Bukti Cinta Seorang Pemimpin


TintaSiyasi.com-- Saat melakukan pembinaan kepada para Ketua RT/RW di lingkungan kelurahan se-Kecamatan Sumedang Selatan, Bupati Sumedang H.  Dony Ahmad Munir berpesan bahwa RT/ RW harus mampu mengajak masyarakat supaya betul-betul berpartisipasi aktif dalam pembangunan berupa memberdayakan, meningkatkan kewaspadaan dan kegotongroyongan di tengah masyarakat. Beliau juga mengimbau Ketua RT/ RW agar mencatat para pendatang yang lolos mudik dan mewajibkan isolasi selama 5 hari yang dipantau oleh petugas. 

Beliau menambahkan bahwa Pemerintah saat ini telah memberikan perhatian khusus kepada Ketua RT/ RW melalui pemberian insentif dan jaminan kesehatan sebagai bagian dari perhatian pemerintah untuk peningkatan kesejahteraan RT/ RW yang telah mengabdi untuk pembangunan di lingkungannya masing-masing (Radar Sumedang, 12 Mei 2021).

Bicara kepemimpinan pasti berkaitan dengan sosok pemimpin dan sistem kepemimpinannya. Umar bin Khaththab ra. pernah mengatakan, “Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur, jika pengkhianat menjadi petinggi dan harta dikuasai orang-orang fasik.”

Apa yang diungkapkan Khalifah Umar telah dan sedang terjadi saat ini. Berganti pemimpin tak mengubah kondisi dunia Islam menjadi lebih baik sebab sistemnya masih sama, yakni demokrasi kapitalis sekuler. Sosok dan kepemimpinannya jauh dari aturan Allah SWT. 

Meski ia saleh, sistem yang dijalankan tetaplah demokrasi. Meski ia baik sebagai individu, belum menjamin bersikap amanah sebagai pemimpin negara. Ada tidaknya pemimpin muslim hari ini sama saja. Kehadiran mereka tak berfungsi saat umat muslim dunia dilanda kelaparan, penjajahan, peperangan, penganiayaan, permusuhan, diskriminasi, penindasan dan lainnya.

Dalam Islam, perkara kepemimpinan menjadi urusan penting. Sebab, dari sinilah bala dan berkah itu terjadi. Syaikhul Islam menjelaskan dalam karyanya As Siyasah Asy Syar’iyah tentang kriteria pemimpin yang baik.

Beliau menjelaskan, “Selayaknya untuk diketahui siapakah orang yang paling layak untuk posisi setiap jabatan. Karena kepemimpinan yang ideal itu memiliki dua sifat dasar: kuat (mampu) dan amanah. Pemimpin kuat adalah mereka yang tidak tersandera kepentingan partai, golongan, apalagi menghamba kepada penjajah dan kaum kafir. Kepemimpinan kuat adalah sikap berani melawan kezaliman dan menerapkan syariat Islam yang datang dari Allah ’azza wa jalla".

 Sedangkan karakter pemimpin ideal untuk membangun sebuah negara besar yang berdaulat dan mandiri. Di antaranya:

Pertama, orang yang paling takut kepada Allah. Pemimpin haruslah mereka yang paling merasa takut dosa dan paling merasa diawasi Allah SWT. Ketika pemimpin memiliki sifat ini, ia akan memimpin berdasarkan ketetapan Allah SWT. Dengan begitu, kepemimpinannya tidak akan keluar dari batas syariat Islam.

Kedua, shiddiq yang berarti jujur. Sifat teladan ini telah dicontohkan Rasulullah SAW sebagai sifat dasar beliau baik sebagai individu ataupun kepala negara. Lawan jujur adalah dusta. Bila pemimpin jujur ia akan dipercaya rakyatnya. Rasulullah SAW mendapat gelar Al-Amin dari kaum Quraisy karena sifat jujurnya. Sifat ini sudah diketahui kaum Quraisy sejak beliau belum diutus menjadi Nabi dan Rasul. Khalifah Abu Bakar juga dijuluki Ash-Shiddiq. Kejujuran Khalifah Umar bin Khaththab juga mengantarkan beliau mendapat gelar Al-Faruq.

Ketiga, amanah. Lawan dari sifat ini ialah khianat. Amanah merupakan sifat wajib yang harus dimiliki seorang pemimpin. Dengan sifat ini, pemimpin akan menjaga kepercayaan rakyat atas tanggung jawab kepemimpinannya.

Keempat, tabligh atau komunikatif. Kemampuan berkomunikasi merupakan salah satu karakter ideal pemimpin dambaan umat. Sebab, pemimpin akan selalu berkomunikasi dengan rakyatnya. Komunikasi yang baik antara pemimpin dan rakyatnya akan menciptakan hubungan yang baik pula. Pemimpin harus terbuka dengan rakyatnya, mendengar keluhan mereka dan menerima masukan serta nasihat mereka. Hal itu telah dicontohkan Nabi Saw. dan para khalifah sepeninggal beliau.

Kelima, fathanah (cerdas). Kecerdasan seorang pemimpin akan memudahkannya memecahkan persoalan yang terjadi di masyarakat. Pemimpin cerdas ditopang keilmuan yang mumpuni. Makin berilmu, ia makin memahami dan menyelesaikan persoalan dan solusi tepat bagi rakyatnya.

