Dana Sekarat, Tetap Utamakan Proyek Kereta Cepat?

TintaSiyasi.com-- Sungguh memilukan kondisi negeri ini. Di tengah masifnya penyebaran virus Covid-19 yang masih sulit terkendali, terdengar kabar kalau pejabat negeri ini justru akan kembali menambah utang negara. Pasalnya utang yang akan diajukan ke China Development Bank (CDB) ini bukan diperuntukkan untuk membantu para nakes sebagai garda terdepan  penanganan pandemi namun justru untuk proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB).

Kementerian BUMN mengatakan bahwa Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) bakal mengalami cost deficiency (kekurangan biaya) operasi pada awal pengoperasiannya. Untuk itu, pemerintah tengah bernegosiasi dengan China agar mendapat bantuan pinjaman di awal operasi KCJB  nanti. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebut pinjaman bisa diperoleh dari China Development Bank (CDB) dengan jaminan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.

Dengan segudang permasalahan dalam penanganan pandemi, bukankah seharusnya pemerintah bisa lebih bijak dalam mengatur keuangan yang dimiliki dan lebih fokus dalam menghentikan pandemi ini? Seperti membayar utang yang telah menunggak kepada Rumah Sakit atau menyediakan segala macam kebutuhan yang mampu menghentikan pandemi ini, seperti menggencarkan testing gratis dan vaksinasi gratis untuk seluruh rakyat. 

Namun hal semacam itu nampaknya akan sulit kita temukan saat ini, sebab penguasa negeri ini masih memegang erat sistem kapitalisme dalam mengatur segala kebijakannya. Sistem kapitalisme menjadikan penguasa tak lagi menjadi pengurus urusan rakyat, sehingga keuangan negara yang seharusnya digunakan untuk kemaslahatan rakyat justru dimanfaatkan untuk kepentingan korporat. 

Sebaliknya penguasa justru menjadi garda terdepan pelayan para korporat melalui berbagai macam kebijakan yang menguntungkan para korporat. Kapitalisme juga membolehkan korporat leluasa untuk mengeruk kekayaan negeri yang seharusnya dikelola oleh negara dan hasilnya untuk kemaslahatan seluruh rakyat.

Tak hanya itu, kapitalisme juga yang menjadikan penguasa negeri ini lebih mengutamakan keuntungan materi ketimbang keselamatan rakyat di negeri ini. Astaghfirullah

Berbeda dengan penguasa dalam sistem Islam. Karena ketaatannya kepada Allah maka para penguasa tidak akan berani membuat kebijakan yang menzalimi rakyat. Ia pun tidak akan membiarkan rakyatnya kesusahan dan berjuang sendirian terlebih di saat pandemi yang terus mengganas  seperti sekarang ini. []


Oleh: Nuril Izzati
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar