GKI Yasmin dan Gagal Faham Makna Toleransi

TintaSiyasi.com-- Setelah 15 tahun dalam lingkaran konflik, akhirnya masalah Gereja Kristen Indonesia (GKI) terselesaikan melalui pemberian tanah hibah seluas 1668 m² di lahan yang berjarak sekitar 1km dari lokasi sebelumnya. Penyelesaian polemik gereja tersebut ditandai dengan penyerahan dokumen Izin Membuat Bangunan (IMB) untuk pembangunan GKI di Jl. R. Abdullah bin Nuh, Yasmin, Kota Bogor Jabar  oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Wali Kota Bima Arya kepada pengelola GKI Pengadilan Kota Bogor Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor (Republika, 8/8/2021).

Penyerahan IMB dihadiri oleh beberapa pejabat setempat antara lain Danrem 061/Suryakencana Brigjen TNI Achmad Fauzi, Dandim 0606 Kota Bogor Kolonel Inf. Roby Bulan, Kapolsek Bogor Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro, Kajari Kota Bogor Herry Hermanus Horo dan pimpinan dari organisasi keagamaan. Dalam sambutannya Bima Arya mengatakan, "Dokumen IMB yang diberikan bukan sekadar tanda keabsahan, namun sebagai simbol representasi dari kebersamaan dan hasil kerja keras semua pihak dalam membangun janji dan menjalin keberagaman melalui dialog, mediasi dan musyawarah yang kemudian menghasilkan IMB".

Perlu diketahui, keberadaan GKI Yasmin bermula ketika Pemerintah Kota Bogor menerbitkan IMB pada 19 Juli 2006 lalu, setahun kemudian pembangunan mulai dilakukan. Namun, pembangunan tersebut mendapat penolakan dari beberapa kelompok masyarakat dan di tahun 2008 perhimpunan warga sekitar mengajukan surat permohonan pembatalan pendirian gereja ke Pemerintah Kota Bogor dan ditindaklanjuti dengan dikeluarkannya surat pemberhentian IMB. Namun, pihak gereja mengklaim pembekuan tersebut tidak sah dan kemudian menggugatnya ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung.

Berikutnya di tahun 2010 Forum Komunikasi Muslim  Indonesia (FORKAMI) melaporkan dugaan pemalsuan data dan tandatangan persetujuan warga yang dilakukan panitia gereja. Ketua FORKAMI Achmad Iman menegaskan Penolakan gereja bukan atas dasar anti gereja, tapi kami anti penipuan." (Republika, 15/6/2021).

Selanjutnya tahun 2011 Pemkot Bogor mengeluarkan keputusan pencabutan IMB atas pemalsuan tersebut, kemudian pada 5 Juli 2012 Pemkot Bogor menawarkan relokasi ke tempat lain, namun ditolak oleh pihak gereja.


Toleransi Ide Sekularisme Liberalisme

Sejarah menceritakan kepada kita, sejak masa Rasulullah SAW dan khalifah sesudahnya, Islam tidak pernah mempersoalkan pluralitas dan toleransi. Islam mengatur sedemikian rupa kerukunan dan perbedaan. Islam menjelaskan secara terperinci dalam menyelesaikan persoalan yang ada dari keduanya. Dalam praktiknya kaum Muslimin tidak memaksa kaum kafir masuk Islam, mereka dibiarkan menjalankan ibadahnya sesuai dengan agama dan akidahnya, hal ini terjadi sebab umat Islam terbiasa hidup dalam heterogenitas dan biasa memperlakukan umat lain dengan adil dan beradab. Demikian pula apabila ada perbedaan pandangan atau pendapat di antara kaum Muslim, Islam mengaturnya sesuai dengan hukum dan kaidah syara, sehingga meski berbagai perbedaan hadir di kalangan umat Muslim, namun mereka tetap bersatu dan tidak terpecah belah.

Akan tetapi, Barat dalam hal ini Nasrani mendengungkan ide toleransi ke negeri-negeri  Muslim, adapun ide ini lahir akibat perang agama antara Kristen Katolik dan Protestan di Eropa. Sebagaimana dikatakan seorang pakar sejarah Professor Bernard Louis. 

"Gagasan toleransi lahir di kalangan Nasrani karena perang agama di Eropa dengan jumlah korban ribuan dari pihak Nasrani. Untuk menyelesaikan masalahnya, maka lahirlah ide toleransi dalam arti pemisahan agama dari berbagai aktivitas negara dan politik atau dengan kata lain sekularisme. Sementara Konflik tidak pernah terjadi di negeri-negeri Islam, sebab di dalamnya saling menghargai  dan menghormati, ketika tidak ada paksaan dalam agama, tentu hal ini telah menunjukkan bahwa dalam Islam ada toleransi. Sehingga, meski berada dalam ideologi tertentu, niscaya mereka hidup dalam ketentraman di dalam Daulah Islam." (Koran Turki, Medik, Januari 1995).

Jika dipahami lebih detail,  toleransi adalah bersikap adil, objektif, menghargai orang lain yang berbeda pendapat, budaya, agama dan lain-lain. Namun, seiring berkembangnya zaman, kata toleransi digunakan dalam perang opini oleh Barat, tujuannya tiada lain untuk mengokohkan paham demokrasi sekularisme liberalisme dan untuk menyerang ajaran dan simbol Islam. Toleransi dimaknai sekehendaknya demi mendiskreditkan Islam.


