Menyongsong Hijrah Penuh Gairah

TintaSiyasi.com-- Tak terasa kita telah berada di penghujung tahun 1442 Hijriyah. Bulan Dzulhijah tinggal beberapa hari lagi, itu artinya sebentar lagi tahun berganti. Sampai di sini ada satu hal yanag patut kita semua renungkan. Sayyidina Umar bin al-khaththab ra pernah berpesan, “Berintrospeksi dirilah serta hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah di akhirat, red)”.

Sungguh, Islam mengajarkan kepada kita untuk banyak melakukan introspeksi dan kemudian membuat perubahan positif, agar kita termasuk ke dalam golongan orang-orang  yang beruntung. Oleh karena itu, satu hal yang patut kita renungkan adalah, bahwa sering kali kita merasa aman dan nyaman, enggan melakukan perubahan, enggan membuat kemajuan. Lalu bagaimana kita akan bersaksi di hari penghisaban?

Apakah kita sudah termasuk ke dalam pengidap inersia, statis lebih kita sukai daripada dinamis bergerak maju sekalipun satu centi demi satu centi? Ataukah kita pengidap impuls homeo statis, yang cenderung mengikuti daya tarik ke dalam zona nyaman, enggan melakukan move on dari kita yang usang di masa lalu? Ataukah kita seorang yang memiliki kecenderungan untuk selalu bebal ketika menerima nasihat dalam banyak hal, padahal ada saatnya satu nasihat sangat kita butuhkan untuk sebuah kemajuan?

Ataukah kita termasuk orang-orang saat ini dengan sadar sedang mengumpulkan sebanyak-banyaknya penyesalan di masa depan karena kita lebih suka berdalih dari pada segera mengambil keputusan untuk berinvestasi kebaikan dan keshalihan? Tidakkah kita takut pada suatu hari, di mana penyesalan menjadi milik semua orang. Bahkan orang yang paling baik amalnya pun menyesal.  

Muhasabah atau introspeksi diri ini sangat penting dilakukan terus-menerus. Tentu agar setiap dari kita bisa memperbaiki diri atau ber-“hijrah”. Saat ini, di dunia ini, sekaranglah waktu kita menghisab diri. Di mana posisi kita antara dosa dan pahala, antara kemaksiatan dan ketaataan, antara neraka dan surga? Di mana posisi kita terhadap Islam dan syariahnya, juga di tengah umat Islam? Sejauh mana berbagai larangan Allah SWT telah ditinggalkan? Sejauh mana perintah-Nya telah dikerjakan?

Hijrah secara bahasa berasal dari kata هجر  yang artinya berpindah dari suatu tempat ke tempat lain; dari suatu keadaan ke keadaan lain (Ash-Shihhah fil al-Lughah, II/243, Lisan al-”Arab, V/250; Al-Qamus al-Muhith, I/63). Jadi hijrah di sini identik dengan perubahan. Tentu perubahan ke arah yang baik. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai dan mendapatkan kebaikan.

Hijrah itu terjadi karena adanya kesadaran tentang perlunya perubahan dari keadaan yang sedang eksis ke keadaan baru yang ingin diwujudkan. Kesadaran itu tentu muncul karena adanya muhasabah atau introspeksi diri. Jadilah hal ini sangat penting dan tidak boleh ditunda-tunda. Terlebih Rasulullah SAW, kekasih kita semua, telah berpesan: 

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ، وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْ تِكَ

Jagalah 5 perkara sebelum 5 perkara. Jagalah masa mudamu sebelum tuamu. Sehatmu sebelum sakitmu. Kayamu sebelum miskinmu. Masa luangmu sebelum masa sempitmu. Dan hidupmu sebelum matimu.

Terdapat beberapa hal yang harus kita tapaki satu demi satu. Tujuannya agar hijrah kita menjadi layaknya sebuah energi positif yang menggairahkan. Tidak hanya bagi kita, namun juga bagi orang-orang di sekitar kita.

Kiat pertama untuk mengawali perubahan adalah meninggalkan seluruh hal yang Allah larang atas setiap hamba-Nya. Sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW ketika ditanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang berhijrah itu?” Beliau menjawab: “Dialah orang yang meninggalkan perkara yang telah Allah larang atas dirinya.” [HR Ahmad].

Meninggalkan seluruh larangan Alah tidak menuntut kemampuan. Karena untuk tidak melakukan itu seharusnya jauh lebih mudah dari pada tuntutan melakukan. Jika tuntutan melakukan membutuhkan curahan effort agar kita mampu secara maksimal, sedangkan untuk tidak melakukan kita hanya butuh rem sehingga berhenti dari melakukan.

Dalam sebuah riwayat lain Rusul SAW bersabda:

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَن الشَيْءٍ فَجْتَنِبُوهُ، فَإِذَا أَمَرَتُكُمْ بِالشَيْءٍ فَائْتُوا مِنهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Jika aku melarang kalin dari sesuatu maka tinggalkanlah dan jika aku memerintahkan sesuatu maka lakukanlah sesuai batas kemampuan kalian.“ [HR Ahmad, al-Bukhari dan Muslim].

