Generasi Pengisi Kemerdekaan

TintaSiyasi.com-- Bulan kemerdekaan bangsa Indonesia telah tiba. Sudah menjadi rutinitas bendera merah putih berkibar di setiap rumah-rumah. Seperti biasa dari tahun ke tahun, diperinhati dengan suka cita, sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tentu dengan  peringatan kemerdekaan saja tak cukup memberi arti dan hikmah, terlebih kepada generasi muda, sang penerus bangsa. Tidak cukup hanya melibatkan mereka pada upacara bendera sebagai pasukan penggerek bendera ataupun peserta upacara, akan tetapi mereka harus terlibat dalam mengisi kemerdekaan dan melanjutkan perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Hal ini mengharuskan adanya keteladanan yang utuh dan nyata dari mereka yang memimpin bangsa ini. Pemimpin yang mampu menjaga dan merawat negara dengan baik dan adil. Karena rakyat yang dipimpin orang-orang baik dengan sistem kehidupan terbaik akan berbuah baik pula.

Indonesia adalah negara yang memiliki bonus demografi dengan jumlah manusia produktifnya yang sangat tinggi. Potensi ini tentu sangat menguntungkan bagi negara. Karena dengan banyaknya manusia yang produktif akan mampu mengangkat harkat martabat bangsa dari berbagai sisi ketika benar-benar diarahkan melalui kebijakan negara, salah satunya melalui sistem pendidikan.  Jadi teringat dengan kata-kata Bung Karno, “beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”. Seorang pemimpin yang dia paham dengan potensi pemuda tentu tidak akan menyia-nyiakan pemudanya begitu saja tanpa penjagaan dan  membiarkan mereka menuju kehancuran.

Menyaksikan generasi muda saat ini, sungguh masih menyesakkan dada. Mereka terjebak dalam sistem yang mengagungkan kebebasan. Yang menjadikan mereka tidak mampu mengendalikan akal dan perilakunya dalam menjalani kehidupan. Sistem kehidupan saat ini membuat kerusakan yang sangat parah dari sisi moral dan kemampuan intelektual mereka. Hingga dalam mengisi kemerdekaan bangsa, mereka hanya mampu menggelar berbagai lomba dan upacara bendera. Setelah selesai, mereka kembali disibukkan dengan rutinitas kehidupan pribadi yang jauh dari menuju kebangkitan bangsa. 

Pandangan generasi muda dipalingkan dari mengangkat harkat martabat bangsa, menjadi budak-budak  kapitalis penghamba kebebasan. Bersekolah hanya untuk mendapat ijazah, orientasinya adalah kerja sedangkan ilmu yang didapat kadang dilupa hingga adab pun sulit tercipta. Usia produktif dihabiskan dalam lingkaran kapitalis yang tak berkah. Sungguh kondisi ini tidak akan berubah ke arah yang baik ketika tidak ada perubahan yang menyeluruh, baik sosok pemimpin maupun sistem kehidupan bangsa ini. Hingga generasi pengisi kemerdekaan tampil dan berani membawa perubahan menuju Indonesia merdeka secara hakiki, tak ada lagi penjajahan secara ekonomi maupun jalan hidup pemuja kebebasan. Karena sesungguhnya bangsa ini lahir dari perjuangan besar umat Islam.  

Semoga di usia 76 tahun Indonesia mampu menjadi negara yang kuat dan harkat martabat bangsanya tinggi di depan negara- negara lain. Bahkan bangsa ini harus mampu melawan negara kapitalis yang selama ini menjajah negeri ini. Bangsa ini harus lebih giat lagi belajar meski usianya sudah mencapai 76 tahun.  

Sangat disayangkan, jika diusianya yang matang ini tidak mampu menjadikan bangsa Indonesia maju dan memiliki kekuatan yang menggentarkan. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, belajar menuju perubahan, menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. Semua masih bisa diperbaiki dengan perubahan mendasar dan menyeluruh.

Potensi generasi muda tetap ada, mereka bukan robot yang ketika rusak sulit untuk diperbaiki. Mereka adalah manusia ciptaan Allah SWT. Allah mengabarkan dalam Al-Qur'an, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka”. Jelas sudah, ketika kita ingin merubah bangsa ini menjadi bermartabat dan maju, tentulah dengan upaya yang sungguh-sungguh dan cara yang terjamin mampu. 

Sebagaimana yang sudah dicontohkan baginda Rasulullah SAW dalam mengubah bangsa Arab yang jahiliyah menjadi masyarakat yang maju dan beradab, pusat peradaban yang memancarkan cahaya. Yaitu dengan Islam sebagai dien dan sebagai dasar negara. Sejarah mencatat kegemilangan peradaban Islam bertahan kurang lebih 13 abad lamanya. Mari kita bersama belajar mengisi kemerdekaan dengan penuh kesadaran untuk mengangkat harkat martabat bangsa. []


Oleh: Agustina, S.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar