Kampus Kurikulum Industri, Memajukan atau Membahayakan Generasi?


TintaSiyasi.com-- Dikutip dari Kompas.com (27 Juli 2021), Presiden Joko Widodo meminta perguruan tinggi melibatkan berbagai industri untuk mendidik para mahasiswa. Dalam Konferensi Forum Rektor Indonesia yang ditayangkan YouTube Universitas Gadjah Mada, Selasa (27/7/2021), ia mengajak industri ikut mendidik para mahasiswa sesuai dengan kurikulum industri. Bukan kurikulum dosen, agar para mahasiswa memperoleh pengalaman yang berbeda dari pengalaman di dunia akademis semata. 

Menurutnya perlu ada kolaborasi antara perguruan tinggi dengan para praktisi dan pelaku industri di  era yang penuh disrupsi seperti sekarang ini. Kurikulum seharusnya memberikan bobot SKS yang jauh lebih besar untuk mahasiswa belajar dari praktisi dan industri.

Sebenarnya wacana tentang kurikulum industri di kampus sudah pernah direncanakan. Perubahan kurikulum ini dianggap urgen karena menghadapi revolusi industri 4.0  atau revolusi industri dunia keempat dimana teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Namun, apakah rencana ini memang benar-benar bagus? Apakah akan memajukan atau justru membahayakan generasi?

Sebagaimana diketahui, faktanya memang benar banyak lulusan sarjana saat ini menganggur, karena tingginya persaingan kerja. Terlebih setelah  Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015, rakyat harus bersaing dengan tenaga kerja asing.

Apa sebenarnya tujuan kebijakan ini? Tujuan dari program ini adalah diharapkan akan melahirkan tenaga kerja kompeten yang siap menghadapi industri kerja yang kian berkembang. Para mahasiswa harus mampu menjadi industriawan yang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan status sosialnya. Akan tetapi justru yang dikhawatirkan dari rencana ini nantinya adalah diuntungkannya para korporasi yang akan memeras tenaga anak bangsa. Sementara kita tetap menjadi buruh atau pekerja. Padahal negara pun memerlukan para tokoh, ilmuwan, cendekiawan yang berprestasi dan berkualitas yang akan memajukan bangsa. Ilmu, ide dan kontribusi mereka sangat dibutuhkan untuk kemajuan negeri ini. 

Tidak hanya perguruan tinggi, jenjang setara SMA yakni SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan sudah lama dengan program vokasinya agar mereka bisa bekerja setelah lulus sekolah. Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2020 akan melakukan sinkronisasi kurikulum SMK terhadap kebutuhan industri. Artinya, SMK akan diberi keleluasaan berkolaborasi dengan industri untuk merancang kurikulum.

Inilah watak sistem kapitalisme yang materialistik. Output pendidikan diarahkan agar setelah lulus dapat bekerja dan menghasilkan uang semata. Mereka pun diarahkan menjadi pekerja yang tentunya akan menguntungkan para pengusaha dan perusahaan. 

Lantas bagaimana sebenarnya pendidikan menurut Islam? Pendidikan dalam Islam merupakan hal penting dan kebutuhan dasar manusia. Pendidikan akan diberikan secara gratis dan berkualitas kepada rakyat. Berbagai sarana dan prasarana akan disediakan oleh negara secara memadai.

Sementara itu, dalam sistem pendidikan Islam yang diterapkan oleh khilafah, asasnya adalah akidah Islam. Pendidikan diselenggarakan bertujuan untuk membentuk siswa yang berkepribadian Islam yakni memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Selain itu, mereka pun didorong untuk menjadi ahli dalam berbagai bidang, baik ilmu keislaman maupun ilmu terapan.

Generasi termotivasi untuk mencari ilmu karena merupakan kewajiban bagi mereka. Bukan untuk mendapatkan materi atau harta sebanyak mungkin. Ilmu yang mereka dapatkan pun akan berusaha diamalkan demi kemaslahatan umat dan kemajuan negara. Seperti halnya pada masa kekhilafahan, banyak ilmuwan Muslim lahir yang kemudian berkontribusi besar untuk Islam. Mereka tak hanya pintar dalam bidang kehidupan, namun memiliki akhlak mulia dan faqih dalam agama. Ilmu dan kontribusi mereka pun diakui oleh dunia. Bahkan penemuannya dijadikan acuan oleh ilmuwan Barat. Di antaranya Al-Farabi (ilmuwan muslim dalam bidang fiqih, sains dan kedokteran), Al-Khawarizmi (Bapak Aljabar Dunia), Ibnu Sina (Bapak Pengobatan Modern), Jabir Al-Hayyan (Bapak Kimia Bangsa Arab) dan masih banyak yang lainnya. 

Saatnya sistem pendidikan Islam hadir kembali untuk melahirkan generasi cerdas dan berkepribadian Islam. Generasi yang akan menjadi pemimpin masa depan, membawa perubahan dan mewujudkan kebangkitan hakiki. Hal ini insyaallah hanya bisa terwujud dalam negara yang menerapkan Islam secara komprehensif. Wallahu a'lam bishshawab. []


Oleh: Nina Marlina, A.Md
(Muslimah Peduli Umat)

Posting Komentar

0 Komentar