Pembatalan Haji, Tanggung Jawab Siapa?


Ibadah haji merupakan rukun Islam yang ke-5. Menjadi impian terbesar umat Islam untuk dapat menunaikannya. Menunaikannya pun membutuhkan banyak hal yang harus dipersiapkan, salah satunya materi. Sebab, menunaikan ibadah haji butuh dana yang cukup, sehingga mungkin harus menabung terlebih dahulu, hingga bertahun-tahun agar dapat terkumpul sejumlah rupiah yang dibutuhkan. Selain itu, membutuhkan fisik yang bugar agar dapat mengikuti segala rangkaian ibadah haji. Namun, semua faktor tersebut, tidak menyurutkan niat umat Islam untuk beribadah haji, termasuk kaum Muslim Indonesia.

Sayangnya, di tahun 2021 ini, calon jemaah Indonesia mesti merasakan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. Pasalnya, tahun ini tidak ada keberangkatan jemaah haji asal Indonesia. Hal ini resmi diumumkan oleh Kementerian Agama RI dengan alasan guna menjaga dan melindungi WNI, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan adanya kebijakan ini, maka jemaah haji asal Indonesia batal berangkat untuk kedua kalinya setelah larangan pertama diberikan pada tahun 2020 lalu.

Pembatalan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 660/2021 tentang Pembatalan Keberangkatan Haji dan Penyelenggaraan Ibadah Haji 1442 H/2021 M. Keputusan Menag ini pun menuai polemik. Tidak sedikit warganet yang berkomentar, menanggapi sikap pemerintah ini (Bisnis.com, 4/6/2021).

Ibadah haji merupakan sebuah perjalanan ritual dalam menghayati hakikat hidup dan keimanan manusia kepada Al-Khaliq yaitu Allah SWT. Ibadah haji juga menjadi momentum persatuan bagi seluruh umat Islam sedunia. Yang utama, ibadah haji adalah bagian dari rukun Islam, yang wajib ditunaikan oleh setiap umat Muslim yang mampu menunaikannya.

Allah Swt. berfirman,

وَلِلّٰهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الۡبَيۡتِ مَنِ اسۡتَطَاعَ اِلَيۡهِ سَبِيۡلًا ‌ؕ وَمَنۡ كَفَرَ فَاِنَّ اللّٰهَ غَنِىٌّ عَنِ الۡعٰلَمِيۡنَ

"Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." (QS. Ali Imran: 97).

Dengan adanya polemik pembatalan keberangkatan haji, menjadi bukti bahwa negara tidak mampu menyelenggarakannya secara benar. Mirisnya, penyelenggaraan haji seolah hanya dilihat dari aspek ekonominya saja, bukan pelayanan penguasa memfasilitasi warganya dalam beribadah. Jelas, akar masalah pembatalan haji, tidak lepas dari sistem sekularisme-kapitalisme yang menginfeksi negeri ini.

Dalam naungan sistem sekuler, agama hanya diposisikan sebagai penguat ekonomi, bukan landasan berjalannya roda pemerintahan. Penguasa mengurus negara berdasarkan untung-rugi. Alhasil, kepentingan rakyat pun tidak diprioritaskan. Termasuk terselenggaranya ibadah haji sebagai sebuah kewajiban.

Kondisi ini sangat berbeda sekali dengan sistem pemerintahan Islam. Dalam naungan sistem Islam, penguasa adalah pengurus dan penjaga rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.”(HR Bukhari).

Inilah tugas pemimpin di dalam sistem Islam, yakni sebagai pengurus seluruh kebutuhan umat. Khalifahlah yang akan bertanggung jawab terhadap apa yang menjadi kebutuhan umat, termasuk permasalahan ibadah haji. Dalam kepemerintahan Islam, negara akan menjamin jemaah yang sudah masuk jadwal pemberangkatan, dapat diberangkatkan dan tidak ada penundaan.

Pemerintah juga akan memberikan fasilitas dan beragam akomodasi yang dibutuhkan oleh jemaah. Baik selama persiapan keberangkatan, ketika beribadah haji di tanah suci, maupun ketika kembali. Selain itu, negara juga memberikan jaminan kesehatan serta keselamatan jemaah. Karena negara berperan penting sebagai penanggung jawab seluruh urusan umat.

Sudah waktunya umat sadar dengan mengalami berbagai penderitaan yang ada. Meninggalkan sistem kufur buatan manusia dan kembali ke sistem Islam buatan Allah SWT. Sistem yang akan memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta. Sebab Islam tidak akan pernah berubah sepanjang zaman. Islam sebagai "way of life" merupakan solusi terbaik untuk mengatasi berbagai problematika kehidupan termasuk mengatasi masalah ibadah haji. Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Nisaa Qomariyah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Muslimah Peduli Negeri)

Posting Komentar

0 Komentar