Partai Baru Harapan Baru, Solusi Hakiki atau Semu?

TintaSiyasi.com-- Jumlah partai di bumi pertiwi sangatlah banyak dengan corak yang beraneka ragam. Mulai partai yang jelas sekuler hingga partai yang mengatasnamakan Islam menyuguhkan harapan kebangkitan ummlat. Setiap walimah politik, partai akan melakukan sejumlah prosedur untuk bisa berpartisipasi dalam acara lima tahunan tersebut. Kursi pemerintahan menjadi tujuan dengan alasan untuk mengubah keadaan dan nasib rakyat.

Di masa pandemi ini, walimah politik tetap berjalan. Sebutlah pilkada pada akhir tahun 2020 tetap terselenggara meski menabrak prokes. Kini, di tengah pandemi, sebagian partai sudah unjuk gigi lewat perang baliho menuju 2024. Di tengah hiruk-pikuk pandemi yang belum usai, Partai Ummat kini muncul ke permukaan sebagai parpol yang telah memiliki izin legal formal.

Sebagaimana dilansir detik.com (28/8/2021), Partai Ummat resmi mendapatkan SK dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) terkait pengesahan badan hukum Partai Ummat. Partai Ummat mengaku siap menjadi peserta Pemilu 2024.

"Dengan resminya Partai Ummat sebagai partai politik yang siap bertarung dalam Pemilu 2024, Partai Ummat mengajak semua anak bangsa yang mempunyai aspirasi politik sama, yaitu 'melawan kezaliman dan menegakkan keadilan', untuk bergabung dengan Partai Ummat," ungkap Ketua Umum Partai Ummat Ridho Rahmadi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (28/8/2021).


Huru-Hara Problematika

Tak dimungkiri, problematika umat selalu terjadi, tak pernah surut dari kehidupan. Krisis multidimensi menempel kuat pada individu rakyat yang imannya tak kuat. Terutama, negara tak memiliki standar jelas terkait aturan baku yang padu dan sepadan dalam kehidupan. Justru, sistem kapitalisme dengan akidah sekularisme, yakni memisahkan agama dengan kehidupan membuat negara ini larut dalam permasalahan.

Kezaliman kian meradang. Sistem kapitalisme memang mendorong negara berbuat abai pada problematika kehidupan umat, bahkan semakin memperparah keadaan. Asas manfaat menjadi acuan utama bagi negara dan individu rakyat untuk menjalani kehidupan dengan bebas. Banyaknya parpol di negeri ini seakan tak mampu mengurai persoalan demi persoalan. Justru parpol-parpol tersebut, sekalipun bernapas Islam seakan ikut larut dan hanyut dalam ritme sistem yang ada di tampuk kekuasaan. Tak jarang kader dan pengurus parpol juga terjerat segudang masalah yang menzalimi rakyat, seperti korupsi dan merosotnya akhlak.

Sederet petinggi partai ada yang terlibat kasus suap, korupsi, perselingkuhan, dan lain sebagainya. Kepentingan pribadi dibiarkan mendominasi dalam setiap perilaku saat mereka menjabat. Maka, asas manfaat dan paham liberalisme yang telah menyatu dalam diri membuat mereka berpaling dari cita-cita mulia untuk mengubah keadaam negeri dan kondisi rakyat. Kesejahteraan dan keamanan rakyat tak lagi terjamin dalam pusaran parpol yang telah berpaling.

Hadirnya partai baru, yakni Partai Ummat tentu membawa harapan atas angin perubahan yang berembus kencang. Partai baru harapan baru tentu menghadirkan kebahagiaan. Hilangnya kezaliman akan membuat kehidupan aman dan damai. Akankah partai baru harapan baru menjadi solusi hakiki atau justru menjadi solusi semu seperti partai Islam yang muncul terlebih dahulu.

Al-Qur'an dan As-Sunnah yang disebut-sebut sebagai landasan akankah diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan saat partai baru itu meraih kekuasaan. Allahu a'lam. Tak ada yang tahu seperti apa ke depan keteguhan partai baru dalam menggenggam tauhid. Jika ditelaah lebih mendalam, setiap parpol yang terjun dalam arus walimah demokrasi, mereka masih enggan menerapkan syariat Islam dengan segudang alasan. Alasan yang paling krusial adalah, negara ini negara demokrasi. Maka, mau tak mau, syariat Islam harus dipinggirkan. Maka, harapan semu yang ada pada partai baru jika masih tunduk pada sistem yang ada. Naudzubillah.


Partai Politik dalam Islam

Sejatinya parpol Islam bukan sekadar nama yang berbau Islam, namun segala visi misi dan AD/ART-nya bernapaskan Islam, partai ideologis berasaskan Islam. Itulah parpol yang shahih (benar). Pemikiran partai adalah ruh bagi tubuh partai, intisari, sekaligus rahasia hidupnya. Bibit awal (khaliyatul ula) partai adalah orang yang menyatu dengan ide (fikrah) dan metode perjuangan (thariqah) partai hingga ia memiliki pemikiran yang bersih dan suci sekaligus memiliki metode perjuangan yang jelas dan lurus (Muhammad Hawari, Politik Partai).

Seorang dalam partai yang shahih akan memiliki keistiqamahan dalam perkataan yang muncul dari fikrah dan thariqah-nya. Rasulullah Muhammad SAW telah menjalankan thariqah perjuangan yang jelas dan lurus. Beliau dan para sahabat tidak pernah takut akan celaan dan hinaan, bahkan beliau dan para sahabat mengalami penyiksaan dan pemboikotan. Kutlah Rasulullah tidak pernah berpaling karena adanya tawaran harta, tahta, ataupun wanita. Rasulullah tsiqah berjuang dengan mengemban ideologi Islam.

Ikatan yang terjalin dalam partai politik Islam adalah ikatan akidah Islam. Akidah Islamiyah yang menjadi satu-satunya sumber yang memancarkan falsafah, konsep dasar, dan tsaqafah partai, yakni  Islam semata. Syekh Taqiyuddin An Nabhani menjelaskan terkait tsaqafah partai ialah tsaqafah Islam. Pengkajian dan pemahaman partai politik Islam harus merujuk pada Bahasa Arab serta pengetahuan tentangnya. Oleh karena itu, sumber tsaqafah partai adalah akidah Islam dan pengetahuannya adalah pengetahuan tentang Bahasa Arab, tidak ada yang lain.

Jika partai politik telah menjadikan tsaqafah dan akidah Islam sebagai tsaqafah dan ikatan dalam mengikat anggotanya, maka lahirlah partai shahih. Partai tersebut dibangun di atas asas keimanan, kesadaran, dan keikhlasan terhadap tsaqafah Islam. Tatkala partai mulai mengarungi bahtera kehidupan, maka ia akan menjumpai hawa panas dan dingin silih berganti. Partai juga akan menemui terpaan angin yang kencang atau sepoi-sepoi. Partai tersebut pun tak kan luput dari sentuhan udara yang bersih dan kotor. Namun demikian, partai politik Islam tetap fokus menjaga umat dan fokus pada tujuan utamanya, melanjutkan kehidupan Islam.

Partai politik dalam Islam akan bersungguh-sungguh memutus rantai raksasa kapitalisme yang tertancap dalam benak umat. Gerakan jamaah partai akan diemban hingga mampu memberi hawa panas bagi ide kufur yang sedang diterapkan. Sementara pembinaan intensif tentang tsaqafah Islam tetap dijalankan bagi kader partai. Dakwah jamaah senantiasa ditegakkan demi meraih pertolongan Allah untuk melenyapkan kezaliman di muka bumi. Inilah harapan hakiki dari partai Islam, yakni lenyapnya sistem kufur. Saatnya kaum Muslim menyamakan persepsi, perasaan, dan peraturan dalam bingkai akidah Islam. Wallahu a'lam. []


Oleh: Afiyah Rasyad
(Aktivis Peduli Ummat)

Posting Komentar

0 Komentar