Hijrah untuk Indonesia yang Lebih Baik

TintaSiyasi.com-- Bulan Muharam adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam sedunia. Bagaimana tidak, di bulan ini terjadi peristiwa yang sangat penting yakni Rasulullah SAW pergi berhijrah dari Makkah menuju Madinah. Alasan di balik hijrahnya Nabi SAW tak lain adalah perintah dari Allah SWT, namun di balik apa yang diperintahkan-Nya ada hal besar yang terkandung di dalamnya. Dengan hijrahnya Nabi SAW berarti Islam telah mempunyai kedudukan yang kuat serta awal mula terbentuknya Daulah Islam. Di sini pemimpin, peraturan, undang-undang serta kekuatan umat Islam pun dibentuk. Dan sudah jelas bahwa Nabi Muhammad SAW sangat serius dalam membangun sebuah institusi negara. 

Beliau menyediakan berbagai kebutuhan rakyat, bergerak dalam meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan. Beliau juga menciptakan lapangan kerja serta menyediakan modal bagi rakyat yang membutuhkan. Kebijakan-kebijakan yang diambil sangat meringankan beban masyarakat. Sehingga pada masa tersebut, negara sangatlah berkembang dan maju di berbagai bidang. 

Dan di bulan Agustus ini bertepatan pula dengan bulan Muharam, momen hijrahnya Rasulullah SAW tersebut. Dan bangsa Indonesia sendiri juga meraih kemerdekaannya di bulan Agustus. Dengan semangat juang para pahlawan, yang rela mengorbankan nyawanya untuk membebaskan diri dari penjajahan bangsa asing. Indonesia diharapkan menjadi negara yang maju, kuat dan tangguh di segala bidang. Menjadi negara yang disegani dan tak mengekor negara asing, juga kuat dalam segi perekonomian. 

Namun pada kenyataannya, sejauh ini Indonesia telah tertinggal jauh bahkan mengandalkan utang luar negeri demi menyokong perekonomian dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan meningkat, cenderung stagnan bahkan menurun. Utang luar negeri yang menumpuk tersebut menjadi bumerang. Sehingga Indonesia menjadi negara yang terpuruk dan pastinya dapat dikendalikan oleh negara lain. 

Dikutip dari laman Cnnindonesia.com (04/08/2021), Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan untuk bisa lepas dari jebakan negara pendapatan kelas menengah (middle income trap), pertumbuhan ekonomi Indonesia harus bisa mencapai 6 persen pada 2022 mendatang. Bila itu bisa dicapai, ia yakin Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju pada 2045. Berdasarkan perhitungan Bappenas, pertumbuhan ekonomi Indonesia pasca 1998 tidak pernah kembali ke skenario trajectory (tren) pertumbuhan ekonomi tanpa krisis. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi selama ini selalu macet di posisi 5 persen.

"Pemulihan ekonomi pasca Covid-19, kami berharap kalau kita bisa based pada 2022 dengan tingkat pertumbuhan 6 persen, maka trajectory (tren pertumbuhan ekonomi) yang panjang tadi (tanpa krisis) bisa kembali lagi pada 2029," ujarnya dalam webinar CSIS dan Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia 2045.

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk menjadikan ekonomi Indonesia dari middle income country menjadi higher income country patut diapresiasi. Karena perubahan ke arah yang lebih baik adalah sebuah upaya yang sangat penting bagi negara terlebih bagi masyarakatnya. Namun, beberapa tantangan juga harus dihadapi antara lain kemudahan dalam berusaha, tingkat produktivitas global effectiveness indek, demografi, struktur ekonomi serta tantangan perekonomian dunia. Serta tantangan ekonomi di kala pandemi seperti ini tidaklah mengubah perhatian pemerintah untuk menjadikan Indonesia menuju negara dengan pendapatan tinggi dan transformasi ekonomi. 

Namun, apakah upaya tersebut sejalan dengan keinginan rakyatnya. Karena tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah negara dengan penerapan sistem kapitalisme sekuler. Setiap apa yang menjadi program dan kebijakan yang diambil pemerintah haruslah memberikan keuntungan dan kenyamanan bagi para kapitalis. Bahkan, rakyat pun bisa menjadi korban atas program dan kebijakan yang diambil untuk memenuhi apa kemauan mereka. Mulai dari sistem perekonomian, sistem sosial, sistem pendidikan, sistem peradilan/hukum berasal dari penerapan sistem kapitalisme. Bukankah sudah jelas bahwa sistem tersebut hingga saat ini sungguh sangat merugikan dan menyengsarakan rakyat. 

Maka, jalan yang mesti kita ambil adalah  dengan cara berhijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju dan disegani di kancah dunia. Tak hanya hijrah secara individu namun hijrah bersama, mulai dari individu, rakyat hingga negara beserta sistem pemerintahannya. Hijrah dari sistem kufur menuju sistem Islam yang hakiki. Sehingga dapat mewujudkan negeri baldatun thayyibah wa rabbun gafur yang diimpikan seluruh rakyatnya. 

Hijrahnya negara dan sistemnya tentu saja diawali dengan hijrahnya terlebih dahulu seorang individu yakni dengan niat yang kuat kepada Allah SWT. Mematuhi seluruh aturan dan menjauhi larangan-Nya, serta berpegang teguh pada Kitabullah dan as-Sunnah. Kemudian berjuang keras untuk mendakwahkan Islam ke berbagai kalangan masyarakat. Agar mereka sadar betapa pentingnya sistem Islam yang diterapkan di sebuah negara bagi kehidupan mereka. Dan juga berupaya keras memperjuangkan Islam agar menjadi sistem di dalam kehidupan.  Maka, individu tersebut haruslah berjuang bersama-sama agar apa yang menjadi cita-citanya dapat diwujudkan dengan lebih mudah. Waallahu a’lam bishshawab. []


Oleh: Deny Rahma
(Komunitas Menulis Setajam Pena)

Posting Komentar

0 Komentar