Toleransi dalam Islam

Lalu, bagaimana sesungguhnya toleransi dalam Islam?

Pertama, Islam tidak akan pernah mengakui kebenaran agama dan keyakinan selain Islam. Seluruh keyakinan dan agama selain Islam adalah kekufuran. Agama Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, kebatinan dan lain sebagainya adalah kufur. Siapa saja yang meyakini agama maupun paham tersebut, baik sebagian maupun keseluruhan, adalah kafir. Jika pelakunya seorang Muslim maka ia telah murtad dari Islam. Tidak ada toleransi dalam perkara semacam ini.

Kedua, tidak ada toleransi dalam perkara-perkara yang telah ditentukan oleh dalil-dalil qath'i (pasti) baik menyangkut masalah akidah maupun hukum syariah. Dalam perkara akidah, Islam tidak pernah mentoleransi keyakinan yang bertentangan dengan pokok-pokok akidah Islam semacam ateisme, politheisme, pengingkaran terhadap hari akhir dan lain-lain. 

Ketiga, Islam tidak melarang kaum Muslim untuk berinteraksi dengan orang-orang kafir dalam perkara-perkara mubah seperti jual beli, kerjasama bisnis dan lain sebagainya. Larangan berinteraksi dengan orang Kafir terbatas pada perkara yang dilarang oleh syariah, seperti menikahi wanita musyrik (kecuali Ahlul Kitab), ketentuan ini tidak bisa diubah dengan alasan toleransi, selain itu umat Islam dilarang memaksa non-Muslim masuk Islam.

Barat tidak akan berhenti melakukan beragam propaganda menyerang Islam dengan tujuan supaya kaum Muslim mengikuti opini yang diaruskan kaum liberal, dan toleransi merupakan salah satu propagandanya. Dari situ, lambat laun narasi toleransi yang digulirkan Barat berdasarkan asas demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) berhasil menjebak umat pada persepsi yang keliru. Maka dari itu, orang Islam akan disebut toleran apabila mengikuti apa yang diagendakan Barat, misal jika Muslim mengakui kebenaran agama Baha'i di Indonesia, maka mereka dikatakan toleransi dan disebut Muslim moderat, padahal dalam Undang-undang jelas dikatakan hanya 5 agama besar yang diakui di Tanah Air yaitu Islam, Kristen protestan, Katolik, Hindu dan Budha. Sedangkan jika sebaliknya, maka Islam fundamentalis atau radikal siap disematkan kepada siapapun yang berseberangan dengan Barat. Dengan demikian, Barat mereduksi ajaran Islam melalui agennya yakni Muslim liberal dan moderat, lewat mereka Barat menafsirkan Islam rahmatan lil 'alamin dengan makna menerima keragaman agama, budaya dan politik.

Dari situlah muncul liberalisasi Islam. Akibatnya, tanpa disadari dengan dalih toleransi, umat Islam banyak yang tertipu oleh racun tersebut dengan mencampuradukkan kebatilan dan kebenaran dan ironinya sebagian kaum Muslim justru bangga apabila telah melakukan toleransi ala Barat yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam, padahal menghormati bukan berarti harus mencampuradukan keduanya. Demikianlah Barat menyerang Islam lewat toleransi, tentu ada agenda busuk dibaliknya.


Daulah Islam Menjalankan Toleransi Sesuai Syariat

Umat Islam wajib membentengi diri dari pengaruh paham sekularisme liberalisme dengan mengokohkan akidahnya, tetap menjaga toleransi tanpa harus mencampuri urusan dan ibadah agama lain serta mewaspadai betapa bahayanya proyek-proyek  jahat seperti ini, selain itu umat juga harus disadarkan bahwa toleransi adalah bagian dari rencana jahat Barat dengan tujuan utamanya memusuhi dan menghapuskan ajaran Islam, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Maka betapa bahayanya jika umat salah memahami makna toleransi, sebab akibatnya bisa menghancurkan Islam.

Setelah Rasulullah SAW wafat dan kepemimpinan Islam dilanjutkan para khalifah, kekuasaan Islam meliputi hampir 2/3 dunia terbentang mulai dari Jazirah Arab, Syam, Afrika, Hindia dan Asia Tengah. Meski demikian, tidak lantas mendorong para khalifah melakukan tindakan-tindakan intoleran terhadap orang-orang kafir, sehingga kaum Muslim dan non-Muslim bisa hidup berdampingan secara sempurna dengan penuh keamanan, ketentraman dan kesejahteraan. Tidak ada permusuhan dan pertikaian meski ada tiga agama besar berbeda yang mereka anut.

Hal ini bisa terwujud lantaran keberagaman itu ada di negara dengan syariah Islam sebagai landasan akidahnya yakni Daulah khilafah Islamiyah. Melihat keberhasilan makna dan praktik toleransi pada masa kegemilangan Islam, sudah sepatutnya kita contoh, bukan hanya dari sisi maknanya saja tapi dalam penerapan sistem negara yang diterapkannya, sehingga pengertian toleransi dipahami dan dipraktikkan dengan benar oleh umat Muslim di tengah keberagaman. []


Oleh: Nurmilati
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar