Jika Terjadi Functional Collapse, Pengamat IJM: Minta Maaf dan Legawa Mundur



TintaSiyasi.com-- Menanggapi tingginya angka kematian dokter, nakes (tenaga kesehatan), dan lonjakan jumlah pertambahan kasus positif Covid-19 dari hari ke hari yang berpotensi terjadi functional collapse, Pengamat Indonesia Justice Monitor Dr. Erwin Permana mengatakan, pemerintah seharusnya minta maaf dan legawa mundur.

"Jika terjadi functional collapse, maka jika masih punya malu mestinya pemerintah turun. Maka jangan lupa ucapkan permintaan maaf dan dengan legawa mundur," ujarnya kepada TintaSiyasi.com Senin, (21/07/2021).

"Tinggal diakui saja terus terang, komunikasi dengan tutur kata yang baik bahwa pemerintah sudah gagal meski berbagai upaya sudah dilakukan. Rakyat pasti dengan sangat ikhlas menerima hal itu," tambahnya.

Ia mempertanyakan kepada siapa roda kepemimpinan berikutnya diserahkan. "Kalau menyerahkan kepemimpinan kepada para politisi mainstream yang sudah rusak jelas mereka bagian dari kerusahakan, maka itu bukan solusi yang dapat diterima akal," bebernya.

Menurutnya, jika sistem masih sekularisme, maka ketidakadilan akan selalu ada. "Siapa pun yang akan memimpin selama dasar sekularisme ini masih menjadi pijakan, maka ketidakadilan dan kezaliman akan terus bereproduksi," tegasnya.

"Maka tidak ada solusi lain untuk mengatasi kezaliman ini selain dari meninggalkan sekularisme yang sudah usang, solusinya adalah impelementasi syariah kaffah," imbuhnya.

Menurutnya, realitas hari ini menunjukkan bahwa penguasa negeri ini tidak menjadikan Islam sebagai asas pengambilan kebijakan. "Dasar pengambilan kebijakan di negeri ini adalah sekularisme kapitalistik. Tiap-tiap kebijakan pasti akan mengarusutamakan kepentingan para kapital dan oligarki," tegasnya.

Sementara itu, Islam memandang fenomena masalah ini, ia nilai, sebagai bentuk kezaliman penguasa kepada rakyat, terlepas siapa pun yang menjadi pemimpin. "Kenyatannya masalah itu sangat nyata dan merenggut nyawa puluhan ribu orang, sedangkan negara abai," cetusnya.

Ia mengatakan, tidak ada pilihan lain yang mampu menyelamatkan, kecuali kepada individu Muslim yang terkenal bersih dan sangat concern menyerukan usaha-usaha untuk melindungi Indonesia dan seluruh masyarakat, baik Muslim dan non-Muslim. Ia mengatakan, individu-individu tersebut berasal dari umat Islam yang memperjuangkan syariat Islam secara kaffah. Ia mencontohkan, seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang Badan Hukum Perkumpulan (BHP) miliknya telah dicabut oleh rezim yang dikategorikan gagal saat ini.

Menurutnya, meski dicabut mesti diakui bahwa rekam jejak para pejuang Islam kaffah tersebut diterima semakin luas oleh masyarakat. "Sebab solusi yang mereka tawarkan merupakan solusi yang selaras dengan akal sehat serta berkesesuaian dengan fitrah manusia untuk hidup berkah," pungkasnya.[] Witri Osman

Posting Komentar

0 Komentar