Hanya Dikuasai Oligarki, Ahmad Khozinudin: Inilah Dasar Sebutan 'Lip Service'


TintaSiyasi.com-- Advokat dan Pengamat Politik Ahmad Khozinudin mengatakan, hal yang menjadi dasar disebut lip service, ketika kekuasaan tidak bisa melayani rakyat dan hanya oligarki yang menguasainya.

“Kekuasaan itu tidak bisa melayani rakyat. Namun hanya oligarki yang bisa menguasainya. Inilah dasar lips service sesungguhnya yang harus dipersoalkan lebih dalam,” tuturnya dalam Insight ke-47 Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD): Dari The King of Lip Service hingga The King of Silent. Fenomena Apa Lagi? Senin (12/7/2021) di kanal YouTube Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD).

Julukan The King of Lip Service yang diberikan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) kepada Presiden Joko Widodo dianggapnya ada karena ketidaksesuaian antara kata-kata atau janji dengan realitas. “Ketidaksesuaian antara kata-kata atau janji-janji dengan perbuatan atau bisa dibilang kebijakan yang dibuat oleh pemerintah,” ungkapnya. 

Ia melihat, hal itu pun berkaitan erat dengan tidak adanya kesesuaian antara norma yang diyakini dengan aktualisasinya. Ia mempertanyakan, bagaimana jargon sistem politik demokrasi yang mengatakan bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat, namun faktanya kekuasaan itu tidak dikendalikan oleh rakyat. 

Berkaitan dengan makna The King of Silent, Ahmad Khozinuddin mengatakan bahwa maknanya adalah absennya pemimpin dari persoalan bangsa. Menurutnya, adalah ketidakhadiran dan ketidakmampuan sistem negara dalam menangani urusan masyarakat.[] HN


Posting Komentar

0 Komentar