Baliho Bikin Heboh

TintaSiyasi.com-- Bangsa Indonesia masih menghadapi pandemi yang hampir kebanyakan masyarakatnya dirundung berbagai kesulitan untuk bertahan di tengah pandemi  yang tak kunjung usai. Tentulah uluran tangan berupa simpati dan empati bahkan bantuan sangat diharapkan datang dari berbagai pihak, terutama pemerintah sebagai institusi terbesar dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Pemerintah diharapkan fokus dan mengerahkan segala daya, upaya juga perhatiannya dalam penanganan wabah agar wabah segera usai sehingga kehidupan kembali normal. Demikianlah yang diharapkan masyarakat kepada pemerintahnya yang dulunya telah dipilih melalui pemilu, dan pun mereka ketika dulu berkampanye berlomba-lomba menawarkan janji-janjinya untuk setia melayani rakyat jika kelak terpilih dan duduk di kursi pemerintahan. Kini janji-janji mereka tengah dimintai bukti oleh rakyat, bahwa rakyat butuh bukti bukan sekadar janji. 

Kenyataannya, para pemegang kekuasaan dan para elite politik kini tengah menyibukkan diri untuk berias diri demi menampakkan wajah yang elok rupawan. Pemandangan yang begitu menakjubkan bagi masyarakat yaitu telah dipertontonkan begitu banyak terpampang baliho politik dari wajah-wajah para politisi. Padahal kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 masih jauh. Namun, para bakal kandidat sudah mulai ancang-ancang dengan memasang begitu banyak baliho. Apakah tujuannya dalam rangka menyapa rakyatnya yang tengah kesusahan? Apakah dengan memasang baliho politik bisa meringankan beban rakyat? Apakah dengan baliho politik di tengah pandemi dalam rangka menarik simpati dan empati rakyat? Luar biasa para elite politik di negeri ini, tidak adanya kepekaan barang sedikitpun dari mereka bahwa pemasangan baliho bisa menyakiti hati rakyat? Bukankah baliho-baliho yang mereka pasang masih terlalu dini untuk saat ini? Bukankah baliho-baliho itu dibeli dengan uang yang tidak sedikit? Mengapa uang yang banyak itu dialihkan saja  untuk membantu rakyat meringankan beban di tengah sulitnya sekadar bertahan hidup untuk makan rakyatnya? Ini menegaskan kepada kita bahwa “baliho terpasang, nurani terpasung”. Demikianlah wajah para elit di sistem demokrasi yang mempertontonkan syahwat kekuasaan kian vulgar dan pencitraan menjadi hal yang wajar, sedangkan simpati dan empati kepada penderitaan rakyat bukanlah hal mendasar. 

Siapakah gerangan di antaranya wajah-wajah yang bersolek ria pada baliho-baliho tersebut? Ada Ketua DPR Puan Maharani, Ketum Golkar Airlangga Hartanto, Ketum PKB Muhaimin Iskandar hingga Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY, (DetikNews.com, 5/8/2021). Merekapun juga menyematkan sepenggal kata-kata yang manis dan seolah solutif. Fenomenanya menjamurnya baliho politik di sudut jalanan menjadi kontradiktif, bukannya rakyat terpikat dan terpesona malah membuat rakyat heboh dan mencemooh. Betapa tidak, sudahlah rakyat tengah menderita di tengah pandemi masih ditambah tontonan menyedihkan bagi rakyat tentang aksi para elit politik yang sama sekali tidak berkorelasi dengan apa yang dibutuhkan rakyat. Hal ini adalah bukti nyata bahwa para politisi yang menawarkan diri menjadi pemimpin adalah sosok yang tak punya kepekaan terhadap kondisi rakyat dan hanya bertarung demi mendapat kursi. 

Jika kepekaan mereka sudah terbabat habis, tidakkah ada sedikit tersisa rasa malu dari para politisi di hadapan rakyatnya? Malu jika bertindak tidak sesuai dengan janji-janji yang sudah sekian dipungkiri, pembuktian bukan lagi menjadi jati diri. Demi syahwat kekuasaan dan hasrat duduk di singgasana pemerintahan menjadikan kepekaan dan rasa malu benar-benar terpinggirkan. Inilah wajah demokrasi sesungguhnya, ia lahir dari asas liberalisme (bebas, asal suka dan asal senang) dan asas sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan, tidak peduli halal haram dan tidak peduli kelak semua akan dihisab dimintai pertanggungjawaban). Demokrasi telah melahirkan pemimpin dan para elit politik yang tidak amanah dan fokus hanya mengejar materi. Sehingga tidak ada kepedulian sedikitpun pada rakyat. Maka demokrasi layak dicampakkan. 

Maka, sudah semestinya kita beralih dari sistem rusak demokrasi menuju sistem paripurna dan amanah yaitu sistem Islam yang mampu menyelesaikan segala permasalahan manusia dari berbagai bidang kehidupan. Karena sistem yang baik akan melahirkan pemimpin yang baik pula. Sistem yang lahir dari Sang Pencipta untuk mengatur manusia, pastilah tahu segala yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Allah menegaskan kepada manusia, siapapun yang tidak amanah dan zalim pada umat maka balasannya dosa dan neraka sedangkan siapapun yang amanah pada urusan umat maka balasannya pahala dan surga. Islam mempunyai aturan yang lengkap dan begitu detail yang siap diaplikasikan dalam kehidupan. Sungguh, tiada akan tercapai pengaturan kehidupan terbaik dan pemimpin yang amanah kecuali hanya dengan penerapan syariat secara menyeluruh dan penegakan Khilafah Islamiyah di muka bumi. []


Oleh: Beta Arin Setyo Utami, S.Pd
(Pengajar Homeschooling)

Posting Komentar

0 Komentar