PPKM Darurat Diperpanjang, Direktur IJM: Ini Kezaliman




TintaSiyasi.com-- Menanggapi Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat yang diperpanjang hingga akhir Juli mendatang, Direktur Indonesia Justice Monitor dan Aktivis 98 Agung Wisnuwardana mengatakan, itu kezaliman.

“Saya mengatakan ini kezaliman, kenapa kezaliman? secara pengetatan gila-gilaan, tetapi secara tanggung jawab sosial tidak ada, bantuan 300 ribu saya anggap tidak ada tanggung jawab sosial,” tuturnya dalam Insight ke-49 Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD): Jerit Rakyat di PPKM Darurat, Jum’at (16/7/2021) di kanal YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data.

Menurut Agung, PPKM yang diperketat penyebabnya karena terjadi lonjakan jumlah orang yang terkena Covid-19 dengan varian delta yaitu sudah diatas 40 ribu kasus.

“Ini kan ambang batas mengerikan, itu yang dikhawatirkan oleh banyak kalangan, sehingga dengan konteks seperti itu, ditetapkan oleh Luhut Binsar Panjaitan akan diperketat, ini agak beda PSBB yang tahun lalu, ini akan ketat, makanya banyak muncul tindakan-tindakan yang cukup keras, tegas oleh aparat,” ujarnya.

Ia mengatakan, bantuan 300 ribu rupiah yang diberikan kepada masyarakat, itu tidak cukup buat makan, sementera rakyat melaksanakan aktivitas ekonomi, seperti berjualan dibatasi begitu rupa. 

“Ini kan kondisi yang sangat zalim, apalagi beberapa kalangan langsung kena denda dengan angka yang besar yaitu 5 juta rupiah, dan itu digunakan UU Karantina, sementara negara sendiri tidak menerapkan UU Karantina wilayah,” tegasnya.

Ia menilai, dalam konteks karantina wilayah, konsekuensinya adalah negara harus menjamin kebutuhan orang dan hewan ternak, dengan kondisi cukup.

“Satu sisi negara bertindak tegas kepada masyarakat, sampai sanksi diterapkan dengan tegas, tetapi di sisi yang lain, negara tidak memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan orang dan hewan ternak, ini kan kezaliman yang sangat luar biasa,” tegasnya.

Ia mengatakan, disaat rakyat dalam negeri dibatasi begitu ketat, pemerintah malah tetap membuka pintu masuknya tenaga kerja asing (TKA) dan warga negara asing (WNA). “Bayangkan jadi kita itu dibatasi betul rakyat sendiri sementara WNA masuk, bukan hanya 20 ribu tetapi 24 ribu WNA masuk ke negeri ini, katanya ingin mencegah Covid-19,” ujarnya.

Solusinya

Pertama, menurutnya pemerintah harus berani minta maaf secara terbuka atas kesalahan kebijakan yang dilakukan, dengan ketulusan yang luar biasa, “Kalau perlu mundur minta ganti saja, karena masyarakat kita ini sudah antipati begitu rupa dengan banyak kebijakan rezim saat ini,” ujarnya.

Kedua, menghentikan seluruh proyek-proyek infrastruktur yang tidak ada gunanya. Ia mengatakan, ditengah kondisi seperti sekarang, penguasa sebaiknya menghentikan proyek-proyek yang tidak terlalu urgen itu.

“Ketiga, hitung semua anggaran-anggaran negara, mana anggaran negara yang bisa di-switch-kan segera untuk kepentingan covid 19 ini, apakah nanti untuk kesehatannya, untuk bantuan sosialnya, stimulus UMKM nya,” terangnya.

_Keempat_, menurutnya yang sangat berat sekarang adalah persoalan yang sudah sistemik diberbagai sisi kehidupan karena negara membangun pertumbuhan ekonomi dari utang luar negeri.

Ia menilai, alasan pemerintah tidak mempunyai anggaran itu tidak tepat, karena Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) melimpah tapi justru diserahkan ke Asing. Seperti, lanjutnya cadangan nikel Indonesia termasuk terbesar di dunia yang sekarang jadi sorotan banyak kalangan.

“Artinya bila nikel milik kita betul-betul, maka kita akan menjadi produsen mobil listrik terbesar di dunia, kita akan menjadi produsen baterai terbesar di dunia,” ujarnya

Menurutnya, sumber daya alam (SDA) yang ada, di rampas oleh asing, sementara negara hanya dapat pajaknya saja merupakan bentuk kezaliman luar biasa. Lanjutnya, itulah akibat dari membangun negara menggunakan sistem kapitalisme.

“Inilah sistem kapitalisme persoalannya ada disana, berani gak negeri ini untuk mengubah sistemnya? ketika tidak mau merubah sistemnya, sampai kapan pun problem-problem seperti ini akan terus terjadi. Empat hal inilah yang saya sarankan untuk menjadi solusi,” pungkasnya.[] Aslan La Asamu

Posting Komentar

0 Komentar