Lip of Service: War On Drug


TintaSiyasi.com-- Publik kembali dikagetkan dengan tertangkapnya publik figur karena penyalahgunaan nakoba, pasangan pesohor NR dan AB tengah  menjadi sorotan. Pasangan ini ditangkap pihak berwajib karena kasus narkoba. Nia diamankan pihak kepolisian bersama sopirnya berinisial ZN pada Rabu (7/7) di rumahnya. Polisi menangkap ibu tiga anak ini dengan barang bukti satu klip sabu. Setelah melakukan pemeriksaan keduanya kini akan menjalani rehabilitasi (Merdeka.com).

Hidup bergelimang harta bahkan keduanya sangat familiar di mata masyarakat Indonesia dengan gaya hidup dan keharmonisan keluarga yang terpandang. Tak ada yang menduga ketika alasan terungkapnya kasus ini adalah  hanya karena stress menjalani hidup di tengah pandemi. Padahal di sisi keseharian hidup pasangan tersebut bisa dikatakan no problem, tak ada yang kurang, semua isi dunia telah dinikmati sepanjang hidup mereka.

Kabar keterlibatan artis dalam kasus penyalahgunaan narkoba sudah menjadi lazim di telinga masyarakat. Seolah narkoba telah menjadi alternative yang tepat dalam menenangkan jiwa siapa saja yang mengkonsumsinya. Jangankan takut dengan dosanya, mencelakakan diripun ketika mengkonsumsinya adalah sesuatu yang tak punya tempat ketika kesenangan semu di dapatkan.

Parahnya adalah  ketika orang-orang yang sekelas artis, pejabat anak pejabat terkena  kasus narkoba, selalu berujung pada sanksi ringan yang tak sesuai aturan yang berlaku, alih-alih dikenai hukum penjara vonis  rehabilitasi menjadi solusi akhir bagi pelaku, kalaupun dipenjara hanya hitungan bulan  atau setahun Seolah olah hukum tak berlaku tegas pada yang berduit.


Jerat Narkoba Kian Menggurita

Tak bisa dipungkiri kasus penyalahgunaan narkoba kian meningkat  obat  terlarang ini telah menyebar di mana-mana. Narkoba sudah banyak disalahgunakan baik itu dari kalangan pejabat, remaja, artis hingga berbagai lapisan masyarakat.

Upaya pemberantasan narkoba, dengan tegas perang melawannya pun seolah tiada hasilnya.  Begitu banyak kebijakan pemerintah dalam rangka memutus rantai penyebaran narkoba, meskipun penangkapan pelaku dan pengedar sudah sering diberitakan, namun kasus pun terus bermunculan. Ibarat peribahasa “mati satu tumbuh seribu.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Agus Andrianto mengungkapkan, peredaran narkotika dan orang yang terjerat penyalahgunaan narkotika di Indonesia masih cukup tinggi. Tercatat 24.878 orang ditangkap dari 19.229 kasus di Indonesia yang berhasil diungkap Polri sepanjang Januari hingga Juni 2021 (Kompas.com, 14/6/021).

Kehidupan hedonis di tengah sistem hidup serba bebas, narkoba akan terus menggila. Bukan hanya cara pandang masyarakat yang hidup sekedar mencari kesenangan tapi terjadi karena hukum yang diberlakukan cenderung tak berefek jera. Upaya pemberantasan narkoba seolah tiada ujungnya,  begitu banyakkebijakan pemerintah dalam rangka memutus rantai penyebaran narkoba tapi tidak dapat mengurangi penggunanya,
penyalahgunaan.

Disebutkan oleh Indonesia Narcotic Watch (INW), jumlah pemadat narkoba jenis sabu-sabu dan ekstasi di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Selain itu, harga jual kedua jenis narkoba tersebut di Indonesia sangat tinggi. Demikian ujar Direktur INW Budi Tanjung dalam keterangan tertulis, di Jakarta, Senin (14/6/2021).

Menurut American Addiction Centers, hal ini disebabkan karena narkoba memengaruhi pusat imbalan (reward center) pada otak. Zat adiktif ini memicu pelepasan senyawa yang disebut dopamin. Dopamin menimbulkan efek berupa rasa gembira yang meluap. Saat seseorang kecanduan narkoba, otaknya telah terprogram untuk menerima narkoba dan membiarkan kecanduan terjadi. Pecandu narkoba sulit berhenti karena mereka harus melawan mekanisme ini dalam otaknya sendiri.

Sistem kapitalisme sekularisme yang telah gagal melindungi rakyat dari penyalahgunaan narkoba, bahkan menjadikan peluang untuk meraih keuntungan yang menggiurkan dan mendatangkan limpahan rupiah tanpa memperdulikan halal haramnya. Tidak  hanya rasa takut pada sanksi berat yang akan ditimpakan para pelaku maksiat, menjadikan agama hanya sebatas keyakinan namun kosong dalam pengamalan dalam kehidupan


Islam Tegas Mengharamkan Narkoba

Para ulama sepakat  terkait keharaman narkoba, sekalipun  ada perbedaan dari sisi penggalian hukumnya. Ada yang mengharamkan karena meng-qiyas-kannya pada keharaman khamr,  “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung." (QS Al-Maidah: 90).

Sebagian lainnya mengharamkan karena narkoba termasuk barang yang akan melemahkan jiwa dan akal manusia.
Pendapat ini berdasarkan hadis dengan sanad sahih dari Ummu Salamah, beliau mengatakan, “Rasulullah SAW melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)”.

Dalam sistem Islam pelaku akan dikenakan sanksi berupa ta’zir yaitu sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan kadi (hakim), misalnya dipenjara, dicambuk, dan sebagainya. Selain itu ada pendidikan yang dijamin negara dalam pencegahan narkoba rakyat akan mendapatkan pengajaran yang baik sehingga mengetahui mana yang baik dan buruk serta konsekuensinya jika melakukan pelanggaran.

Masalah narkoba tidak akan selesai jika sistem sekularisme kapitalisme masih dipertahankan di negeri tercinta ini. Oleh karena itu, satu-satunya solusi adalah dengan mengganti sistem kufur nan rusak dengan sistem Islam dalam institusi Khilafah Islam yang bermanhaj kenabian seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Tsabitta Fiddina
(Mahasiswi)

Posting Komentar

0 Komentar