Visi Indonesia Emas Wujudkan Generasi Emas, Mungkinkah Kandas?


TintaSiyasi.com-- Pandemi Covid-19 sudah berlangsung satu tahun lebih,  berdampak tidak hanya di sektor kesehatan, juga di bidang ekonomi dan pendidikan. Banyak mahasiswa yang menghadapi dilema putus kuliah, karena status ekonomi orang tuanya menurun.  Mereka terancam tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal atau biaya kuliah lainnya.

Menurut survei yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia, 72 persen dari 3.321 mahasiswa mengaku kesulitan membayar biaya kuliah (mediajabodetabek.pikiran-rakyat.com, 21/7/2021).  Angka putus kuliah di perguruan tinggi mencapai sekitar 50 persen (JawaPos.com, 28/9/2020).

Kepala Lembaga beasiswa Baznas, Sri Nurhidayah mengatakan, " Krisis pandemi Covid-19 menyebabkan angka putus kuliah naik tajam". Sri mengutip data dari Kemendikbudristek, sepanjang tahun lalu angka putus kuliah di Indonesia mencapai 602.208 orang (JawaPos.com, 21/8/2021).

Tingginya angka putus kuliah seharusnya mendapat perhatian serius para pemangku kebijakan di negeri ini. Mengingat pemuda memegang peranan penting dalam estafet kepemimpinan bangsa dan pilar penyangga masyarakat.


Potensi Loss Generasi

Pemerintah telah mencanangkan Visi Indonesia Emas tahun 2045 dengan harapan terciptanya generasi produktif yang berkualitas. Yakni sumber daya  manusia unggul dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy mengatakan, "Masa depan Indonesia yang berdaya saing dan unggul berada di tangan 30,1% penduduk yaitu 79,55 juta anak Indonesia (kemenkopmk.go.id, 22/7/2020).

Potensi yang luar biasa untuk mewujudkan visi Indonesia mewujudkan generasi emas karena negara memiliki  bonus demografi. Hanya saja, segudang permasalahan mendera kalangan generasi kita, sejak sebelum pandemi. Pendidikan berbasis sekuler menghasilkan anak didik yang individualis, hedonis dan materialis. Kekerasan  dikalangan pelajar, seks bebas hingga terjerat narkoba sudah sering terjadi.

Untuk mengatasi banyaknya mahasiswa yang putus kuliah, mulai September 2021, Mendikbudristek, Nadiem Makarim akan mengeluarkan kebijakan  menyalurkan dana sebesar  Rp 745 miliar.  Dana tersebut untuk kelanjutan bantuan UKT bagi mahasiswa yang terdampak Covid-19 (Voaindonesia.com, 5/8/2021). 

Menurut Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Nasional (JPPI), Ubaid Mantraji,  meskipun ada keringanan seperti UKT serta kartu Indonesia Pintar a-Kuliah (KIP-K), persoalan belum terselesaikan.  Ada biaya tambahan di luar itu, seperti sewa kontrakan atau kost, makan, operasional dan akomodasi kuliah. 

Akhirnya, kuliah merupakan barang mahal, hanya orang yang punya kemampuan ekonomi saja yang bisa kuliah. Sementara ketersediaan kampus berbiaya murah masih sedikit. 

Menurut pengamat pendidikan, Ikhsyat Syukur, dampak pandemi Covid-19 di sektor pendidikan memang tidak langsung dirasakan saat ini. Ada kekhawatiran target Indonesia Emas di 2045, dengan generasi emasnya yang unggul dan produktif (bonus demografi), akan mengalami kemunduran. Lebih jauh, impak pandemi ini bisa mengakibatkan loss generasi (Mediaindonesia.com, 31/5/2021).

Putus pendidikan merupakan hal yang wajar di negara dengan pengelolaan menggunakan sistem  kapitalisme. Mekanisme pemenuhan hak dasar rakyat selalu bergulat dengan hitungan untung  rugi dan materi. 

Akhirnya, pendidikan yang merupakan hak dasar bagi setiap warga negara tidak bisa terpenuhi dengan baik. Untuk mendapatkan pendidikan tinggi, rakyat harus mengeluarkan biaya  mahal. Padahal, pendidikan bagi pemuda sangat menentukan estafet kepemimpinan masa depan bangsa.   

Loss generasi akibat pandemi akan semakin menjauhkan visi dan misi negeri ini mewujudkan  generasi emas. Lantas, adakah sistem yang menjamin pemenuhan hak dasar pendidikan sehingga terwujud generasi emas?


Islam Menjamin Hak Dasar Pendidikan

Rasulullah SAW bersabda,

الامام راع وهو مسؤول عن رعيّته

"Seorang imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya." (HR Bukhari dan Muslim).

Pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara.  Negara berkewajiban menyelenggarakan pendidikan yang baik dari PAUD hingga perguruan tinggi. Negara mengatur segala aspek yang berhubungan dengan pendidikan, dari kurikulum yang berbasis akidah Islam hingga penyediaan sarana dan prasarana yang layak dan memadai. 

Warga negara, baik Muslim maupun non-Muslim, miskin maupun kaya berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan setinggi-tingginya dengan nyaman dan tenang tanpa khawatir putus sekolah. Berdasarkan sirah Nabi SAW dan tarikh Daulah Khilafah Islam (Al-Baghdadi, 1996), negara menyelenggarakan pendidikan secara gratis dan kesempatan seluas-luasnya bagi warga negara untuk melanjutkan pendidikan ke tahapan yang lebih tinggi dengan fasilitas  yang disediakan negara. Tidak hanya peserta didik, kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Layanan pendidikan merupakan tanggung jawab negara yang diambil dari kas Baitul Mal.

Sistem pendidikan bebas biaya tersebut berdasarkan pada ijma' sahabat.  Pernah ada  Madrasah al-Muntashiriah yang didirikan Khalifah al-Muntahsir Billah di kota Baghdad. Di sekolah ini, setiap siswa menerima beasiswa berupa emas seharga satu dinar (4,25 gram emas). Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya oleh negara. Fasilitas sekolah  seperti perpustakaan beserta isinya, rumah sakit, dan pemandian disediakan negara.

Contoh lain, Madrasah an-Nuriah di Damaskus yang didirikan pada abad 6 H oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lengkap seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar, tempat peristirahatan, para pelayan, serta ruangan besar untuk kegiatan ceramah dan diskusi.

Sistem Islam mampu menghasilkan generasi emas yang cemerlang. Sistem Islam melahirkan ilmuwan-ilmuwan hebat dan  berpengaruh di dunia. Ibnu Sina ilmuwan perintis kedokteran, Al  Khawarizmi ilmuwan di bidang matematika, Ibnu Hayyan ilmuwan di bidang Kimia, Al-Jazari perintis di bidang robotika, Ibnu Nafis ilmuwan di bidang astronomi, Ibnu Haytham ilmuwan bidang sains, matematika dan pengobatan juga  Ibnu Firnas bersaudara penemu pesawat pertama kali sebelum Cartwright bersaudara. Segelintir contoh generasi yang lahir dari peradaban Islam, seorang ulama sekaligus ilmuwan.


Mengubah Paradigma

Sistem pendidikan sekuler  terbukti gagal menyelenggarakan pendidikan yang layak bagi warganya.  Pendidikan  berkualitas menjadi komoditas mahal, hanya orang-orang  mampu  yang bisa menjangkau hingga jenjang perguruan tinggi.  Dengan Kurikulum yang berbasis sekuler, melahirkan generasi yang individualis, hedonis dan materialis. 

Sistem sekuler  memisahkan agama dari kehidupan, hanya menghasilkan generasi yang miskin kepribadian dan kering dari nilai ruhiyah. Generasi yang hanya mengejar dan maju  pada aspek materi tetapi mengesampingkan aspek ruhani. 

Seyogyanya bangsa ini merubah paradigma cara pandang, mencari sistem alternatif yang mampu memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Sistem yang  terbukti mampu menghasilkan generasi emas pemimpin peradaban dunia.

Islam punya solusi atas karut marut dunia pendidikan. Sistem Pendidikan  yang  menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah.

Jadi visi bangsa Indonesia untuk mewujudkan generasi emas hanya terwujud ketika bangsa ini menerapkan Islam secara kaffah. Dan sejarah sudah membuktikannya. Wallahu a'lam. []


Oleh: Ida Nurhayati
(Komunitas Literasi)

Posting Komentar

0 Komentar