Sebut Khulafaur Rasyidin Peletak Demokrasi, Analis Senior PKAD: Upaya Pembelokan Ajaran Islam



TintaSiyasi.com-- Merespons soal ujian Penilaian Akhir Tahun (PAT) mata pelajaran Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) kelas 7 Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang menyebutkan, Khulafaur Rasyidin berhasil meletakkan nilai demokrasi dalam Islam, Analis Senior Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Fajar Kurniawan menegaskan, ada upaya yang sistematis, terstruktur, dan masif untuk mengaburkan atau membelokkan ajaran-ajaran Islam.

“Saya ingin memberikan tanggapan tentang adanya soal ujian kelas 7 Madrasah Tsanawiyah. Kalau melihat pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan, ini sebenarnya semakin menunjukkan bahwa ada upaya yang sistematis, terstruktur, dan masif untuk mengaburkan atau membelokkan ajaran-ajaran Islam, termasuk dalam konteks kepemimpinan Khulafaur Rasyidin,” tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Sabtu (05/06/2021).

Fajar, menyatakan, Khulafaur Rasyidin mulai dari Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq, Sayyidina  Umar Bin Khattab, Sayyidina Utsman bin Affan, dan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib itu, adalah orang- orang yang mendapatkan didikan langsung dari Rasulullah SAW terkait dengan seluruh ajaran syariah Islam. 

“Tentu tidak ada satupun tindakan atau pemikiran yang beliau lakukan itu, yang keluar dari konteks Islam. Karena, kalau beliau keluar dari konteks Islam, maka pasti Rasulullah SAW  akan menegur dan menyatakan ketidaksetujuannya,” ujarnya. 

Ia menyatakan, keanehan di dalam soal-soal tersebut adalah istilah-istilah yang tidak ditemui pada zaman Rasulullah SAW. Misalnya, lanjutnya, istilah moderat, pemimpin yang otoriter, atau  masalah demokratis dan sebagainya, adalah penggunaan istilah yang tidak tepat. 

"Seluruh kepemimpinan Khulafaur Rasyidin dan tentu juga kepemimpinan seluruh seluruh khalifah setelah itu, dari Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, maupun Utsmaniyah, maka panduannya adalah jelas Al-Qur’an dan As-Sunnah,” bebernya.

“Mereka tidak menggunakan aturan atau sumber hukum lain selain Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga di sinilah  yang kemudian harus dipahami bahwa, apapun produk-produk hukum yang beliau hasilkan, terutama terhadap produk hukum yang itu adalah hasil ijtihad, tentu adalah berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Sementara beberapa istilah yang tadi disampaikan, misalkan demokrasi, demokrat, atau otoriter itu tidak merujuk kepada apa yang telah Islam ajarkan,” tambahnya. 

Ia menegaskan, istilah demokrasi tidak pernah dikenal di dalam Islam. Karena istilah itu, menurutnya hanya akrab disampaikan oleh para filsuf Barat, seperti Plato, Aristoteles, JJ Rousseau, dan kawan-kawannya. 

“Jelas sekali bahwa, ini adalah upaya pengaburan  atau pembengkokan dari ajaran Islam itu sendiri, yaitu dengan mencampur adukkan antara sesuatu yang berasal dari Islam dengan sesuatu yang berasal dari Barat,” tegasnya.

Moderasi Pendidikan

“Upaya yang tadi dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif, tidak hanya pengaburan, tapi juga terjadi penguburan sejarah Islam itu sendiri. Ini sesuai  dengan arah kurikulum bangsa yang memang mengarah kepada upaya untuk moderasi,” urainya.

Ia menerangkan, moderasi disebut untuk mencegah seseorang bersikap ekstrem atau bersifat radikal terhadap ajaran agamanya. Padahal, lanjutnya sudah jelas ketika menyangkut keyakinan, maka harus radikal yaitu betul-betul yakin, karena itu keterkaitannya dengan konsep tauhid. "Bagaimana mungkin seseorang tidak mengimani dengan keimanan yang 100 persen,” imbuhnya. 

