Insight ke-47 PKAD: Dari The King of Lip Service Hingga The King of Silent, Fenomena Apalagi?



TintaSiyasi.com-- Julukan The King of Lip Service yang diberikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) kepada Presiden Joko Widodo dipertanyakan oleh Analis Senior PKAD Hanif Kristianto. 

"Dari The King of Lip Service, hingga The King of Silent, fenomena apalagi?" ujarnya dalam Insight ke-47 Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD): Dari The King of Lip Service Hingga The King of Silent, Fenomena Apalagi? Senin (12/7/2021) di kanal YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data.

Menurutnya, rakyat kembali bersuara menumpahkan kelu kesahnya dan ungkapan yang menyeruak di publik pun tak kalah hebatnya. Salah satunya, ia melihat, ada yang menuntut presiden untuk mengakhiri jabatannya. 

“Masyarakat menunggu gerakan besar. Jokowi harus legowo untuk mundur. Dan ini konstitusional," ujar Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) Affandi Ismail.

Affandi menyampaikan jika keinginan atau harapan terbesar dari mahasiswa, aktivis kampus, pelajar adalah perubahan. Menurutnya, jangan sampai mesin yang sudah terpanaskan ini mati lagi.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Gema Pembebasan Shiddiq Rabbani menegaskan, mahasiswa harus hadir di tengah-tengah rakyat. Karena, untuk menunjukkan jati diri sebagai leader of change, bukan hanya agent of change

Shiddiq mengatakan, perubahan itu tidak akan terjadi tanpa umat. Karena sejatinya, umatlah yang memiliki kekuasaan. “Perubahan tak hanya rezim tapi juga sistem, tanpa harus menunggu 2024,” serunya.

Advokat dan Pengamat Politik Ahmad Khozinudin membeberkan, kemunculan istilah The King of Lip Service dan The King of Silent wujud pesimistis rakyat. Karena, menurutnya, rakyat melihat tidak ada kata sama dalam ucapan dan tindakan. “Ketidaksesuaian antara kata-kata atau janji-janji dengan perbuatan atau bisa dibilang kebijakan yang dibuat oleh pemerintah,” ungkapnya. 

Selain itu juga, Ahmad menjelaskan, maknanya adalah absennya pemimpin dari persoalan bangsa. Karena, ketidakhadiran dan ketidakmampuan sistem negara dalam menangani urusan masyarakat.

"Acara Insight ke-47 PKAD mendapat sambutan luas. Komentar dukungan dan dukungan positif terus berdatangan. Agenda ini menjadi ajang pencerahan dan pencerdasan," pungkas Hanif.[] HN-IM

Posting Komentar

0 Komentar