PPKM Darurat, Gagal?


TintaSiyasi.com-- Sejak 3 Juli 2021 pemerintah telah memberlakukan PPKM Darurat di Jawa dan Bali. Namun setelah sepekan pelaksanaan PPKM Darurat masih belum berhasil mengatasi pandemi. Terbukti dengan terus meroketnya kasus Covid-19 di Indonesia. Tercatat ada tambahan kasus baru  40.427 orang pada Senin (12/7/2021). Dengan begitu total kasus Covid-19 yang ada di RI mencapai 2,567 juta orang (CNBC Indonesia, 12/7/2021).

Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman memaparkan penyebab tidak berhasilnya PPKM darurat. Selain karena belum memadainya testing yang dilakukan, juga karena mobilitas masyarakat yang masih tinggi (detiknews,11/7/2021).

Melihat kondisi kasus Covid-19 yang terus meroket saat PPKM darurat. Seolah menjawab keraguan banyak pakar tentang kebijakan yang dipilih pemerintah. Kebijakan yang hanya mengganti nama tanpa perubahan konsep yang berarti.

Tidak efektifnya kebijakan yang diterapkan pemerintah hanya akan memperparah pandemi. Terus terjadi ledakan Covid-19 dan mengakibatkan banyak korban. Itulah yang terjadi saat ini. Saat banyak pakar mengusulkan untuk lockdown pemerintah masih tetap ngotot dengan kebijakan PPKM yang ditambah kata darurat. 

Alasan penyelamatan ekonomi yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Faktanya ekonomi tak juga membaik yang ada pandemi semakin tak terkendali. Padahal semestinya pemerintah berfokus kepada penyelamatan nyawa. 

Tetapi memang seperti itulah tabiat pemimpin di sistem kapitalis. Lebih mendahulukan ekonomi dibanding menyelamatkan nyawa rakyat. Walaupun pemerintah lebih menomorsatukan sektor ekonomi. Tapi realitasnya yang terjadi jauh dari harapan. Alih-alih mensejahterakan masyarakat justru kemiskinan terus meningkat. Begitulah sistem kapitalisme, kesejahteraan yang ditawarkannya hanyalah ilusi semata.

Menyadari semua itu hendaknya semua ilusi dengan narasi ekonomi harus segera dihentikan. Sebaiknya penguasa mencari solusi yang paling tepat. Mengelola urusan rakyat yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa. Solusi itu tidak lain adalah sistem Islam. Sistem yang berasal dari pencipta manusia. Sehingga mampu mengatasi semua masalah kehidupan termasuk penyelesaian pandemi. 

Sistem Islam melahirkan penguasa yang sungguh-sungguh mengurusi rakyatnya. karena ia meyakini bahwa kepemimpinannya akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,  “Imam/Khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad).

Dengan kesungguhan dalam menjalankan amanah disertai ketakwaan. Ia akan melakukan ikhtiar terbaik untuk menyelesaikan pandemi dengan prioritas utama adalah keselamatan rakyat. Karena ia sangat memahami sabda Rasul SAW, “Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Mukmin tanpa hak.” (HR An-Nasa’i dan At-Tirmidzi). []


Oleh: Mia Purnama, S.Kom
(Aktivis Back to Muslim Identity)

Posting Komentar

0 Komentar