Lonjakan Kasus Covid 19 Membutuhkan Kebijakan Radikal


TintaSiyasi.com -- Masa pandemi di Indonesia sudah mencapai 1 tahun lebih.  Namun, kondisi belum menampakkan tanda-tanda lepas dari masa pandemi, bahkan bertambah meningkat jumlah kasus positif, yang meninggal dan varian virus yang ada di Indonesia pun bermacam-macam. Indonesia telah memasuki ledakan part 2 Covid-19. Tingginya lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah daerah di Indonesia telah menyebabkan kolaps-nya pelayanan di fasiltas layanan kesehatan (fasyankes). Beberapa RS dan puskesmas melaporkan peningkatan pasien yang tinggi dalam beberapa hari terakhir, bahkan BOR di sejumlah RS telah melampaui batas aman. Epidemilog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menilai bahwa situasi saat ini mengkhawatirkan. 

Situasi wabah yang makin tak terkendali menunjukkan sistem kesehatan yang sedang diterapkan oleh pemerintah semakin kolaps. Ketidakpatuhan masyarakat terhadap prokes yang sering dijadikan dalih sejatinya menunjukkan ketidakmampuan negara dalam meriayah rakyat sekaligus menunjukkan hilangnya wibawa kepemimpinan di mata rakyat. Bagaimana tidak, keputusan, kebijakan, dan aturan yang dijadikan sebagai solusi mengurangi jumlah kasus Covid-19 malah berlandasakan ekonomi. Dengan makna, pemerintah menyelesaikan pandemi dengan sudut pandang ekonomi, ruh sistem pemerintahan kapitalisme, dan hal inilah yang menyebabkan kondisi kesehatan kolaps.

Menyikapi Covid-19 part 2 ini, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan yang radikal agar keluar dari lonjakan pandemi virus corona (Covid-19) saat ini. Hermawan mengatakan pemerintah memiliki dua opsi yang bisa diambil saat ini, yakni PSBB ketat atau lockdown regional. Menurutnya, pilihan yang paling radikal adalah lockdown

Kebijakan radikal ini tak akan pernah diambil oleh pemerintahan kapitalistik karena kebijakan lockdown akan mematikan perekonomian negara. Hal ini adalah kelemahan terbesar dari sistem kapitalisme. Lockdown akan menghentikan laju ekonomi sebuah wilayah atau negara, ketika hal ini terjadi tinggal menuggu kematian dari ekonomi kapitalis. Oleh karena itu, selama pemerintah mengadopsi ekonomi kapitalisme, maka tidak akan pernah mengambil kebijakan radikal, yakni lockdown, walaupun kebijakan tersebut logis.

Sehingga butuh membangun sistem kesehatan yang kuat untuk menyolusikan situasi tak terkendali hari ini, yaitu  butuh ada perubahan sistemis dan mendasar. Dimulai dari perubahan sistem politik dari kapitalisme ke Islam yang berbasis kesadaran ideologis umat, yang menjadi kemashlahatan umat prioritas utama. Islam dengan syariahnya akan mengatur SDM, sumber dana, dan administrasi untuk segera menyelesaikan pandemi. 

Perlu diketahui, pada masa Umar bin Khaththab sebagi Amirul mu’minin terjadi pandemi karena penyakit tha’un. Atas dasar pembacaan situasi, virus dan dorongan syariah Islam, Umar dengan cepat menentukan kebijakan radikal yaitu, lockdown. Hanya dengan 2 bulan, pandemic teratasi. Hal ini bukti apabila sebuah kebijakan dilahirkan dari ketaatan kepada Penciptanya dan kecintaan kepada rakyatnya.

Oleh karena itu, Urgen adanya dakwah Islam ideologis yang mengokohkan keimanan akan kebenaran dan kesempurnaan sistem Islam, termasuk pengaturan soal kesehatan. Sehingga bangsa ini bahkan dunia ini terlepas dari masa pandemic dan adzab Allah swt.


Oleh: Fitria Yuniwandari
(Sahabat TintaSiyasi)

Posting Komentar

0 Komentar