Keluarga Taat Syariat, Benteng Keluarga Moderat

TintaSiyasi.com-- Arus moderasi beragama tak henti mengalir di tengah masyarakat. Alih-alih mengangkat derajat umat Islam, ide ini justru kian mengaburkan dan menyesatkan ajaran Islam kaffah, mendangkalkan keimanan, bahkan merusak akidah sehingga umat jauh dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Barat sebagai pencetus ide moderasi telah membangun profil atau konsep atas keluarga Muslim sebagai ‘Keluarga Moderat’, yang kemudian oleh kalangan pejuang Islam moderat dengan berbagai penafsiran dalil diklaim sebagai ‘Keluarga Sakinah’. Lantas bagaimana potret keluarga moderat itu? Dan bagaimana cara membentengi agar tidak terjerumus ke dalam arus moderasi keluarga?


Profil Keluarga Moderat

Keluarga adalah institusi terkecil dan pertama yang menjadi tempat penanaman konsep dan nilai-nilai prinsip dalam kehidupan pada anggota keluarganya. Sehingga, keluarga memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan generasi dan masyarakat. Hal ini tentu sangat disadari oleh Barat. Oleh karena itu, arus moderasi ini tidak cukup dituangkan dalam berbagai kebijakan pemerintah terkait perempuan, anak, kurikulum pendidikan, penanganan ekstrimis teroris dan sebagainya. Moderasi ini harus diaruskan dalam ranah keluarga sehingga terbentuk profil keluarga Muslim yang dianggap “baik” oleh masyarakat umum.

Para pegiat moderasi lantas merumuskan karakter dan prinsip keluarga Muslim moderat antara lain pertama, keluarga moderat menjadikan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) sebagai landasan; bukan agama atau akidah Islam. Kedua, relasi keluarga dibangun atas kesetaraan atau kesalingan sesuai kesepakatan bersama. Sekuler mendudukkan laki-laki dan perempuan dalam posisi ‘persaingan’ yang menyebabkan ada dominasi dan ada yang terintimidasi. Ketiga, konsep kebahagiaan diukur oleh kebahagian materi dan dunia sesuai kesepakatan bersama. Keempat, standar amal mengarah pada kebebasan serta mencampurkan yang hak dan batil. 

Sekilas konsep ini begitu manis, mendamaikan, memunculkan harapan akan keharmonisan dan keadilan. Namun bila ditelaah lebih jauh, ada kesetaraan sebagai asas semua relasi dalam keluarga. Setara antara suami dengan istri dan anak dengan orang tua; yang artinya bila dikaitkan dengan hukum syariah terkait tanggung jawab pendidikan keluarga akan mengakibatkan terjadinya beberapa pertentangan. Karena dengan setara, tidak boleh ada dominasi dan intimidasi. 

Lalu bagaimana dengan kewajiban orang tua agar melakukan pembiasaan kepada anak-anaknya yang berusia 7 tahun untuk melakukan shalat dan memukul kakinya pada usia 10 tahun bila tidak mau sholat? Juga bagaimana suami yang melakukan ta'dib atas istrinya yang nusyuz, seperti menasihati, memisahkan tempat tidur bahkan boleh memukul dengan pukulan yang tidak menyakitkan? Dan kalau kita perhatikan, konsep setara ini merupakan ide khas dari kesetaraan gender-feminis. Dapat dikatakan, hakikat keluarga moderat adalah keluarga sekuler bahkan liberal, yang tidak menjadikan agama sebagai landasan.

Demikianlah, Barat telah menetapkan konsep dan standar baik-buruk tentang karakter manusia, termasuk memaksakan identitas tersebut untuk disematkan pada Islam dan kaum Muslimin. Terbagilah umat Islam ini sesuai keinginan Barat dalam memberi stigma Muslim yang baik dan buruk. Umat Islam sendiri sudah lama dalam posisi tertuduh, dijajah dan meninggalkan Islam kaffah sebagai tuntunan kehidupannya. Islam dianggap mendiskriminasi perempuan, tidak mengikuti kemajuan zaman, radikal, fanatik, intoleran dan lain-lain. Sehingga saat tuduhan itu disematkan, umat berusaha untuk membela dan membuktikan bahwa Islam tidak seperti yang dituduhkan Barat; namun justru dengan cara mengikuti apa yang ditetapkan Barat dalam mengidentifikasi baik dan buruk. Saat Barat mengatakan bahwa yang baik itu yang moderat, tidak radikal, maka berlomba-lombalah sebagian umat mengklaim bahwa Islam juga moderat. Termasuk mencari dalil-dalil yang cocok untuk menguatkan pendapat mereka. Sebagian ada yang sadar melakukannya bahkan bersedia menjadi agen kepentingan Barat, sebagian lain melakukannya tanpa disadari. 

Padahal, istilah moderat atau moderasi ini adalah istilah baru yang bukan berasal dari Islam. Tidak pernah ditemukan istilah ini dalam literatur khasanah pemikiran dan fikih Islam sebelumnya. Istilah moderat adalah istilah yang dimunculkan dengan sengaja sebagai arus global kebijakan Barat terkait Global War on Terorisme, yang mengarahkan arti terorisme itu selalu kepada kebangkitan Islam politik-ideologis. Hakikat keluarga moderat adalah keluarga sekuler bahkan liberal. Oleh karena itu, untuk membentengi dari arus keluarga moderat, harus dibangun profil keluarga Muslim yang taat pada syariat serta keluarga sakinah yang merujuk pada tuntunan syariah.


Profil Keluarga Muslim

Beberapa karakter keluarga Muslim antara lain:

Pertama, berlandaskan agama. Agama diwujudkan dalam kehidupan melalui tegaknya aturan-aturan Allah.

Kedua, relasi dalam keluarga dibangun berdasarkan peran yang ditetapkan syariah.

Ketiga, secara insaniyah, Islam menetapkan beban (taklif) hukum yang sama antara laki-laki dan perempuan. Contohnya dalam hal menuntut ilmu, kewajiban untuk melakukan ibadah, kewajiban untuk berdakwah dan sebagainya. Sementara secara jenis (jinsiyah), Islam telah menetapkan peran berbeda antara laki-laki dan perempuan. Namun perbedaan peran ini bukan bentuk diskriminasi dan dominasi, namun dalam rangka kerja sama ibadah kepada Allah SWT dan berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Pada faktanya kerja sama akan terwujud ketika ada perbedaan peran yang saling mendukung, ibarat pasangan mur dengan bautnya yang saling melengkapi sehingga dapat berfungsi baik. Justru konsep setara dan peran yang sama, akan mengagungkan egoisme yang berdampak pada sulitnya proses kerja sama tatkala kata sepakat tidak tercapai.

Keempat, standar amal adalah hukum syariah. Dalam keluarga yang taat syariah, tidak akan ada pembiaran pelanggaran dan pengabaian terhadap hukum syariah. Keluarga Muslim harus peduli, tidak boleh acuh atas kondisi kehidupan. Karena visi keluarga Muslim bukan hanya membangun kebahagian dan takwa di dunia saja tapi juga menembus alam akhirat. Level ketakwaan bukan hanya pada batas keluarga, namun sampai ke level masyarakat, negara dan dunia. Oleh karena itu, aktivitas mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar ma'ruf nahi munkar) menjadi ciri keluarga amuslim taat syariah.


Cara Membentengi Keluarga dari Arus Moderasi

Sungguh sangat berbeda profil keluarga moderat dengan keluarga Muslim. Dengan masifnya ide keluarga moderat di tengah masyarakat, perlu ada benteng agar tidak semakin tergerus arus. Caranya yakni dengan memupuk kesadaran dan pemahaman bahwa Islam adalah ideologi, dan terus membina diri dengan Islam. Umat pun harus disadarkan. Di sinilah peran keluarga ideologis untuk melakukan interaksi dengan masyarakat agar umat terbina pemikiran dan perasaannya dengan Islam sehingga memiliki benteng dari serangan Islam moderat.

Umat juga harus disadarkan bahwa problem utama masyarakat adalah kerusakan, penderitaan, kemiskinan, kesengsaraan, kemaksiatan dan penjajahan sebagai akibat penerapan sistem kapitalisme dalam kehidupan dan ketiadaan penerapan Islam kaffah. Kemiskinan keluarga, kekerasan terhadap perempuan, tingginya kriminalitas, kerusakan moral, korupsi, pandemi yang tidak jua mereda, itu semua bukan karena tidak diterapkannya Islam moderat yang dianggap dapat memajukan peradaban. Justru itu merupakan akibat dari penerapan sistem kapitalis sekuler liberal yang telah merampas harta milik umat, memarjinalkan, memiskinkan, dan memalingkan umat dari ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.

Saatnya membentengi keluarga dari arus moderasi dengan membentuk keluarga taat syariah, menularkan pemahaman, membuat umat panas akan kesadaran terhadap sistem Islam sebagai satu-satunya solusi bagi kehidupan, mengusir para penjajah dan membangun peradaban yang penuh berkah. Wallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Noor Hidayah 
(Pemerhati Sosial)

Posting Komentar

0 Komentar