Tidak Bisa Kirim Militer ke Palestina, Jurnalis: Penguasa Muslim Terpenjara Ikatan Nasionalisme



TintaSiyasi.com-- Tidak adanya penguasa negeri-negeri Muslim yang mengirimkan militernya ke Palestina untuk menghalau penjajah zionis Yahudi, menurut Jurnalis Joko Prasetyo karena para penguasa tersebut terpenjara ikatan kufur nasionalisme.

"Nah, ikatan kufur nasionalisme inilah yang membuat lima puluh tujuh negeri Islam yang lengkap dengan persenjataannya itu tidak bisa membantu secara militer terhadap saudaranya yang ada di Palestina," tutur Om Joy, sapaan akrabnya, dalam kajian Bincang Media Umat bersama Joko Prasetyo: Gencatan Senjata, Pelestina Masih Membara di kanal YouTube Follback Dakwah, Rabu (2/6/2021).

Om Joy, mengatakan jika kaum Muslim di Gaza itu terpenjara secara fisik oleh tembok yang dibuat penjajah zionis Israel, maka lima puluh tujuh penguasa negeri Muslim di seluruh dunia terpenjara sistem kufur nasionalisme.

"Dalam Islam, nasionalisme itu ide kufur yang bertentangan dengan akidah Islam karena kaum Muslim itu bersatu sedunia dengan ikatan akidah Islam," jelasnya.

Dia mengungkap bahwa ikatan akidah Islam yang mempersatukam kaum Muslim, oleh kafir penjajah diubah menjadi ikatan kebangsaan/nasionalisme. Siapa saja Muslim menginginkan bersatu dalam ikatan akidah Islam, akan disebut radikal oleh kafir penjajah.

"Tetapi Muslim yang kalau mengikuti maunya penjajah mengganti ikatan akidah Islam menjadi ikatan nasionalisme disebut oleh kafir penjajah sebagai moderat. Jadi dipuji-puji yang mengikuti penjajah sebagai moderat," singgungnya.

Dia mengatakan, kaum Muslim mestinya memahami untuk tidak bangga diri bila disebut Muslim yang moderat. Karena, hal itu terhina dan bertentangan dengan syariat Islam kaffah.

Ia membeberkan, selama penjajah Israel belum pergi dari bumi Palestina, maka selama itu pula masalahnya belum selesai. "Apalagi baru beberapa jam setelah gencatan senjata, Israel menyerang lagi. Sampai sekarang masih terus ada serangan-serangan terhadap individu-individu Muslim di Palestina," ungkapnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, pertempuran antara kelompok Hamas di Gaza dengan Israel yang menduduki Palestina memang sudah berhenti. Tetapi pemukulan atau penyiksaan oleh Israel terhadap Muslim di Palestina masih terus berlanjut.

"Urusan itu akan selesai bila si penjajah atau si perampok rumah Palestina itu pergi. Si perampok itu namanya zionis Yahudi yang menamakan Palestina ini sebagai rumahnya," ujarnya.

Ia menambahkan, bantuan yang dikirim ke Palestina barulah hanya membantu mengobati dari luka-luka Muslim di sana yang dipukuli oleh penjajah Israel, belum sampai mengusir penjajah. "Solusi tuntasnya itu, ya usir penjajah Yahudi dari Palestina. Sebagaimana dulu Belanda diusir dari Indonesia. Mengapa buat negeri kita sendiri kita bisa bilang mengusir penjajah Belanda sedangkan untuk Palestina kok tidak bisa bilang usir penjajah Israel?" tanyanya.

Khilafah Solusinya

Om Joy menegaskan bahwa satu-satunya solusi untuk masalah Palestina adalah dengan bersatunya kaum Muslim di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Sebagaimana dulu Palestina dibebaskan dari cengkeraman penguasa Romawi oleh khalifah Umar bin Khattab.

Ia pun mengatakan bahwa solusi dua negara yang ditawarkan PBB itu adalah solusi yang diinginkan oleh negara kafir penjajah.

"Ya, kaum Muslim yang memahami ini ya tolong didakwahkan lagi ke siapa pun. Biar pemahaman yang benar ini sampai ke mana-mana, seluruh kaum Muslim," pungkasnya.[] Rasman dan Munamah

Posting Komentar

0 Komentar