Ketua FDMPB: Jangan Sampai Punya Ilmu hanya untuk Raih Jabatan Duniawi


TintaSiyasi.com-- Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra, MM, mengungkapkan, jangan sampai punya ilmu hanya untuk meraih jabatan duniawi yang kemudian menghilangkan integritas.

“Jangan sampai kita punya ilmu itu semata-mata untuk meraih jabatan duniawi, yang kemudian menghilangkan integritas, kemudian melakukan cara-cara yang curang, yang tidak beretika, ini justru dilarang di dalam Islam," tuturnya dalam acara Focus Group Discussion ke-16 FDMPB: Perguruan Tinggi dan Hegemoni Kekuasaan, Sabtu (19/2/2021), di kanal YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB).

Menurutnya, ia sering melihat, banyak yang menuntut ilmu sampai perguruan tinggi, niatnya hanya mendapat gelar dan kesombongan. “Mendapat gelar, niat belajar itu untuk apa sih? Apakah untuk berbuat jahat, untuk mendapatkan pundi-pundi materi yang lebih besar, karena dia punya akses jabatan atau untuk sombong-sombongan saja, gelar saya nih, Doctor ada sembilan berderet dapat Profesor dan bangga, Apakah begitu?" terangnya.

Ia menjelaskan juga, kode etik dalam Islam tujuan adalah hanya untuk meraih ridha Allah SWT, bukan karena manusia yang banyak akan kepentingan-kepentingan di dalamnya.

“Kita sebagai seorang akademisi, kita objektif, jujur berorientasi kepada kebenaran, kita tidak tergiur dengan semata-mata jabatan, kemudian kita menjual integritas, tetapi betul-betul untuk meraih ridha Allah SWT, kemudian mencerahkan umat itu bagian dari ibadah, adab itu kan ibadah,” jelasnya.

Ia mengatakan, dalam Islam terdapat sebuah keberkahan, contohnya, dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Ahmad menerangkan, mengaitkan dengan kebersihan jiwa berarti hubungannya dengan niat.

Ia menjelaskan, sekularisme pangkal dari kerusakan peradaban bangsa. “Saya menulis sedikit tentang sekulerisme dan etika akademik sebagai pangkal kerusakan peradaban bangsa dan Islam sebagai solusi,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, bahwa penemu, akademisi dalam sekularisme justru meniadakan eksistensi Tuhan sebagai Pencipta, sehingga melahirkan kesombongan, ketidakjujuran, kecurangan. “Sementara dalam Islam tidak seperti itu, secara normatif dalam Islam itu kan, atas nama Allah, artinya di dalam Islam cendekiawan, intelektual, akademisi itu disebut sebagai ulil albab (orang yang berakal), ulil albab ada di surat Al-Imran ayat 190-191. 

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَطِلاَ سُبْحَنَكَ فَثِنَاعَذَابَ النَّارِ 

Aspek rasional inetelektual Muslim memang orang-orang yang ahli di bidang riset, lahirlah Al-Khawarizmi, Ibnu Sina," jelasnya.

"Itu ilmuwan sejati yang betul-betul meneliti alam semesta secara profesional, kemudian menjadi peradaban emas di masa lalu,” tambahnya. 

Ia mencontohkan pelanggaran etika akademik dalam sekularisme, seperti salah satunya melakukan penilaian terhadap diri sendiri, ketika objektivitas tidak terpenuhi justru subjektivitas, dalam konteks etika ini sudah termasuk pelangaran etika akademik. 

Menurutnya, Islam memurnikan ilmu dengan terintergrasi dengan etika dan adab. “Sebenarnya alam semesta ini disediakan oleh Allah SWT, kemudian

 سُبْحَنَكَ فَثِنَاعَذَابَ النَّارِ  

artinya tidak melahirkan kesombongan, tidak melahirkan ketidakjujuran, kecurangan, Islam lebih memurnikan ilmu karena ilmu integrated dengan etika dan adab,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

Posting Komentar

0 Komentar