Euforia Kemerdekaan di Tengah Himpitan Utang

TintaSiyasi.com-- Peringatan HUT ke-76 RI tahun ini mengusung tema 'Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh'. Ada pesan optimisme di balik tema tersebut. "Indonesia Tangguh menghadapi berbagai krisis yang selama ini menempa," kata Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono lewat pesan singkat (detikNews.com, 17/6/2021).

Setiap tahun negeri ini merayakan hari kemerdekaan dengan pesta yang cukup meriah dan menghabiskan banyak dana. Tahun ini Indonesia merayakan kemerdekaan ke-76 di tengah situasi pandemi yang tidak berkesudahan. Rakyat dirundung kesusahan pangan, ekonomi, kesehatan serta bertambahnya jumlah kemiskinan mulai mendera Indonesia. Rakyat teriak-teriak lapar tapi para elit penguasa dengan arogannya mengatakan bahwa masyarakat adalah masyarakat kelas kambing. Di mana moral mereka ketika mereka dipercaya oleh rakyat untuk menjadi wakil rakyat di dalam pemerintahan, bukan berusaha menyelesaikan masalah yang ada di tengah-tengah masyarakat justru menambah penderitaan rakyat, lalu untuk apa rakyat menggaji mereka, Jika mereka tidak bekerja untuk rakyat?

Jika benar negeri ini merdeka harusnya sudah tidak tergantung kepada negara lain dan tidak tunduk kepada penjajah yang ada di negeri ini. Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika manusia terbebas dari penghambaan terhadap manusia dan terbebas dari belenggu orang lain. Sedangkan Indonesia masih terbelenggu dengan banyaknya kepentingan dari para elit penguasa yang rela mengorbankan rakyatnya demi segelintir orang. Negeri inipun masih terbelenggu dengan banyaknya utang yang kian menggunung bukan berusaha untuk melunasi akan tetapi mereka berencana untuk menambah utang baru, tepat di hari kemerdekaan pemerintah mengumumkan pertambahan utang yang akan dilakukan oleh pemerintah.

Pemerintah masih tetap akan menarik utang untuk memenuhi kebutuhan belanja di 2022. Rencananya Surat Berharga Negara (SBN) neto yang akan diterbitkan mencapai Rp 991,3 triliun. Hal ini tertuang dalam Buku Nota Keuangan 2022 yang dikeluarkan Kementerian Keuangan dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (16/8/2021).

Kemerdekaan yang sungguhnya adalah ketika negeri ini terbebas dari rezim sistem kapitalisme dan kembali kepada sistem yang telah Allah turunkan dan terbukti mampu membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia dan mampu disegani oleh negara lain dan tidak terikat dengan peraturan yang dibuat oleh manusia dan Allah berfirman: “Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi" (TQS al-A’raf [7]: 96). 

Maka tidak ada kemerdekaan yang hakiki kecuali kemerdekaan yang bermakna merdeka pada penghambaan hanya pada Allah SWT. Wallahu a’lam. []


Oleh: Lutfiatul Khasanah
(Pendidik)

Posting Komentar

0 Komentar