Luky B. Rouf Ungkap Kekhawatirannya, Anak Zaman Now Mudah Terpapar Pornografi



TintaSiyasi.com-- Founder Tahreera Institute dan Penulis Buku Luky B. Rouf mengungkapkan kekhawatirannya, yaitu, anak zaman now (sekarang) Mudah Terpapar Pornografi. "Anak zaman now memang tidak dipungkiri akan mudah terpapar pornografi," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Kamis (1/7/2021).

"Tapi bukan cara permisif yang jadi solusi, masih ada cara lain yang lebih waras dan bijak mendidik anak soal pornografi maupun edukasi seks," imbuhnya.

Ia mengatakan, hal demikian karena miris mendengar kabar seorang Penyanyi yang viral, karena 'menemani' (membiarkan) anaknya menonton film dewasa untuk edukasi seks. Sekalipun, hal itu telah diklarifikasi oleh penyanyi tersebut. 

Ia mengatakan, apabila ada publik figur yang mandampingi anaknya menonton video porno karena alasan edukasi seks, dapat dibilang, pertama, aneh (untuk tidak menyebutnya gila). "Karena kebanyakan orang tua menginginkan anaknya terhindar dari pornografi," katanya.

Ia menjelaskan, pornografi sudah jelas berdampak negatif. "Penelitian membuktikan tidak hanya berefek pada perilaku, tapi kecanduan menonton pornografi bisa berpengaruh pada otak. Kalau memang si orang tua itu peduli dengan anaknya, maka harusnya mencegah supaya anaknya tidak menononton pornografi," terangnya.

Kedua, liberal. Orang tua yang memiliki pemikiran liberal karena membiarkan anak nonton atau terpapar pornografi, lebih tegasnya, ia katakan, orang tua yang punya pikiran liberal alias permisif. 

"Bisa dibilang wajar si publik figur memilih sikap permisif, karena memang kultur kebanyakan kaum selebritis memang demikian," imbuhnya.

Ia menjelaskan, sering masyarakat mendengar pendapat dari publik figur, salah satu, katanya karena 'tuntutan peran'. Menurutnya, banyak dari mereka, seolah bersembunyi di balik kata 'tuntutan peran', sehingga apapun akan dilakukan demi peran. 

"Akhirnya sikap itu terbawa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika mendidik anaknya. Sikap liberal dan permisif mendidik anak, tidak dimiliki oleh orang tua yang juga perilakunya permisif," bebernya.

Ia menjelaskan, sikap membiarkan atau melarang anak menonton pornografi itu tidak ada kaitannya dengan sikap kolot versus modern.

Peran Orang Tua

Ia menjelaskan, peran dan tanggung jawab orang tua sangat besar kepada anaknya, baik tanggung jawab moral maupun spiritual. 

"Secara moral, praktisnya bagaimana orang tua memberikan teladan yang baik untuk anak. Kalau ada anak nonton pornografi lalu ditemani (baca: dibiarkan) ortunya," imbuhnya.

"Sehingga anak langsung berpikiran, wah berarti orang tua gue bolehin gue nonton pornografi," terangnya.

"Bukan tidak mungkin selanjutnya si anak akan melakukan pornoaksi. Pertanyaanya, apakah enggak mungkin orang tuanya dulu seperti itu juga?" tegasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, secara spiritual, anak  harus dilarang yang memang sudah pasti merusak masa depannya.

"Ibaratnya, kalau kita waktu kecil, dilarang banyak-banyak makan permen, karena ortu kita tahu bahayanya gula-gula itu, salah satunya buat gigi kita. Nah, sepadan dengan itu, kalo hasil penelitian, riset bahkan agama melarang nonton pornografi, karena ada bahayanya, maka harusnya orang tua melarang," jelasnya.

Peran Negara

Ia mengatakan, jauh sebelum sosial media ada seperti sekarang ini, pornografi sudah marak dengan masuknya internet. Ia ungkap, banyak yang mampu mengaksesnya dengan situs-situs tertentu, yang akhirnya beberapa situs tersebut dikenai sanksi blokir oleh pemerintah. 

"Hanya saja ketika situs-situs itu diblokir dengan label internet positif, masih bermunculan varian situs yang lain. Apalagi ditambah dengan adanya sosial media," imbuhnya.

Ia mengungkapkan, peran negara memang sudah dan sedang berupaya. Namun, dunia internet hari ini menjadikan dunia global village. Ia mengatakan, di pelosok mana pun selama ada akses internet akan bisa mengakses informasi dari luar.

"Nah, banjirnya informasi dari luar yang tidak tersaring dan terjaring itu, langsung merangsek ke ruang-ruang pribadi kita, karena setiap kita sekarang pegang gadget, sehingga bisa mengakses apapun, termasuk konten pornografi," paparnya.

Ia mengatakan, di sisi yang lain, dalam dunia yang tengah menerapkan sistem sekular kapitalistik, ada prinsip suplay and demand pornografi dan pornoaksi yang saat ini masih marak, karena adanya bos besar yang ber-mindset bisnis yang pekerjaannya menyuplai sesuai permintaan user.

"Jadi, sama kayak main narkoba, kenapa narkoba itu masih ada, dan cenderung membesar serta sulit dihentikan? Jawabanya karena memang ada penyuplai (baca: bandar), dan ada pemakainya," tegasnya.

Jika negara menginginkan tuntas dalam membasi pornografi, maka ia menyarankan, negara harus memperhatikan dua hal di atas tadi. 

Karena, jika negara berperan hanya tambal sulam, maka ia ibaratkan, hanya mengobati flu cukup dengan memberi tisu, tapi tidak diberi obat yang cocok sesuai gejalanya.

"Mau sudah ada KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) atau lembaga yang memantau dan memperantarai, kalau sumber penyakitnya tidak diperhatikan, ya tidak bakal sembuh penyakitnya," pungkasnya.[] Alfia Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar