Ibrah Ketaatan Nabi Ibrahim secara Totalitas


TintaSiyasi.com-- Memasuki momentum Idul Adha, banyak hikmah yang tersirat dari kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Terkisah dalam Al-Qur’an tentang pengorbanan seorang ayah, yakni Nabi Ibrahim harus merelakan anaknya, Nabi Ismail disembelih dalam genggamannya sendiri. Tanpa ada penolakan atau keluhan dan hanya berbekal keimanan, sang anak hanya berkata "kerjakanlah apa yg diperintahkan Allah, wahai ayahku". Maka di sini membuktikan bagaimana pentingnya peran seorang ayah hingga bisa mendidik sang anak menjadi anak yang saleh dan taat kepada penciptanya secara totalitas.

Dari kisah Nabi Ibrahim pula dan Nabi Ismail, membuat kaum Muslim menyadari bahwa Allah akan senantiasa menguji keimanan hambaNya. Sehingga memahami bahwa hanya karena Allah sajalah sebuah perintah harus terlaksana, bahwa hanya kepada Allah sajalah, kecintaan kepada makhluk tidak boleh di atas segalanya. Sebab tak boleh ada rasa memaksa untuk memiliki seseorang, sekalipun seseorang itu terikat hubungan darah.

Dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pula, membuktikan bahwa cinta butuh pengorbanan dan rasa cinta itu tak akan tumbuh jika dia belum mengenali siapa yang dia cintai. Tatkala dia sudah mengenal dan amat cinta pada seseorang, maka dia akan berkorban apa saja demi yang ia cintai. Pun begitu pula jika seorang hamba ingin menumbuhkan rasa cinta pada Tuhannya, maka terlebih dahulu dia harus mengenali siapa yang dia cintai. Ketika seorang hamba telah amat cinta pada Tuhannya, Allah SWT, maka dia akan melakukan apa saja untuk membuat Allah ridha. Seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim yang harus menyembelih anaknya demi menjalankan perintah Allah, sekalipun yang harus dikorbankan adalah anak yang amat dicintai.

Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (QS. Ash-Shaffat : 107-111).

Bermula dari ketaatan Nabi Ibrahim, maka terciptalah aktivitas berkurban yang kini rutin dilaksanakan oleh kaum Muslim setiap hari raya Idul Adha. Selain daripada menjalankan aktivitas berkurban, momentum Idul adha juga mengajarkan agar seorang Muslim tidak bersikap individualis, namun juga peduli terhadap sesama dengan membagikan daging kurban. Sehingga daging kurban itu tidak hanya dirasakan secara individu, namun juga bisa dirasakan oleh keluarga, tetangga hingga orang miskin. Maka sejatinya hukum-hukum Islam selalu menyatukan umat Muslim, salah satunya dengan aktivitas berkurban. 

Selain daripada menyembelih hewan kurban, dari ketaatan Nabi Ibrahim pula kaum Muslim diajarkan untuk bersikap negarawan, yakni peduli terhadap kondisi negara, peduli terhadap keselamatan dan kemakmuran masyarakat, sebagaimana doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim. 

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. Al-Baqarah: 126).

Dari doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim, membuktikan bahwa amat penting untuk menciptakan negeri yang aman sentosa. Negeri yang aman sentosa adalah terciptanya kesejahteraan negara dalam segala aspek, dari pendidikan, kesehatan, perekonomian yang semuanya diatur dalam siyasah/politik. Siyasah dalam bahasa arab artinya mengurusi urusan umat. Sementara itu keberhasilan mengurusi urusan umat hanya bisa diwujudkan dengan menjalankan aturan Islam secara totalitas, kaffah atau menyeluruh. Tatkala masyarakat menjalankan aturan Islam secara totalitas, maka ibadah tersebut tidak hanya menghasilkan individu yang bertakwa saja, tapi juga mampu memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan terciptanya negeri yang diberkahi sebab diterapkannya aturan Islam. Kemudian penerapan Islam secara menyeluruh hanya bisa dilakukan ketika negara tersebut dinaungi dalam bingkai syariah, yakni sistem khilafah.[]


Oleh: Luthfia Fadillah
(Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

Posting Komentar

0 Komentar