“Kalau seperti itu, berarti dia tauhidnya patut dipertanyakan. Karena konsep tauhid atau akidah itu, harus harus tashdiqul jazm, pembenaran sifatnya pasti 100 persen, enggak boleh kurang sedikit pun. Kalau kita kemudian mengakui bahwa ada ajaran-ajaran agama yang lain, yang diluar ajaran agama Islam, yang itu ada juga benar, ya maka sesungguhnya keimanan kita, keyakinan kita, akidah kita, patut dipertanyakan,” tegasnya. 

Fajar menukil firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 19. 

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Itu sudah cukup jelas dan terang benderang, bahwasannya di sisi Allah SWT, yang diridhai itu hanya Islam. Karena itulah kemudian Rasulullah SAW sebagai  khatamul anbiya, yaitu penutup para nabi, dan beliau itu membawa syariat Islam, itu adalah syariat yang kaffah untuk seluruh manusia,” tuturnya. 

Ia menambahkan, ayat Al-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 107 ,وَمَآ أَرْسَلْنَـكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَـلَمِينَ , bahwa Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. 

“Sesungguhnya, Islam itu tidak hanya dikhususkan bagi kaum muslimin, tapi Islam itu universal. Islam itu berlaku juga untuk untuk orang non-Muslim. Karena dengan demikian, maka akan muncul kerahmatan tadi. Itu kalau Islam diterapkan secara kaffah atau paripurna,” bebernya.

Ia mempertanyakan, kenapa justru arah pendidikan bangsa dibawa ke arah moderasi. “Apa target moderasi ini? Apakah moderasi ini adalah bagian dari sinkretisme agama?” tanyanya.

Ia menjelaskan, sinkretisme dalam beragama yaitu sikap yang memandang bahwa semua agama itu sama, semua umat manusia akan masuk surga walaupun agamanya berbeda-beda. "Kalau kemudian itu betul-betul menjadi keyakinan orang-orang tadi itu, maka ini yang sudah bisa jadi mungkin malah jatuh kepada kekafiran,” katanya. 

Fajar menegaskan, umat Islam di negeri ini tidak ridha kalau kemudian upaya-upaya pengaburan ajaran Islam dibawa ke arah moderasi, sebagaimana arahan kurikulum pendidikan agama ke depan. 

“Justru yang saya khawatirkan akan terjadi pendangkalan akidah. Pendangkalan akidah buat anak didik kita dan seluruh masyarakat. Ini kan sungguh berbahaya. Umat Islam tidak yakin dengan agamanya, tidak jelas akidahnya. Maka ini menjadi hal yang menyedihkan,” paparnya.


Kepentingan Barat

“Jadi saya kira, memang ada pihak-pihak yang sengaja ingin mengaburkan atau menjauhkan umat Islam dari agama dan akidahnya. Sehingga proses liberalisasi pemikiran, liberalisasi akidah, sekularisasi akan terus bisa dilangsungkan. Itulah kehendak dari negara-negara Barat atau kafir penjajah,” ungkapnya.

Dia memperingatkan, kalau umat Islam jauh dari agamanya, maka akan terjadi kehinaan fiddunya wal akhirat, dunia dan akhirat. “Mereka terus membuat makar siang dan malam ya agar kemudian umat Islam itu bisa dipalingkan dari agamanya. Jelas sekali Allah juga berfirman di dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 54: وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ , ya mereka akan selalu membuat makar dan sesungguhnya Allah sebaik-baik pembuat makar,” ujarnya.

“Umat Islam cukup perhatikan tali agama Allah SWT. Biarkanlah orang-orang kafir itu terus membuat makar, termasuk dengan berbagai cara mengaburkan, sekularisasi, dan liberalisasi ajaran Islam. Tapi yakinlah bahwa sesungguhnya Allah SWT tidak akan pernah ridha. Allah SWT  akan membalas mereka dengan makar yang jauh lebih baik dari itu,” tandasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar