Crazy Rich Terjerat Narkoba, Tak Terjerat Hukum

Penangkapan Artis Terjerat Narkoba

TintaSiyasi.com-- Aktris Nia Ramadhani dan suaminya, Ardi Bakrie beserta sopir mereka berinisial ZN, ditetapkan sebagai tersangka kasus penggunaan narkoba jenis sabu. Dari hasil penangkapan itu polisi menemukan barang bukti berupa sabu seberat 0,78 gram dan satu bong atau alat isap sabu. Ketiganya kemudian menjalani pemeriksaan di Polres Jakarta Pusat.

Pada hari Minggu (11/7/2021), ketiganya dibawa ke BNN pusat dan dari hasil asesmen diketahui ketiganya hanya pengguna yang kemudian direkomendasikan untuk menjalani rehabilitasi rawat inap dan diberi konseling pernikahan selama proses rehabilitasi agar keduanya sama-sama memberikan pengaruh positif untuk lepas dari ketergantungan, demikian disampaikan Deputi Bidang Rehabilitasi BNN, dr Riza Sarasvita. Pengacara Nia dan Ardi, Wa Ode mengatakan ketiganya direhabilitasi mulai Senin (12/2/2021) di sebuah tempat rehabilitasi di Bogor, Jawa Barat.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Metro Jakarta Pusat , Komisaris Indrawieny Panjiyoga memastikan proses hukum terhadap Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie akan tetap berlanjut, walaupun permohonan rehabilitasi keduanya dikabulkan BNN.


Sanksi untuk Crazy Rich dalam Sistem Demokrasi

Nia Ramadhani adalah seorang aktris cantik yang menikah dengan Ardi Bakrie, generasi penerus bisnis grup Bakrie yang saat ini menjabat sebagai direksi dan komisaris di beberapa perusahaan keluarganya. Nia menambah daftar artis di tanah air yang terjerat kasus narkoba. Sederet artis mulai dari presenter sampai komedian tercatat pernah berhadapan dengan kasus narkoba.

Mengingat keduanya adalah pesohor dan konglomerat, publik menjadi ragu akan ketegasan aparat dalam penegakan hukum terhadap penggunaan narkoba atas mereka.
Perlakuan terhadap para pesohor yang terlibat narkoba memang terkesan diskriminatif. Alih-alih dikenai hukuman penjara para artis itu menjalani rehabilitasi.

Berbeda jika yang tertangkap dari kalangan masyarakat biasa, umumnya mereka akan diproses sampai ke pengadilan dan dihukum. Seperti kasus FAK (24) warga Jenggawah, Jember, Jawa Timur yang diganjar hukuman 5,5 tahun penjara dan denda 800 juta rupiah karena memiliki sabu seberat 0,31 gram (detiknews,15/7/2021).

Masih banyak lagi kasus serupa yang menunjukkan hukum semakin tajam ke bawah dan semakin tumpul ke atas. Keadilan seperti tidak berpihak kepada mereka yang lemah.Tapi bagi yang mempunyai kekuasaan dan materi, dengan mudah dapat menjadi pemenang di "meja hijau".

Hal-hal seperti itu sering terjadi dalam sistem demokrasi, karena dalam sistem demokrasi hukum bisa diatur mengikuti kehendak penegak hukumnya. Demikianlah karakter dasar hukum sekuler, baik substansi hukum maupun penegakan hukumnya tidak memiliki standar yang jelas, selalu berubah-ubah sesuai dengan kehendak penguasa dan penegak hukum. 


Sistem Islam Mewujudkan Keadilan

Dalam Islam, keadilan harus tegak tanpa pandang status. Sebagaimana kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Aisyah RA, orang-orang Quraisy mengkhawatirkan keadaan (nasib) wanita dari bani Makhzumiyyah yang (kedapatan) mencuri. Mereka berkata siapa yang bisa bicara kepada Rasulullah SAW? Mereka menjawab bahwa tidak ada yang berani kecuali Usamah bin Zaid yang dicintai Rasulullah SAW. Maka Usamah pun berkata kepada Rasulullah SAW, tetapi Rasulullah SAW bertanya, "Apakah engkau memberi syafaat (pertolongan) berkaitan dengan hukum Allah?" Rasulullah SAW pun berdiri dan berkhutbah, "Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum). Namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya." (HR Bukhari).

Kisah ini terjadi beberapa waktu setelah pembebasan kota Makkah (Fathul Makkah). Suatu ketika seorang perempuan dari Bani Makzhum tertangkap basah sedang mencuri. Bani Makzhum adalah kabilah yang kaya dan disegani di seluruh Makkah. Para tokohnya kemudian sepakat mencari cara untuk membela si pencuri demi kehormatan sukunya. Mereka meminta bantuan Usamah bin Zaid untuk menjadi perantara bertemu Rasulullah dan berharap Nabi SAW membantu mereka meringankan hukuman atas perempuan Bani Makzhum tersebut. Namun Rasulullaah menolaknya.

Kisah yang diriwayatkan Imam Bukhari tersebut jelas-jelas menekankan aspek keadilan Islam dalan penegakan hukum.
Mendambakan keadilan hukum dalam sistem demokrasi hanyalah omong kosong. Karena substansi hukum dalam demokrasi merupakan hukum buatan manusia yang terbatas pada akal dan pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan dalam sistem Islam substansi hukumnya sudah pasti benar karena bersumber dari wahyu Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 50:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ ࣖ

"Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?"

Hanya dengan kembali pada syariah Islam penegakan hukum yang adil akan dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia. Wallahu a'lam.[]


Oleh: Atik Kurniawati
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar