Moderasi Agama, Wacana Kerukunan Umat yang Menyesatkan


TintaSiyasi.com-- Wacana moderasi agama yang beberapa tahun belakangan dibicarakan, ternyata hingga saat ini masih terus menjadi perbincangan. Meskipun masih dalam suasana pandemi, pemerintah seolah tidak kehilangan cara untuk menggaungkan ide moderasi agama tersebut. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah forum yang digelar oleh Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian pada hari Selasa, 29 Juni 2021 lalu di wihara Dusun Krecek, Desa Getas, Kecamatan Kaloran Temanggung dengan pembicara KH. Yusuf Chudlori, Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag Achmad Gunaryo, Dirjen Bimas Buddha Caliadi, dan Bupati Temanggung M. Al Khadziq. Jagongan Moderasi Beragama bertajuk "Beragama dengan Ramah untuk Indonesia" ini juga dilakukan pengukuhan penyuluh lintas agama (Pelita). Sebelum di Temanggung kegiatan serupa telah digelar di Klaten, selanjutnya di Tegal dan meluas ke seluruh Indonesia (Temanggung (ANTARA), 01/06/2021).

Dalam forum tersebut, tokoh agama sekaligus pengasuh ponpes API Tegalrejo Magelang, KH. Yusuf Chudlori mengatakan moderasi beragama sangat penting di zaman ini untuk membentengi paham dan gerakan-gerakan transnasional yang berusaha merusak kerukunan yang telah terbina selama ini. "Melihat pergerakan-pergerakan transnasional. Masuknya paham dari luar harus dibentengi bersama sebagai tanggung jawab anak bangsa semua agama," katanya.

Menurut Gus Yusuf moderasi beragama harus ditanamkan sejak kecil seperti di usia SD atau SMP. Di usia itu harus mulai ditanamkan pemahaman agama yang benar. Mereka harus dikawal sejak awal agar tidak menjadi korban dari masuknya paham radikal.


Islam Moderat, Upaya Barat untuk Melemahkan Kaum Muslimin

“Moderat” atau jalan tengah sudah dikenal luas pada masa abad pencerahan di Eropa. Konflik antara pihak pemuka gereja (yang menginginkan dominasi agama dalam kehidupan rakyat) dan kaum revolusioner yang berasal dari kelompok filosof (yang menginginkan penghapusan peran agama dalam kehidupan) menghasilkan sikap kompromi. Sikap ini kemudian dikenal dengan istilah sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan publik.

Cheryl Benard, peneliti RAND Corporation menyebutkan bahwa dunia Islam harus dilibatkan dalam pertarungan tersebut dengan menggunakan nilai-nilai (Islam) yang dimilikinya. Maka, dalam pertarungan ideologi antara Islam dan kapitalisme Amerika Serikat merancang pendekatan yang amat halus, yaitu dengan menyiapkan mitra, sarana, dan strategi demi memenangkan pertarungan. 

Salah satu agenda dari Rand Corporation adalah merancang Indonesia sebagai poros Islam moderat sekaligus penjaganya. Maka, di Indonesia Islam moderat terus dipropagandakan dengan dalih bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat plural atau majemuk dan hanya bisa dipersatukan atau dirawat dengan Islam moderat. Mereka beralasan bahwa Islam moderat menjaga toleransi dan saling menghormati. Padahal, yang terjadi sebaliknya, bukannya mempersatukan tapi justru memecah-belah umat.

Namun sebenarnya, yang mereka maksudkan sebagai “Islam moderat” adalah Islam yang tidak anti-Barat (baca: tidak antikapitalisme), Islam yang tidak bertentangan dengan sekularisme Barat, serta tidak menolak berbagai kepentingan Barat. Atau bisa dikatakan bahwa “Islam moderat” adalah Islam sekuler yang mau menerima nilai-nilai Barat seperti demokrasi dan HAM, serta mau berkompromi dengan imperialisme Barat dan tidak menentangnya. Kelompok yang disebut “Islam moderat” ini mereka anggap sebagai Islam yang “ramah” dan bisa jadi mitra Barat.

