Hukum Tidak Berkutik di Hadapan Si Kaya


TintaSiyasi.com-- Kapolres Jakarta Pusat Kombes Hengki Haryadi menegaskan, penyidik tetap akan memproses hukum terhadap Nia Ramadhani atas kasus penyalahgunaan narkotika. Meskipun, dalam undang-undang pengguna narkotika diwajibkan menjalani rehabilitasi.

"Dalam Pasal 127 sebagaimana yang hasil penyelidikan kami tentang pengguna narkoba diwajibkan untuk rehabilitasi, itu adalah kewajiban undang-undang. Kemudian dengan rehabilitasi bukan perkara tidak lanjutkan, perkara tetap kami lanjutkan, kami bawa ke sidang nanti akan divonis hakim di mana ancaman maksimal adalah 4 tahun, dan kemudian untuk rehabilitasi bukan dilaksanakan oleh penyidik," katanya di Mapolres Jakarta Pusat (Merdeka.com, 1/7/2021).

Media heboh dengan ditangkapnya publik figure yang fenomenal dengan gaya hidup yang sangat mewah dengan kasus narkoba. Mereka mengatakan mengkonsumsi narkoba karena tekanan hidup saat pandemi melanda. Mayoritas para publik figure saat  tertangkap karena narkoba selalu mengatakan bahwa mereka mengkonsumsi narkoba karena beratnya beban gaya hidup di tengah komunitasnya. Mereka meminta maaf pada publik atas kekhilafan yang mereka perbuat lalu akan mendapatkan keringanan hukuman dari hukuman penjara menjadi rehabilitas ketergantungan obat-obatan terlarang. 

Hal seperti ini sering kali terulang terhadap orang-orang yang memiliki banyak uang yang ternyata mudah terbebas dari hukuman penjara. Masyarakat selalu disuguhi tontonan ketidakadilan hukum di negeri ini. Siapa yang memiliki banyak uang maka dengan mudahnya melenggang dari hukum. Sebaliknya jika tidak memiliki uang maka mereka akan merasakan penggapnya penjara, hukum negeri ini sangat terasa tidak pernah berpihak terhadap masyarakat terbukti banyaknya kasus yang terjadi di masyarakat hukuman berbeda-beda walaupun kasusnya sama. Contoh lainnya seperti  jaksa Pinangky yang seharusnya dihukum 10 tahun penjara dipotong menjadi 4 tahun penjara dengan alasan dia mau bekerjasama dengan penyidik saat dimintai keterangan serta alasan memiliki anak balita. Maka hukumannya dikurangi. Sedangkan di tempat yang berbeda dengan kasus yang ringan mereka harus menanggung hukuman penjara walaupun memiliki bayi dan bayi tersebut ikut di penjara. Ketidakadilan ini membuat masyarakat muak akan tatanan hukum negeri ini. Masyarakat sudah tidak percaya lagi terhadap penegak hukum dan hukum yang ada di negeri ini. 

Beginilah jika hukum buatan manusia yang diterapkan maka tidak akan ada keadilan di sana berbeda jika hukum Islam yang diterapkan maka akan memberi keadilan bagi semua masyarakat tidak perduli kaya dan miskin di mata hukum semua sama memiliki hak sama.

Dalam Islam harta tidak mampu untuk membeli hukum karena para hakim hanya takut pada Allah semata. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang melakukan perbuatan keji, kemunkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An Nahl:90).[]


Oleh: Lutfiatul Khasanah
(Pendidik)

Posting Komentar

0 Komentar