Dengan demikian setiap Muslim harus segera berhenti dari apa yang Allah larang dan meninggalkannya, sekaligus segera menjalankan berbagai ketaatan kepada-Nya. Dengan dua spirit ini, setiap Muslim akan menjadi sosok yang semakin hari semakin taat. Ketaatannya pun akan melahirkan kecintaan kepada syariah Islam, hingga akhirnya dia akan merindukan sebuah tatanan kehidupan yang Islami. Yaitu kehidupan yang diatur sesuai dengan syariah Islam.

Ini mengisyaratkan bahwa secara individual setiap Muslim tak boleh berhenti berubah ke arah yang lebih baik sesuai tuntunan dan tuntutan syariah, menuju totalitas ber-Islam dan melaksanakan syariah Islam secara kaffah.

Adapun kiat kedua yang harus kita lakukan adalah melakukan muhasabah atas kondisi umat Islam saat sekarang ini. Keadaan umat Islam di negeri ini hari ini sedang tidak baik-baik saja. Tidak hanya karena pandemi virus corona, akan tetapi kondisi secara umum umat dilingkupi berbagai kerusakan. 

Allah SWT berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [TQS Ar Ruum [30]: 41].

Akan tetapi, menjaga ketaatan di tengah kehidupan yang masih diliputi oleh banyak kerusakan, mau tidak mau butuh energi yang jauh lebih besar. Karena dunia seolah berputar menarik kita kepada arus masa lalu, kalau bukan menarik kita pada arus kebanyakan orang. Sehingga kita membutuhkan kiat ketiga yaitu kita harus mengambil peran melakukan perubahan, dengan mengajak masyarakat di sekitar kita berhijrah sebagaimana kita berhijrah. 

Terlebih Allah SWT telah mensifati umat Islam dengan sifat khayru ummah (umat terbaik), akan tetapi kondisinya saat ini justru sangat jauh dari yang diharapkan. Karena memang sifat khayru ummah (umat terbaik) tidak datang secara otomatis. Dikarenakan dalam mewujudkannya membutuhkan upaya sungguh-sungguh, sistematis dan politis.

Dalam hal ini Allah SWT memberikan kita sebuah panduan dalam firman-Nya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”  [TQS Ali Imran [3]: 110].

Di dalam ayat tersebut Allah SWT memberi karakteristik khayru ummah (umat terbaik) yaitu melakukan amar makruf nahi munkar (menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari kemungkaran) dan mengimani Allah SWT. Terkait hal ini, seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasul SAW, saat itu beliau sedang di atas mimbar. “Siapakah manusia terbaik?”, maka Rasul SAW menjawab:

خَيْرُ النّاسِ أقْرَؤهُم و أتْقاهُم للّهِ و آمَرُهُم بِالمَعرُوفِ، و أنهاهُم عَنِ المُكَر، و أوصَلُهُم لِرّحِم

Manusia terbaik adalah yang paling banyak membaca dan memahami (Al-Qur’an), yang paling bertakwa kepada Allah, yang paling banyak melakukan amar makruf nahi munkar dan yang paling sering menyambung silaturahim.” [HR Ahmad].

Secara umum karakteristik umat terbaik itu adalah mengimani Allah, melakukan amar makruf nahi munkar, mengikuti sunnah Rasul SAW dan melaksanakan syariah. Dengan demikian kesempurnaan sifat khayru ummah (umat terbaik) itu akan terwujud jika umat Islam beriman dan bertakwa. Ketakwaan umat harus tampak dalam kehidupan mereka, termasuk dalam pengelolaan kehidupan masyarakat dalam segala aspek kehidupannya.

Namun sayangnya potret sebagai khayru ummah (umat terbaik) masih jauh dari sifat yang dimiliki umat, maka kita membutuhkan kiat keempat. Yaitu perlu adanya sebuah pergerakan terarah juga perjuangan politis. Di sinilah kita perlu berada dalam barisan agen perubahan dalam rangka menyambut seruan Allah SWT berikut ini.

Allah SWT berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [TQS Ali Imran [3]: 104].

Sehingga, sekalipun sebagian umat sudah dan terus melakukan amar makruf nahi munkar, namun gerakan ini belum ditujukan kepada penguasa. Padahal muhasabah lil hukam (koreksi kepada penguasa) sangat diperlukan, mengingat kemungkaran penguasalah yang paling besar menimbulkan keterpurukan umat. Kemungkaran terbesar penguasa tentu saja saat mereka tidak menerapkan Islam secara kaffah.  

Demikianlah insyaallah beberapa kiat yang dapat kita lakukan, sehingga “hijrah” kita akan semakin menggairahkan. Karena memang keempat hal inilah yang sangat kita perlukan. Dan juga karena perubahan atau “hijrah” harus dilakukan bukan hanya pada tataran individu, tetapi juga pada tataran masyarakat, yakni perubahan menuju ketaatan kepada Allah SWT secara total. Semua ini hanya bisa diwujudkan dengan penerapan syariah Islam kaffah di dalam seluruh aspek kehidupan. Inilah tanggung jawab seluruh komponen umat Islam, saya dan juga Anda semua di sana. Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Qawlan Sadiidan
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar