Hukum Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah

TintaSiyasi.com-- Artis Nia Ramadhani dan suaminya Ardi Bakrie mengajukan permohonan rehabilitasi dalam kasus dugaan penyalahgunaan narkoba jenis sabu. Kapolres Jakarta Pusat Kombes Hengki Haryadi mengungkapkan, jika nanti Nia dan Ardi menjalani rehabilitasi, proses hukum dipastikan tetap bergulir. "Kami tekankan, seandainya rehabilitasi sebagaimana diwajibkan dalam Pasal 54 Undang-Undang No 35 Tahun 2009, bukan berkas tidak dilanjutkan, tetap kami lanjutkan, ini penekanan agar tidak simpang siur dan disinformasi. Kami lakukan penyidikan secara profesional," kata Hengki dalam konferensi pers di Mapolres Jakarta Pusat, yang disiarkan langsung KompasTV, Sabtu (10/7/2021).


Hukum Tumpul ke Atas

Lagi dan lagi permasalahan tak kunjung reda dan kali ini menimpa pada salah satu kalangan  elit yaitu Nia Ramadhani dan suaminya Bakrie. Faktanya banyak yang menyayangkan atas sikap penegak keadilan yang seolah pilah-pilih berdasarkan kasta. Seperti yang diketahui terdapat kemungkinan-kemungkinan besar Nia R akan menjalani proses rehbilitasi semata. 

Singkatnya, yang kaya akan segera bebas karena mempunyai kasta yang tinggi. Di sisi lain juga banyak masyarakat dari kalangan bawah yang melakukan penyalahgunaan terhadap narkoba akan ditangkap dan diperlakukan seadil-adilnya. Tak heran sehingga banyak yang berpendapat bahwa hukum di Indonesia sangatlah tumpul ke atas dan tajam ke bawah.


Narkoba Haram

Gaya hidup yang hedonistik dan terbiasa “berada” itu, di tengah kondisi ekonomi sedang goyah —yang diperparah oleh pandemi Covid-19 ini— tak jarang membuat mereka stres dan depresi yang ujung-ujungnya mencari pelarian masalah dengan menenggak narkoba. Padahal, justru itu makin membuat masalah yang lebih besar dan berujung pada kesengsaraan, minimal nama baiknya rusak.

Para ulama sepakat tentang keharaman narkoba jika keadaannya tidak darurat. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan, diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal, haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan.” (Majmu’ Al Fatawa, 34: 204).

Islam adalah sistem kehidupan yang sangat memperhatikan keselamatan akal dan jiwa seorang Muslim, sehingga kita dilarang keras mengonsumsi sesuatu yang haram seperti narkoba.

Kasus narkoba yang menimpa keluarga Bakrie menunjukkan bahwa tekanan hidup akibat penerapan sistem kapitalisme hedonistik juga dialami oleh para kapitalis itu sendiri, sadar ataupun tidak. Mungkin bentuknya bukan berupa dampak kelaparan seperti yang dialami oleh kalangan bawah atau rakyat miskin.


Islam Solusinya!

Ideologi Islam itu lengkap dan paripurna, memuat segala permasalahan manusia mulai dari urusan bersuci (thaharah) hingga urusan pemerintahan dan politik (pengurusan segala kebutuhan umat/rakyat oleh negara).

Sistem Islam juga mengatur tentang sanksi dalam masalah penyalahgunaan narkoba. Dalam tulisan K.H. M. Shiddiq al-Jawi yang berjudul “Hukum Seputar Narkoba Dalam Fiqih Islam” disebutkan bahwa sanksi bagi mereka yang menggunakan narkoba adalah ta’zir. Hukuman ta’zir yaitu sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh kadi (hakim) dalam sistem pemerintahan Islam, misalnya dipenjara, dicambuk dan lain-lain.

Sanksi ta’zir dapat berbeda-beda sesuai tingkat kesalahannya. Pengguna narkoba yang baru berbeda hukumannya dengan pengguna narkoba yang sudah lama. Hukuman itu juga berbeda bagi pengedar narkoba, atau bahkan bagi pemilik pabrik narkoba. Ta’zir dapat sampai pada tingkatan hukuman mati. (Saud Al Utaibi, Al Mausu’ah Al Jina`iyah Al Islamiyah, 1/708-709; Abdurrahman Maliki, Nizhamul Uqubat, 1990, hlm. 81 & 98).[]


Oleh: Dhiyaul Haq
(Pengajar Sekolah Tahfidz Plus Khoiru Ummah Malang)

Posting Komentar

0 Komentar