Keenam, adil. Lawan dari adil adalah zalim. Pemimpin haruslah adil. Di tangannya, hukum ditegakkan. Pujian Allah dan Rasul-Nya terhadap pemimpin adil termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunah. Adapun pemimpin zalim, tegurannya pun sangat keras.

Untuk mewujudkan karakter pemimpin dambaan dibutuhkan sistem baik yang mampu melahirkan sosok tersebut. Tanpa sistem Islam, mustahil kita temukan pemimpin ideal harapan umat. Karakter pemimpin dan sistem kepemimpinan Islamlah yang mampu mewujudkannya. Dengan sistem Islam, manusia-manusia beriman, bertakwa, adil dan amanah akan tercipta. Sebab, kepribadian mereka terdidik secara sistemis. Sistem pendidikan berbasis akidah Islam, sistem ekonomi berkah tanpa riba, sistem politik berbasis riayah suunil ummat dan sistem sanksi yang memberi efek jera bagi pelanggar syariat Islam.

Imam al-Auza’iy berkata kepada Khalifah Abu Ja’far al-Manshur, sesungguhnya ‘Umar bin Khaththab ra. pernah berkata, “Pemimpin itu ada empat macam. Pertama, pemimpin yang dirinya dan pembantu-pembantunya memiliki jiwa yang kuat seperti halnya para mujahid yang berjuang di jalan Allah SWT. sehingga tangan Allah SWT terbentang untuk memberikan rahmat kepadanya. Kedua, pemimpin yang lemah jiwanya, sehingga dikendalikan oleh pembantu-pembantunya. Sesungguhnya, pemimpin seperti ini sangat dekat dengan kehancuran, kecuali Allah SWT memberinya rahmat. Ketiga, pemimpin yang pembantu-pembantunya lemah, sehingga dia mengendalikan mereka; maka pemimpin seperti ini akan dimasukkan ke dalam neraka Huthamah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw., ‘Berilah kabar gembira kepada pemimpin Huthamah, karena dia sendirilah yang akan binasa'. Keempat, pemimpin yang dirinya dan pembantu-pembantunya saling berebut pengaruh, sehingga mereka semua terjatuh dalam kebinasaan.”

Imam al-Auza’iy bertutur lagi, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya kesulitan yang paling besar adalah menegakkan hak Allah dan kemuliaan yang paling tinggi di sisi Allah adalah takwa. Barang siapa meminta kemuliaan dengan ketaatan kepada Allah, niscaya Allah akan mengangkat dan memuliakannya. Sebaliknya, barang siapa mencari kemuliaan dengan bermaksiat kepada-Nya, Allah akan menghinakan dan merendahkannya. Inilah nasihat untukmu, semoga keselamatan tetap bersamamu".

Bagi seorang pemimpin Muslim, tugas sebagai pelayan rakyat akan dilakukan. Sehingga ia akan melayani dengan maksimal dan tidak melanggar hukum syariat. Seorang pemimpin yang bervisi Islam akan menjadikan keimanannya sebagai landasan memutuskan kebijakan. Keyakinan pada Allah SWT, membuatnya tawakal dan berserah diri pada Allah dalam menghadapi wabah ini.

Menjadi seorang pemimpin di tengah wabah seperti yang terjadi saat ini,  harus berani mengambil risiko. Tanpa mempertimbangkan masalah materi, yang utama rakyat terselamatkan. Karena standar kebahagiaan seorang muslim adalah ridha Allah SWT. Oleh karena itu, ia akan langsung memutuskan lockdown agar wabah tak meluas menyerang masyarakat. Seorang pemimpin perlu menjamin ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk para medis, sehingga tenaga medis akan merasa aman menjadi garda terdepan penanganan wabah ini.

Pemimpin muslim yang bervisi Islam seperti ini tidak akan mudah didapat. Karena pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, menjadikan ketaatan tertinggi hanya pada Allah, memiliki tujuan memimpin untuk memperoleh ridha Allah dan yakin bahwa apa yang dipimpinnya akan diminta pertanggungjawaban. Dan itu hanya akan ada apabila negara menerapkan sistem Islam dengan seorang pemimpinnya yang disebut Khalifah.

Ketika kemungkaran tampak dari pemimpin atau penguasa, maka rakyat wajib mengingkari penguasa tersebut sekaligus menasihati dan mengoreksi dirinya. Tentu hal itu tidak dilakukan berdasarkan suka dan tidak suka, tetapi berdasarkan standar bahwa itu merupakan kemungkaran dan menyalahi hukum-hukum syariah.

Rasul SAW bersabda, “Sungguh akan ada sesudahku para pemimpin. Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu mereka atas kezaliman mereka, maka ia bukan golonganku dan aku pun bukan golongannya dan ia tidak akan masuk menemaniku di telaga. Sebaliknya, siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu mereka atas kezaliman mereka, maka ia termasuk golonganku dan aku pun termasuk golongannya dan ia akan masuk ke telaga bersamaku.” (HR an-Nasai, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Wallahu a'lam bishshawab.[]


Oleh: Imas Royani
(Komunitas Penulis Ideologis)

Posting Komentar

0 Komentar