Peristiwa Pembunuhan Enam Laskar, Advokat: Itu Masuk Kategori kejahatan HAM Berat


TintaSiyasi.com-- Advokat Muslim Ahmad Khozinuddin S.H., mengatakan bahwa peristiwa pembunuhan terhadap enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) masuk kategori kejahatan hak asasi manusia (HAM) berat.

“Peristiwa pembunuhan terhadap enam laskar anggota FPI itu menurut banyak pengamat dan saya juga menyimpulkan itu masuk terkategori kejahatan HAM berat baik itu kejahatan genosida maupun kemanusiaan,” tuturnya dalam Insight ke-34 Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD): Mengungkap Misteri Buku Putih Wafatnya Enam Laskar EF-PI di kanal Youtube Pusat Kajian dan Analisis Data, Jumat (1/6/2021).

Karena menurutnya, konteks pembunuhan itu memang targetnya adalah anggota suatu kelompok dan FPI adalah bagian dari kelompok agama atau ormas Islam. Hal itu dirujuk dalam ketentuan pasal 8 Undang-undang (UU) Nomor 26 tahun 2000.

“Dalam praktik itu memang diketahui bahwa  minimunnya paling tidak ada lima orang, kemudian apa yang terjadi pada anggota FPI itu kan enam orang sehingga memenuhi batas minimum kematian anggota kelompok itu,” imbuhnya.

Ahmad menjelaskan, rekomendasi yang dikeluarkan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang merupakan kesimpulan dari penyelidikan yang dilakukan oleh Komnas HAM mengecewakan publik dan umat Islam.

“Kemudian kita baru tahu  kenapa kok di split oleh Komnas HAM yang masuk pelanggaran HAM menjadi empat orang. Kemudian sisanya itu dua orang tidak terkategori sebagai korban tapi dianggap pelaku kejahatan, sehingga yang diakui oleh Komnas HAM sebagai korban HAM hanya 4 orang. Karena jumlahnya 4 orang itu tidak masuk kategori pelanggaran HAM berat. Nah, itu yang membuat kita kecewa,” bebernya

Ia memaparkan, di dalam kesimpulan akhir yang dikeluarkan Komnas HAM ternyata dikatakan tidak terjadi pelanggaran HAM berat. Artinya, lanjutnya penembakan terhadap enam laskar FPI itu dianggap kejahatan HAM biasa sehingga tidak bisa ditindak lanjuti dengan ketentuan UU nomor 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM.

“Nah, hari ini muncul buku putih di dalam buku putih itu muncul sekian data dan fakta yang pada pokoknya mendelegitimasi  hasil temuan komnas HAM karena dalam buku putih itu ditemukan berbagai data dan fakta yang mengkonfirmasi bahwa peristiwa pembunuhan terhadap enam laskar FPI itu bukan pelanggaran HAM biasa,” bebernya.

Ia menjelaskan, berdasarkan data temuan dari buku putih, kerja tersebut sifatnya terstruktur, sistematis, dan masif .

“Nah ini yang saya lihat adalah  proses yang saya yakin nggak akan bisa dibuka kecuali ganti rezim. Kalau rezimnya masih ini saya kira ini akan dipetikan  es kan kasus ini,” pungkasnya.[] Sri Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar