakan untuk menggambarkan Muslim adalah radikal, 
Rasa ketakutan dan kebencian akan Islam (Islamofobia) sejatinya telah ada sejak dulu karena pengaruh Islam yang pada saat itu mulai meluas dan membesar. Sehingga muncul kekhawatiran dan kecemasan di kalangan raja-raja di Eropa akan lenyapnya posisi politik dan kekuasaan mereka. Siapa sangka jika Islamophobia saat ini sengaja diciptakan Barat demi mencapai tujuan imperialisnya di atas umat Islam dunia. K. Mustarom, seorang peneliti Lembaga Kajian Syamina memaparkan bagaimana Islamofobia dijadikan alat politik untuk imprealisme. Ia pun mengingatkan, bahwa narasi Islamofobia mulai muncul untuk melegitimasi agenda politik gereja di Perang Salib.


Bahasa Arab, Bukan Bahasa Teroris, namun Bahasa Mulia

Tudingan Bahasa Arab sebagai ciri terorisme merupakan tudingan yang tidak berdasar. Ketidakjelasan terkait ciri-ciri terorisme akibatnya menyasar Islam dan umat Islam. Sejatinya Bahasa Arab adalah Bahasa Al-Qur'an, bahasa yang mulia. 

Ibnu Katsir menjelaskan keutamaan bahasa Arab beliau berkata menafsirkan ayat ini,

وذلك لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس؛ فلهذا أنزل أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة (8) أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرفشهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه

Yang demikian itu (bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia diturunkan (Al-Qur’an) kepada rasul yang paling mulia (Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam), dengan bahasa yang termulia (bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (Jibril), ditambah diturunkan pada dataran yang paling muia diatas muka bumi (tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (Ramadhan), sehingga Al-Qur’an menjadi sempurna dari segala sisi.” [Tafsirul Qur’an Al-Adzim 4/366].

Bagi umat Islam Bahasa Arab sangatlah penting, karena umat Islam memahami agamanya melalui Bahasa Arab. Bahkan para salaf dan ulama pun banyak yang memotivasi agar kita semangat belajar Bahasa Arab. Umar bin Khattab menegaskan bahwa Bahasa Arab adalah bagian dari agama. Beliau berkata,

تعلموا العربية فإنها من دينكم 

Pelajarilah bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian.” (Iqtidha’ shiratal mustaqim 527-528 jilid I, tahqiq syaikh Nashir Abdul karim Al–‘Aql].

Umat Islam dan Bahasa Arab sejatinya satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jangan sampai narasi Bahasa Arab sebagai ciri teroris semakin menjauhkan umat Islam darinya karena khawatir dan takut dicap sebagai teroris. Di salah satu materi perkuliahan kelas Sastra Arab Prog. Pascasarjana Jami'ah Dual al-Arabiyyah Cairo ada satu buku yang diajarkan berjudul: "At-Tafakuk wal Wihdah" (Disintegrasi dan Integrasi) menyebutkan bahwa salah satu upaya strategi para orientalis untuk menjauhkan umat Islam dari Al-Qur'an adalah dengan cara menjauhkan Bahasa Arab fushah dari orang Arab dan kaum Muslimin. Mereka dibuat asing dan tidak lagi mengenali Bahasa Arab yang menjadi bahasa wahyu Al-Qur'an.

Hal yang harus diingat oleh umat Islam bahwa hukum mempelajari Bahasa Arab adalah wajib, karena memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah itu wajib, dan keduanya tidaklah bisa dipahami kecuali dengan memahami Bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah di dalam ilmu ushul fiqh: sebuah kewajiban yang tidak akan sempurna (pelaksanaannya) kecuali dengan melakukan sesuatu (yang lain), maka sesuatu yang lain tersebut hukumnya juga menjadi wajib. Namun di sana ada bagian dari Bahasa Arab yang wajib ‘ain dan ada yang wajib kifayah.

Imam Asy-Syafi’i ra mengatakan,

فعلى كل مسلم أن يتعلم من لسان العرب ما بلغه جهده حتى يشهد به أن لا إله إلا الله وأن محمد عبده ورسوله ويتلوا به كتاب الله …

Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa Arab sekuat kemampuannya. Sehingga dia bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan dengannya dia bisa membaca kitabullah … “ (Ar-Risalah, 1/48). Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Trisnawati
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar