Kapitalis Pemalak, Islam Sejahterakan Rakyat


TintaSiyasi.com-- “Sudahlah jatuh tertimpa tangga lagi” pepatah ini sangat tepat sekali untuk rakyat indonesia saat ini. Di masa pandemi Covid-19 rakyat sekarat yang tidak jelas mendapatkan penanganan Covid-19 dari pemerintah. Malah di tengah kesulitan rakyat, pemerintah berencana membebani rakyat dengan berbagai pungutan. Kebutuhan pokok yang sangat mereka butuhkan sehari-hari, pemerintah akan mengenakan pajak. Negeri yang kaya malah rakyat yang jadi 'sapi perah' untuk memenuhi kebutuhan negara dengan adanya pajak atas setiap kebutuhan rakyat. Rakyat akan selalu dibayangi dengan pajak. Tiada hari pemerintah hanya memikirkan apalagi yang akan mereka pajaki atas rakyat.

Pemerintah bahkan akan mengenakan pajak mulai dari sembako yang naik meroket tinggi, BBM naik, listrik naik BPJS naik dan lain-lainnya yang akan dipajaki lagi demi APBN negara yang lagi sekarat bahkan kritis sehingga pajak menjadi andalan utama untuk memenuhi lubang-lubang pengeluaran negara selain daru utang untuk menutupi defisit anggaran.

Kadang kita tak habis pikir negeri yang kaya raya dengan sumber kekayaannya baik di daratan maupun di lautan itu semua dikuasai oleh swasta, pemerintah hanya dapat pajak dari perusahaan tersebut. Coba kalau kekayaan negeri dikelola negara maka negeri ini bisa sejahtera. Lihat saja PT Freeport di Papua tambang emas yang sangat melimpah hasilnya, bahkan sekarang sudah jadi kawah karena kapitalis yang rakus.

Negeri ini tak sanggup lagi mengelola dan mengatur keuangannya sehingga rakyat yang menjadi sasaran empuk untuk dipalaki dengan pajak oleh negara. Negara akan membuat berbagai cara agar rakyat taat pada pajak. Tapi hal pajak ini pun diberlakukan atas kebutuhan pokok, sedangkan untuk pajak pembelian barang mewah negara bahkan memberikan relaksasinya. 

Inilah watak kapitalis hanya memikirkan uang, uang dan uang tanpa memikirkan bagaimana mendapatkan dengan cara yang benar. Saat kapitalisme yang berkuasa, seakan negara hanya berpikir untung rugi dengan rakyatnya. Negara hanya berpikir untung dari rakyat, sehingga terus berusaha menetapkan pajak sesuka hati. Lihat saja kebijakan pemerintah yang seakan-akan negeri ini hanya bisa bertahan dengan pajak. Inilah kapitalis sekularisme di saat semua dipandang hanya uang, untung dan manfaat semata. 

Kita harus melirik jauh bagaimana Islam pada masa kejayaannya dahulu bisa sejahtera hidup, sebuah negara tanpa pajak. Kita harus objektif menilai sebuah peradaban yang berkembang pada masa kejayaannya tanpa pajak. Islam sangat lengkap pengaturannya apalagi masalah pendapatan negara. 

Dalam Islam, pos-pos pendapatan negara sangat banyak, kekayaan umum yang berlimpah haram dimiliki oleh individu. Dalam Islam sebuah negara dibangun tidak bertumpu kepada pajak dan utang. Bahkan kesehatan, pendidikan bisa gratis, baik Muslim dan non-Muslim. Coba kita bayangkan bagaimana negara ini membangun peradabannya tanpa pajak dan utang.

Dalam Islam kepemilikan itu diatur, ada milik bersama, milik negara dan milik individu. Milik bersama seperti air ( sungai, laut, danau), api ( gas, batubara,minyak bumi dan lain-lain) dan hutan ini dikelola negara hasilnya untuk kesejahteraan rakyat dan negara tidak boleh memberikan kepada siapapun.  Milik negara yaitu harta fa’i, tanah Kharaj, jizyah, ghanimah dan lain-lannya. Jadi sangat tidak mungkin negara berutang dengan harta yang banyak seperti ini. Belum lagi para individu memiliki harta mereka masing-masing dengan hasil kerja mereka, negara tidak memajakinya. Sungguh takjub bukan dengan cara Islam mengatur keuangannya.

Islam sangat memperhatikan segala hal kebutuhan rakyatnya karena dalam pandangan Islam, pemimpin itu adalah pelayan umat, pemimpin akan menjamin kesejahteraan rakyatnya mulai dari sandang, pangan dan papan. Bukan malah dipalaki seperti saat sekarang ini. 

Memang benar penganut negara kapitalis hanya mementingkan para pemilik modal saja, tanpa memikirkan rakyat. Sumber daya alam diserahkan kepada para kapitalis sehingga rakyat yang dipajaki untuk ketahanan negara. Rakyat dijadikan tameng pertahanan negara. Rakyat yang menggaji semua pejabat negara mulai dari kebutuhan primer, sekunder bahkan sampai tersier mereka.

Inilah permainan kapitalis selama kita masih mengembannya, maka selama itu juga kita merasakan kesengsaraannya. Pahitnya hidup di sistem kapitalis, rakyat akan selalu dipalaki oleh negara, karena memang sudah menjadi tabiatnya negara akan selalu mengambil pajak sampai ke rakyat jelata sekalipun dan menumpuk utang ribawi. Negeri ini akan hancur jika kita hanya diam seribu bahasa akan kekejaman kapitalisme seperti sekarang ini. 

Saatnya Islam menjadi solusi atas negeri ini dan dunia secara keseluruhan agar terlepas dari cengkraman yang menyakitkan dari kapitalis sekularis ini. Islam sangat memperhatikan kondisi rakyatnya seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz datang sendiri melihat rakyatnya yang kelaparan. Karena pertanggungjawaban di akhirat akan menjadi saksi atas perlakuan pemimpin kepada rakyat.

Sistem Islam sangat menjaga stabilitas keuangan negara. Negara akan memaksimalkan pendapatannya. Ketika negara kesulitan, ketika sudah berupaya mencari solusi tetapi tidak mendapatkan pendapatan maka negara akan mengambil dharibah,  itupun kepada yang mampu atau orang kaya saja bukan kepada rakyat miskin.
Negara juga akan mandiri mengelola semua sumber daya alam dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat berupa pembangunan infrastruktur, pendidikan gratis bukan hal utopis, kesehatan gratis bukan bayar BPJS dan lain-lainnya. Inilah gambaran bagaimana negara mengelola dan mengatur pendapatan negaranya. Ini masih dalam perkara pengelolaan pendapatan/keuangan negara belum lagi yang lainnya. Jadi, Islam layak diterapkan karena aturan ini bersumber dari Dang Khaliq Ilahi Rabbi.

Saat ini sangat tepat mengambil Islam sebagai solusi, bukan yang lain. Kapitalisme saat ini tidak mampu mengatasi permasalahan secara global, permasalahan dunia tidak bisa diselesaikan oleh kapitalisme. Islam telah terbukti ribuan tahun yang lalu menjadi bukti sejarah bagaimana Islam memimpin sebuah negara hampir 2/3 dunia.

Sistem yang lahir dari yang Mahasuci tentu pasti akan melahirkan aturan yang memberikan solusi yang tepat. Akidah Islam  yang melahirkan aturan yang betul-betul memberikan penyelesaian masalah umat manusia. Hanya kepada Islam kita berharap atas penyelesaian semua permasalahan umat.[]


Oleh: Nanti Manik, S.Pd.I
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar