Makna Hijrah Hakiki Peringatan 1 Muharam

TintaSiyasi.com-- Tiap Tahun Baru 1 Muharam, Muslim memperingati peristiwa hijrah Nabi SAW dari Makkah ke Madinah. Walaupun peringatan ini sudah dilewati, namun memahami esensi peristiwa hijrah Rasulullah SAW harus senantiasa digali. Umumnya bagi Muslim, hijrah Rasulullah SAW beserta kaum Muslim dulu adalah karena ingin beralih dari penyiksaan musyrikin Quraisy di Makkah. Penyiksaan tersebut sangat berat sehingga membuat pilihan bagi Rasul untuk hijrah ke Madinah. Namun, apakah benar Rasul hijrah ke Madinah akibat penyiksaan dari kaum musyrikin? Bukankah Rasul orang yang kesabarannya tidak diragukan lagi bahkan sebaik-baik contoh orang yang memiliki kesabaran yang tidak perlu diragukan. 

Maka, bagi siapa pun yang menelaah sirah, jawaban atas hijrah Rasul SAW ke Madinah yakni karena atas pertimbangan dalam meningkatkan tahapan dalam Islam. Selama sepuluh tahun Rasulullah sabar dan berjuang mendakwahkan Islam di Makkah baik secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan mampu menghasilkan pengikut yang kian bertambah. Tetapi di balik itu semua, penerimaan Islam baru sebatas individu sementara penguasa tetap dalam keadaan dangkal dan bebal, sehingga tetap teguh mempertahankan sistem jahiliyah. Maka kondisi dakwah ini diarahkan kepada masyarakat lain yang siap untuk menerapkan Islam secara keseluruhan baik dari sisi individu, masyarakat dan negara. Lalu Allah berikan pertolongan melalui penduduk Yatsrib yang atas kepercayaannya pada Rasul dan menyerahkan baiat pada Rasulullah. 

Maka bagi sesiapa yang rutin menggelar peringatan 1 Muharam, maka fokusnya tidak akan lepas pada perenungan mendalam tentang bagaimana memperjuangkan sistem kufur layaknya sistem jahiliyah dulu menjadi sistem yang penuh berkah (sistem yang bersumber dari Allah). Sehingga umat Islam tidak akan pernah terjebak pada seremonial peringatan tahun baru 1 Muharam yang tanpa arti. Namun, senantiasa berjuang demi melanjutkan kehidupan Islam secara total di bawah naungan khilafah. Karena tak layak jika umat Islam hanya sebatas mengikuti gelar peringatan tahun baru Islam, namun belum menggugah kesadaran bahwa umat wajib terikat seluruhnya dengan hukum-hukum Islam. 

Begitulah cara benar bagi umat Islam dalam setiap tahun menggelar peringatan peristiwa besar hijrah Rasulullah. Semangat hijrah pada umat Islam sepatutnya tidak berhenti pada perbaikan individu, namun diarahkan untuk mewujudkan perbaikan hakiki dengan hijrah hakiki menuju terwujudnya negeri baldatun thayyibah wa rabbun ghafur. Berarti dalam konteks Indonesia, hijrah dikatakan totalitas ketika ekonomi ribawi tidak lagi dipraktikkan, kehidupan sosial liberal-hedonis dicampakkan, dan hukum-hukum Allah yang seluruhnya terterapkan (bukan parsial). Begitulah esensi dalam memperingati 1 Muharam, semoga perjuangan dan harapan menjadikan sebuah negeri penuh dengan kemakmuran dan berlimpah keberkahan senantiasa tertanam dalam diri. Amin. []


Oleh: Durriyatut Tayyibah
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar