Anggapan Obat Herbal Bisa Timbulkan Kekebalan Tubuh Alami, Pakar Biomolekuler: Itu Enggak Benar


TintaSiyasi.com -- Pakar Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo, Ph.D. menegaskan bahwa tidak benar obat herbal bisa menimbulkan kekebalan tubuh secara alami.

“Memang ada persepsi di masyarakat, kita bisa menimbulkan kekebalan alami dengan herbal. Sebetulnya itu enggak benar,” ujarnya dalam acara Fokus Spesial: Menjawab Kontroversi Seputar Covid, Ahad (11/07/2021) di YouTube UIY Official.

Anggapan atau persepsi itu dikatakan tidak benar, karena menurutnya untuk melawan virus yang masuk ke dalam tubuh diperlukan antibodi. Antibodi itu munculnya cuma dari dua cara, yaitu infeksi virus secara alami dan vaksinasi.

"Kalau vaksin itu kan intinya adalah untuk menanamkan satu benda asing yang merupakan bagian dari kuman yang kita ingin targetkan atau kita lawan,” ujarnya.

Namun dalam hal teknologi vaksin, ia menjelaskan, yang digunakan Sinovac, Sinopharm, vaksin gotong royong, dan juga Covaxin dari India masih tergolong teknologi lama.

“Mereka mengambil virus utuh, lalu setelah diperbanyak, diberikan zat kimia sehingga materi genetiknya rusak. Jadi ini namanya virus mati. Meskipun kita tahu virus bukan benda mati bukan benda hidup, tidak viable, maksudnya dia tidak bisa aktif alias Inaktivasi,” bebernya.

Lebih lanjut ia mengatakan, virus tersebut utuh sehingga mengandung banyak sekali protein dan tidak cuma protein spike yang ada dalam virus tapi banyak protein virus lainnya.

“Ini teknologi yang paling lama. Cuma prosesnya lebih lama membuatnya. Karena dia harus tumbuh di sel. Selnya harus tumbuh dulu, kalau sudah tumbuh baru dia bisa memperbanyak virus. Makanya agak lama, tapi relatif aman. Karena kita tahu persis perjalanan pembuatannya,” paparnya.

Lebih lanjut, Ahmad memaparkan, teknologi yang lebih baru dilakukan oleh Pfizer, BioNTech, dan Astra Zeneca. “Mereka copy paste, sequence genomnya SARS-CoV-2 itu, mereka unduh dari database yaitu pangkalan data, lalu mereka copy paste ke platform vaksin yang mereka sudah punya yaitu vaksin mRNA. Sehingga dalam tiga minggu vaksin mRNA sudah siap uji klinis. Dan hasilnya memang lumayan bagus. Uji klinisnya kan 95 persen,” ujarnya.

“Jadi memang teknologinya itu akibat revolusi di bidang biologi molekuler. Tapi prinsip kerjanya sama, karena dia menampilkan bagian kuman yaitu protein paku payungnya (spike). Cuman kalau yang Sinovac enggak cuman paku payung kan, tapi keseluruhan virus. Tapi kalau mereka (vaksin mRNA dan vaksin Astra Zeneca) tetap fokus ke protein paku payung (spike). Karena payung inilah yang menyebabkan virus SARS-CoV-2 menginfeksi kita,” bebernya.

Ahmad kemudian menganalogikan antibodi yang muncul, karena vaksin akan terjadi intercept seperti rudal patriot. “Misalnya kayak rudal patriot, ketika datang rudal musuh Scud, maka rudal patriot akan meng-intercept rudal Scud (seperti masa perang Teluk dulu). Jadi konsepnya seperti itu,” jelasnya.

Varian Covid

“Mekanisme mutasi virus yang memicu munculnya varian tidak terjadi dalam ruang hampa. Misalnya nih, ada virus melekat di daun pintu, itu sampai kiamat enggak akan berubah materi genetiknya, karena dia tidak diberi kesempatan untuk memperbanyak diri,” tuturnya.

Ahmad menerangkan, hubungan antara virus memperbanyak diri dengan mutasi adalah mutasi itu terjadi pada saat proses virus menginfeksi dan masuk ke dalam sel dan dia mulai menggandakan materi genetiknya.

“Kalau kita menggandakan materi genetik, maka materi genetik akan diketik oleh mesin replikasi. Ketika mereka mengetik materi genetik yang diperbanyak, muncul apa yang disebut “salah ketik”. Kalau virus punya banyak kesempatan untuk menggandakan dirinya ketika mereka terus menular ke banyak orang, tentu kemudian jumlah materi genetik yang mengalami salah ketik juga akan diperbanyak sehingga muncul mutasi, dan kombinasi beberapa mutasi akan menghasilkan varian,” urainya lagi.

Kemudian ia melanjutkan, kalau ternyata "salah ketik"  tadi menimbulkan perangainya sebagai mudah menular, tentu nantinya anakan yang diseleksi itu adalah yang memiliki mutasi tersebut. “Kumpulan mutasi itu menjadi varian. Jadi dalam satu varian itu ada beberapa mutasi sekaligus, hasil dari manusia menularkan kepada yang lainnya. Di situ dia akan memperbaiki diri,” urainya.

“Makanya semakin manusia berkerumun, semakin muncul varian. Makanya saya akan mengatakan bahwa varian akan kerap muncul dalam waktu lama. Dia akan terus ada. Seperti varian delta, pakunya sangat tajam. Kalau dulu mungkin butuh seribu partikel untuk menancap di manusia, sekarang cuman butuh sepuluh. Konsentrasinya enggak perlu banyak tapi sudah bisa masuk,” lugasnya.

Ia mengingatkan, dari sisi dampak terhadap kesakitan sebenarnya hampir sama. “Cuma terkesan tinggi, karena pengalinya tinggi. Sebelumnya kan cuma satu orang ke tiga orang, sekarang satu ke delapan orang, tapi prosentasenya masih sama,” katanya.

Vaksin Ampuh?

“Untuk varian baru ampuh apa tidak, memang kita perlu cara berpikir ilmiah. Makanya saya membekali teman-teman untuk membaca data. Kita harus tahu bagaimana cara membaca data jangan sampai bias. Yang ada di masyarakat ‘Itu udah di vaksin kok, tapi meninggal’,” ujarnya.

Ahmad menuturkan, mestinya ditanyakan bagaimana dengan kejadian meninggal pada mereka yang belum divaksin dan harusnya perbandingan antara yang divaksin dan meninggal, misalkan meninggal 20 orang, dan yang tidak divaksin ada berapa.

“Saya lebih khawatir kalau seandainya nakes kita tidak segera divaksin, saya khawatirnya malah jumlah yang meninggal akan jauh lebih banyak. Akan tetapi memang, kalau mengenai varian delta dan konteksnya vaksin Sinovac, maka memang kita perlu punya datanya. Aslinya kita perlu tahu, betul enggak ada some protections. Karena dari uji klinis memang kita ketahui, dibanding vaksin sultan (seperti vaksin mRNA) yang 95 persen tadi itu, Sinovac kan sekitar 55 persen mendekati 60 persen lah. Pertanyaannya, in real world, di dunia nyata angkanya masih sekitar itu enggak,” urainya.

Lebih lanjut, ia membeberkan data di Chile yang bisa menurunkan resiko kematian 85 persen. “Artinya, masih ada 15 persen yang akhirnya meninggal juga. Tapi jumlahnya jauh lebih kecil daripada yang tidak divaksin. Tapi saat itu Chile tidak melihat varian delta, maka akan menarik ketika akan berhadapan dengan varian lambda,” terangnya.

“Sekarang Indonesia dalam posisi bagus untuk meneliti. Kita sudah punya data vaksinasi, coba dilihat dua minggu setelah di vaksin yang kedua itu, tingkat kematian atau tingkat morbiditasnya itu sama enggak dengan yang belum divaksin. Supaya kita tahu angkanya. Kalau memang ternyata jelek, kita terbuka, memang jelek vaksinnya. Tapi kalau kita cuman mengatakan yang divaksin meninggal, berarti jelek, belum tentu. Karena kalaupun kita sudah punya antibodi tapi kalau musuhnya terlalu banyak, ya jebol juga sih,” paparnya.

Prioritas

“Kenapa kok ada isu prioritas? Karena vaksinnya terbatas. Jadi kita enggak bisa semuanya diberikan,” tegasnya.

Ahmad mengatakan, jika diberikan kepada pasar, dikhawatirkan hanya yang punya uang bisa vaksin. Sementara orang yang sebetulnya butuh, tapi tidak punya uang, malah tidak tervaksin.

“Kan repot seperti itu. Jadi ini memang masalah kebijakan juga. Bagaimana kita akan memvaksin kepada orang yang sebetulnya urgen. Apalagi kalau sudah bicara kesehatan ya nakes. Mereka kan yang jagain kita. Nanti kalau rumah sakit banyak tapi enggak ada orangnya gimana. Cuma kamar kosong,” ujarnya.

Ia menjelaskan, negara-negara yang berhasil mengatasi Covid-19 tanpa vaksin, karena mereka menerapkan layer pertama (analogi swiss cheese layer) yaitu physical distancing, penggunaan masker, lockdown, testing dan tracing yaitu tes, lacak, isolasi.

“Itu mereka pastikan ketat. Mereka tidak isoman tapi isolasi terpusat. Eliminasi itu jauh lebih bagus daripada mitigasi. Kalau eliminasi harus very hard di depan, all out di depan. Kalau mitigasi kan dikit-dikit. Tapi dalam jangka panjang, malah makin mahal sebenarnya,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar