Pancasila sebagai Kitab Suci Kebangsaan, Prof. Suteki: Saya Meragukannya!

TintaSiyasi.com-- Menyorot wacana menjadikan Pancasila sebagai kitab suci kebangsaan, Pakar Hukum dan Falsafah Pancasila, Prof.Dr. Suteki, S.H., M.Hum., menyatakan keraguannya. 

“Kitab suci kebangsaan macam mana yang dapat dihasilkan oleh para mufasirin (penafsir) Pancasila? Jika konsekuen dengan Pancasila, sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, maka model Ketuhanan yang mana yang akan diajarkan? Diamalkan dan diperjuangkan oleh bangsa Indonesia? Apa dasar akidahnya? Apa rujukannya? Saya meragukannya!” tutur Prof. Suteki, sapaan akrabnya, dalam agenda Halal bi Halal Universitas Online (Uniol) 4.0 Diponorogo, Sabtu (5/6/2021) di ruang Zoom.

Menurutnya, ada ratusan pertanyaan yang dapat diajukan untuk meragukan kualitas kitab suci kebangsaan yang kurang memiliki dasar akidah, fikrah dan thariqah komprehensif tersebut.

Ia mempertanyakan lebih mendalam, bagaimana bangsa ini menempatkan posisi ulama dalam kitab kebangsaan itu. "Sebagai musuh atau sebagai mitra sekaligus pengontrol kekuaasan? Siapa yang berhak menafsirkannya dan dengan syarat seperti apa?" tanyanya 

Cukupkah BPIP (Badan Pengawasan Ideologi Pancasila) sebagai penafsir? Akankah kitab itu bernama HIP (Haluan Ideologi Pancasila)? Ataukah kitab itu bernama kitab gotong royong sebagai pengejawantahan ekasila?" tambahnya.

Selain itu, ia juga mempertanyakan komitmen pemerintah bila dikaitkan dengan aturan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan yang diundangkan pada 31 Maret 2021, yang seolah hendak mengukuhkan kembali ketentuan Pasal 37 Undang-undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 yang tidak mewajibkan materi pendidikan Pancasila dalam kurikulum pendidikan nasional. 

“Melalui penerbitan PP Nomor 57 Tahun 2021 ini, apakah kita masih bisa sesongah (sesumbar) bahwa pemerintahan negara ini masih mempunyai komitmen yang tinggi terhadap Pancasila?" tukasnya.

"Cukupkah hanya dengan menorehkan tinta hitam atau merah di kaos dengan narasi 'Aku Pancasila' lalu nilai-nilai Pancasila betul-betul 'dibumikan'? Saya kira tidak mungkin karena Pancasila yang diajarkan saja belum tentu tembus di hati para peserta didik," imbuhnya.

Menurutnya, para peserta didik tampaknya lebih merasa di comfort zone dengan ideologi liberalisme kapitalistik dan sosialisme komunis, dibandingkan asyik tenggelam dalam ideologi Pancasila yang nyatanya selama ini pelaksanaannya sangat tergantung dari rezim yang berkuasa tanpa adanya blue print yang pasti (scripta, certa dan stricta).

Ia menerangkan, alasan Pancasila tidak bisa diterapkan nilai-nilai dasarnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara murni dan konsisten serta konsekuen. 

“Jawabannya karena selama ini Pancasila itu layaknya tabula rasa, kertas kosong bernilai, isi kertas itu tergantung siapa yang akan menuliskannya berdasarkan penafsirannya sendiri atau kelompoknya,” bebernya.

Dalam pengamatannya, bangsa Indonesia hingga kini tidak mempunyai blue print tentang tafsir Pancasila yang kemudian dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran, pengamalan serta upaya memperjuangkan dan mempertahankannya layaknya sebuah ideologi. 

“Hal ini juga berakibat keraguan terhadap kedudukan Pancasila sebagai Ideologi. Benarkah Pancasila itu sebuah ideologi seperti liberalisme kapital, sosialisme komunis dan Islam? Ataukah Pancasila hanya sebagai kata-kata mutiara (kalam hikmah) yang berada di tataran filosofia hasil kesepakatan para founding fathers saja dalam kehidupan kebangsaan rakyat Indonesia?” ungkap Prof. Suteki.

Jika demikian, ia mempertanyakan, mungkinkah Pancasila menjadi kitab suci kebangsaan atau dari padanya akan diturunkan tafsir kitab suci kebangsaan? Ia mempertanyakan kembali, siapa yang berhak menafsirkan dan syarat-syarat penafsirnya, serta bagaimana kaidahnya? 

"Apa akibat hukum atau konsekuensi hukum penafsiran menjadi sebuah kitab suci kebangsaan? Dalam hal inilah akan terjadi kesulitan-kesulitan dalam 'memaksakan diri' menjadikan Pancasila sebagai kitab suci kebangsaan," tandasnya.[] Liza Burhan

Posting Komentar

0 Komentar