Rakyat Didera Pandemi, Penguasa Minus Empati

TintaSiyasi.com-- Situasi negeri ini sangat memprihatinkan. Pandemi masih saja belum berakhir. Bahkan kasusnya semakin melonjak. Rakyat panik. Banyak yang terpapar Covid-19. Rumah sakit penuh. Obat-obatan dan tabung oksigen pun sulit didapatkan. 

Diperparah lagi, alih-alih menyelesaikan situasi tersebut. Solusi yang diambil penguasa justru tak mampu menuntaskan persoalan tersebut. Maka, diberlakukanlah PPKM Darurat. Kebijakan ini justru memukul perekonomian rakyat. Rakyat pun kesulitan mencari nafkah. Namun, tak membuat para penguasa berlapang hati dan berempati melihat kondisi ini. 

Bukannya berupaya keras menuntaskan kondisi darurat ini. Malahan, mereka berkelakar. Seorang petinggi tersohor tanpa rasa prihatin malahan sibuk membahas sinetron TV yang tak ada manfaatnya. Bahkan ada juga anak petinggi plesiran ke luar negeri di tengah berlakunya PPKM,(suara.com,16/7/2021). Dan yang tak kalah mirisnya, ada petinggi negara yang meminta komedian untuk menghibur rakyat agar imun meningkat. Ini menunjukkan kesan penguasa begitu mudahnya meremehkan situasi yang genting ini. Tak ada rasa kepekaan atau empati. 

Sungguh, kondisi parah ini malahan dijadikan bahan bercandaan. Penguasa seharusnya tak menambah beban masyarakat. Apalagi hingga hari ini pun belum bisa memberikan keringanan, setidaknya janganlah menambah beban derita rakyat. 

Sejatinya, penguasa memiliki tanggung jawab besar terhadap rakyatnya. Mereka seharusnya mengutamakan keselamatan rakyat dibandingkan keselamatan dirinya. Tak seharusnya mereka bahagia di atas penderitaan rakyatnya. 

Inilah potret mentalitas para penguasa di alam sistem kapitalisme. Mereka menjadi penguasa bukan untuk memikirkan rakyat namun hanya ingin kekuasaan dan memperkaya diri. Hal ini dikarenakan materi menjadi sumbu utama yang ingin diraihnya. Tidak berorientasi melayani pemenuhan kebutuhan rakyat. Tak heran banyak dijumpai penguasa berhati sempit tak punya rasa iba apalagi memiliki tanggung jawab terhadap rakyatnya. 

Rasa empati mereka sudah kerdil tertutup kilauan kekuasaan yang hanya sekilas saja indahnya. Mereka tak menyadari, bahwa kekuasaan yang mereka bawa kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sampai kapan pun, bila negeri ini masih berharap pada sistem kapitalis, maka mentalitas penguasa sebagai pelindung dan penanggung jawab rakyat mustahil adanya. 

Tentunya berbeda bila negeri ini mau menerapkan sistem terbaik yakni sistem Islam. Sistem yang menjadikan penguasa sebagai pelindung dan penanggung jawab rakyat. Penguasa dalam sistem Islam memegang amanah kekuasaan untuk melindungi dan melayani rakyat. 

Seperti salah satu pemimpin Islam yang digambarkan pada masa kepemimpinan Umar bin Khaththab. Beliau berkata, "Seandainya seekor keledai terperosok karena jalanan berlubang di kota Baghdad, maka aku sangat khawatir Allah akan meminta pertanggungjawaban".

Kepemimpinan Khalifah Umar sangat memperhatikan kebutuhan rakyat. Beliau selalu memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi secara adil. Menjaga rakyat agar terhindar dari penyakit.  Mendahulukan keselamatan rakyat daripada dirinya sendiri. Kehidupan Khalifah Umar bin Khaththab pun sederhana. Jauh dari kesan glamour seperti yang ditampakkan oleh penguasa dalam sistem kapitalis. 

Inilah role mode kepemimpinan penguasa dalam Islam. Semua kebijakannya diambil berasal dari aturan-aturan Allah, yakni syariat Islam sehingga  rakyat terjamin kesejahteraannya dan tidak terzalimi. Pemimpin Islam selalu berada di garda terdepan melindungi rakyatnya. 

Kepemimpinan dalam Islam merupakan bentuk pertanggungjawaban penguasa yang besar terhadap rakyatnya. Kepemimpinan bukanlah sesuatu yang menggiurkan. Rasulullah pun bersabda, “Siapa pun yang mengepalai salah satu urusan kaum Muslimin dan tetap menjauhkan diri dari mereka dan tidak membayar dengan perhatian pada kebutuhan dan kemiskinan mereka, Allah akan tetap jauh dari dirinya pada hari kiamat…” (Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim).

Kesadaran inilah yang menjadi pemimpin Islam senantiasa berupaya untuk menunaikan kewajibannya memenuhi kebutuhan seluruh rakyat. Hal inilah yang menjadikan setiap persoalan rakyat bisa terselesaikan sehingga keselamatan dan kesejahteraan rakyat tercapai. Semuanya terwujud hanya dengan kepemimpinan Islam. []


Oleh: Alfiana Prima Rahardjo, S.P.
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar