Penghinaan Islam Berulang, di Mana Peran Negara?

TintaSiyasi.com-- Penghinaan terhadap Islam  kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh seorang youtuber yang bernama Muhammad Kece. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas meminta polisi segera menangkapnya. Sebab pria tersebut sudah menghina dan merendahkan agama Islam. Menurut dia, Muhammad Kece sebelumnya beragama Islam, namun kini sudah pindah agama lain. Pernyataan Kece, kata dia sudah mengganggu kerukunan umat beragama.

Ketua PP Muhammadiyah ini menilai perbuatan Kece tidak etis dan memancing kemarahan umat Islam. Sebab ucapan Kece, menurutnya merendahkan dan menghina Allah SWT, Alquran dan Nabi Muhammad SAW.  

Menurut Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad, mengatakan, ucapan YouTuber Muhamad Kece (MK) yang menyinggung Nabi Muhammad SAW menjurus pada penistaan agama. Menurutnya, tindakan MK telah memenuhi unsur 156a KUHP.  Pasal tersebut berbunyi, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia, dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga, yang bersendikan ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

Polri telah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk memblokir sejumlah video Muhammad Kece yang diduga mengandung konten penistaan agama Islam.  Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, hal itu dilakukan karena video-video tersebut berpotensi menimbulkan kegaduhan. 

Kenapa  kasus penistaan agama ini terus berlangsung tanpa penyelesaian bagi pelakunya?  Padahal sangat jelas ucapan pelakunya mengandung  narasi  kebencian terhadap agama.  Hal ini menjadi indikasi bahwa negara tidak mampu menjadi tameng bagi agama mayoritas negeri ini.  Penzaliman terhadap umat Islam terus terjadi namun hanya berakhir dengan  permintaan maaf. Sementara kemarahan umat yang disalurkan dengan demo panjang tak juga bisa membawa pelakunya menerima hukuman yang membuat jera.  Umat akhirnya hanya diminta sabar dan tidak terprovokasi.

Semua ini berawal dari paham kebebasan yang diterapkan.  Padahal sudah ada UU Anti  Penodaan Agama.  Namun itu semua hanya berlaku di atas kertas.  Ulah para penista agama semakin menjadi-jadi. Mereka selalu berlindung di balik jargon liberalisme dengan aksi kebebasan berekspresi dan berpendapat yang dilindungi negara ini.   Pada akhirnya sikap plin-plan ditunjukkan oleh negara membuat mereka semakin punya nyali untuk mengobok-obok Islam dan menghinanya.

Hal berbeda jika yang terjadi adalah pelaporan mengenai pasal ujaran kebencian dan penghinaan pada para pendukung penguasa.  Aparat akan bertindak cepat dan tegas.   Begitu pula jika ada opini-opini nyeleneh yang bertentangan dengan Islam seperti childfree yang sekarang viral,  tidak pernah negara memproses hukum kepada pelakunya. Wajar bila  masyarakat menilai bahwa hukum saat ini tidak berpihak pada kepentingan umat Islam.

Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam.  Begitulah sabda  Nabi menyebutkan.  Maka keimanan seorang Muslim yang mendengar agamanya dihina akan disikapi dengan penuh pembelaan semata-mata karena dorongan akidah yang kuat.   

Namun di negeri sekuler, umat harus berjuang sendirian untuk menjaga agamanya dari penghinaan.  Umat harus melawan derasnya arus liberalisme yang meminggirkan peran agama dari kehidupan. Agama bukan sesuatu yang sakral yang wajib dilindungi dan dijaga oleh  negara.  Maka tidak mungkin berharap ketegasan dan tindakan keras dari negara bersistem sekuler kepada para penista agama.  

Satu-satunya harapan hanyalah kepada sistem Islam.  Islam dengan syariatnya yang menyeluruh memiliki tujuan-tujuan luhur. Salah satunya adalah menjaga agama dari penistaan.  Dalam negara yang diterapkan sistem Islam, tidak satu pun para penista agama dibiarkan bebas menghina agama. Mereka akan diberikan sanksi tegas yang memberikan efek jera sehingga yang lain tidak akan pernah berani berbuat hal yang serupa. 

Sikap Khalifah Abdul Hamid  menjadi teladan yang indah saat menyelesaikan  pelecehan terhadap Rasulullah SAW.  Beliau berkata pada duta Perancis, “Akulah Khalifah umat Islam Abdul Hamid! Aku akan menghancurkan dunia di sekitarmu jika kamu tidak menghentikan pertunjukan tersebut!”. Demikianlah, ketegasan dan kewibawaan ditunjukkan oleh pemimpin yang menerapkan syariat Islam.  Agama Islam akan terlindungi hanya melalui penerapan Islam secara kaffah melalui Daulah Khilafah. Oleh karena itu jangan berhenti menyerukan Islam kaffah diterapkan pada seluruh aspek kehidupan agar Islam terlindungi dan tetap menempati posisinya yang tinggi. Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Indah Kartika Sari  
(Freelance Writer)


Referensi:
- https://www.inews.id/news/nasional/mui-minta-polisi-tangkap-muhammad-kece-karena-hina-agama-islam
- https://republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/qy873b313/pakar-hukum-ucapan-muhamad-kece-bentuk-penistaan-agama
- https://www.limapagi.id/detail/GNBGS/dinilai-picu-kegaduhan-20-konten-video-muhammad-kece-diblokir-kominfo

Posting Komentar

0 Komentar