Mereka melakukan berbagai upaya untuk memberdayakan kelompok moderat agar mengubah dunia Islam sesuai dengan demokrasi dan tatanan internasional, antara lain dengan mempublikasikan pemikiran mereka di media massa; mengkritik berbagai pandangan Islam fundamentalis; memasukkan pandangan mereka ke dalam kurikulum, serta mengentalkan kesadaran budaya dan sejarah mereka yang non-Islam dan pra Islam ketimbang Islam itu sendiri; serta memberikan ruang politik dan publik bagi mereka yang pro Barat.


Islam Moderat Penghalang Persatuan Umat Islam

Ide Islam moderat pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam ke tengah-tengah umat. Dimana ide ini menyerukan untuk membangun Islam yang bersifat terbuka dan toleran terhadap ajaran agama lain serta budaya. Ini terlihat bahwa gagasan Islam moderat ini mengabaikan sebagian ajaran Islam yang bersifat qath’i, baik dari sisi redaksi maupun sumbernya, seperti kewajiban berhukum dengan hukum syariat, keharaman wanita muslimah menikah dengan orang kafir dan kewajiban negara memerangi negara-negara kufur hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah dan sebagainya.

Tujuannya adalah menjadikan umat Islam ragu dan jauh dari pemahaman Islam, mengeliminasi nilai-nilai dan praktik Islam, khususnya yang berhubungan dengan politik Islam dan hukum Islam lainnya, serta mengganti dengan pemikiran dan budaya Barat.

Pengotak-ngotakan Islam, seperti Islam nusantara, Islam timur tengah, dll sebenarnya merupakan bagian dari strategi Barat untuk menghancurkan Islam. Sebagaimana dituangkan dalam dokumen Rand Corporation, strategi penghancuran ini dibangun dengan dasar falsafah “devide et impera” atau politik pecah belah (adu domba). Sangat jelas, klasifikasi atau pengelompokan umat Islam yang sesuai dengan cara pandang Barat ini, sejatinya untuk melanggengkan penjajahan Barat terhadap dunia Islam dan kaum muslim sesuai ideologi mereka (Barat).

Maka dari itu, umat Islam wajib menyadari bahwa pemilahan atau pengotak-ngotakan Islam menjadi moderat, fundamentalis/radikal, tradisional, dan sebagainya adalah demi kepentingan Barat, yakni untuk memunculkan satu kelompok Islam yakni Islam yang mau menerima ideologi, nilai-nilai, dan peradaban Barat serta berbagai kepentingan mereka dan menekan kelompok Islam yang lain.

Dari sini terlihat betapa bahayanya pemikiran Islam moderat. Sebab, gagasan ini menegasikan Islam yang sejatinya merupakan ideologi yaitu agama yang memiliki pemikiran (fikrah) dan bagaimana cara mewujudkan pemikiran-pemikirannya (thariqah) menjadi sekadar kumpulan pemikiran (fikrah) saja. Sehingga, Islam pun berubah menjadi sekadar agama ruhiyah, yang dihilangkan sisi politisnya sebagai solusi dalam seluruh aspek kehidupan.

Ide Islam moderat ini juga telah berhasil menjadikan umat Islam terpecah belah dan semakin jauh dari Islam. Hal inilah yang akan terus menjadi penghalang perjuangan menegakkan sistem Islam serta melanggengkan kekufuran.

Maka, semoga umat segera sadar, bahwa kemuliaan mereka sejatinya hanya ada pada Islam. Agama sekaligus ideologi yang telah terbukti menjadi petunjuk serta solusi problematika kehidupan, bukan hanya untuk umat Islam sendiri, tapi untuk umat manusia secara keseluruhan. Wallahu a'lam.[]


Oleh: Anita Kusuma Wardani
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar