Aktivis Dakwah: Islam Moderat Berasal dari Barat


TintaSiyasi.com-- Aktivis Dakwah Ustazah Rif’ah Kholidah mengungkapkan, Islam moderat berasal dari Barat penjajah, bukan dari Islam itu sendiri. 

“Jelas bahwa, Islam moderat adalah Islam yang berasal dari Barat penjajah, bukan Islam yang berasal dari Islam itu sendiri. Yang mana Islam moderat itu adalah Islam sekuler yang menerima ide-ide, nilai-nilai, dan peradaban Barat. Sebagaimana demokrasi, hak asasi manusia, atau yang lainnya,” ungkapnya dalam acara Jalan Kemenangan: Islam Moderat Tidak Berdalil? di kanal YouTube Muslimah Media Center, Kamis (10/06/2021).

Rif’ah menyatakan, jika dicermati dari sisi fakta, sebenarnya sikap moderat atau jalan tengah adalah sikap yang dilakukan oleh para gerejawan yang menginginkan adanya dominasi agama dalam kehidupan. Lanjutnya, ia menambahkan, dengan kelompok revolusioner, yakni para filsuf yang menginginkan  penghapusan agama dalam kehidupan. 

“Maka dari sinilah mereka berkompromi yang kemudian menghasilkan jalan tengah atau halul wasti atau lebih di kenal sebagai sekularisme, yaitu pemisahan agama dalam kehidupan,” bebernya.

Ia menerangkan, musuh-musuh Islam sangat tahu dan paham betul, bahwa kekuatan kaum Muslimin ada di kekuatan ideologinya. Dengan kekuatan itu mampu menyatukan kaum Muslimin dalam satu pimpinan yakni Khilafah Islamiyah.

“Oleh karena itu melalui ghazwul fikri (perang pemikiran) dan ghazwul tsaqafi (perang kebudayaan), Barat berupaya keras untuk menjauhkan kaum Muslimin dari pemahaman yang benar dengan menciptakan opini-opini sesat yang memecah belah umat Islam, seperti Islam radikal, Islam ekstrem, Islam tradisional, Islam moderat,  serta bentuk pelabelan Islam yang lain,” paparnya.

Rif’ah menjelaskan, opini Islam moderat yang dikenal sebagai Islam wasatiah, diartikan sebagai Islam yang ramah, toleran, dan anti kekerasan sangat masif dan terstruktur dijajakan kepada kaum Muslimin oleh penjajah kafir Barat.

“Dengan melalui berbagai macam cara, diantaranya mereka membentuk jaringan Islam moderat yang menyasar seluruh kalangan, mulai dari ulama, akademisi, intelektual, aktivis, kelompok perempuan, wartawan, penulis, dan lain-lain, yang akan dijadikan sebagai corong-corong untuk mempromosikan ajaran Islam moderat,” tuturnya.

Ia menuturkan, agar opini Islam moderat itu diterima oleh umat Islam, maka mereka pun menggunakan argumentasi dalil Al-Qur’an, yaitu surah Al-Baqarah ayat 143. Lebih lanjut, ia menukil firman Allah SWT tersebut:

 بسم الله الرحمن الرحيم

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا 

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” 

“Apakah tepat bahwa makna ummatan wasathan yang ada didalam surah Al-Baqarah ayat 143 yang dimaksudkan itu adalah Islam moderat?,” tanyanya.

Rif’ah menelaah, sesungguhnya penggunaan surat Al-Baqarah ayat 143 adalah justifikasi yang sangat dipaksakan untuk menggunakan argumentasi tersebut. “Mengapa? Karena kalau kita telaah kaitannya makna umatan wasathan dalam kitab-kitab tafsir ulama yang muktabar, kita akan mendapatkan bahwa makna umatan wasathan yang dimaksudkan dalam ayat itu adalah umat yang adil, umat pilihan, atau al-khiyar," jelasnya.

“Mengutip dari tafsir Imam At-Thabari, dalam kitabnya beliau menjelaskan, amal wasthu fi kalamil Arabi al-khiyaru, yang artinya bahwa kata al-wasthu dalam ungkapan bahasa Arab diartikan sebagai al-khiyar, yakni pilihan atau terbaik,” urainya.

Ia menambahkan, Syekh Atha' bin al-Khalil dalam kitabnya At-Taysir Usulil Tafsir dalam surah Al-Baqarah menjelaskan, al-wasthu dalam perkataan orang Arab diartikan al-khiyar. “Sementara umat yang terpilih dari kalangan manusia adalah mereka yang adil. Sesungguhnya umat Islam akan menjadi saksi yang adil atas umat-umat yang lain, karena umat Islam sudah menyampaikan Islam kepada mereka,” ujarnya.

“Demikian juga Imam Ash-Shabuni dalam dalam tafsirnya Shafatu Takatsir, beliau menjelaskan kaitannya dengan umatan wasathan, yang artinya adalah sebagaimana telah kami berikan petunjuk kepada kalian tentang Islam. Demikian pula telah kami jadikan kalian wahai kaum Muslim sebagai umat yang adil dan pilihan,” tutuynya. 

Rif’ah mengingatkan, sesungguhnya Islam moderat tidak datang dan lahir dari Islam tapi berasal dari sekularisme yang mendapat dukungan dari Barat. Tujuannya adalah agar hukum-hukum Islam, terutama yang terkait dengan Islam politik dihilangkan dari kaum Muslim dan diganti dengan pemikiran dari budaya Barat.

“Dengan begitu, Islam dengan berbagai labelnya seperti Islam moderat, Islam radikal, Islam tradisional yang merupakan pengkotak-kotakan, merupakan strategi Barat untuk memecah belah kaum dan menghancurkan kaum Muslim sebagaimana yang tertuang dalam dokumennya yaitu RAND Corporation dengan falsafah politik pemecah belah,” ungkapnya. 

Ia menegaskan, umat Islam wajib menyadari pelabelan dan pengkotak-kotakan Islam adalah untuk kepentingan Barat, yakni untuk memunculkan satu kelompok Islam dan menekan kelompok Islam yang lain. “Yang diinginkan oleh Barat adalah Barat berambisi hanya kelompok Islam yang mau menerima ideologi Barat, yang mau menerima nilai-nilai Barat, yang mau menerima peradaban Barat,” lugasnya.

“Pertarungan antara al-haq dan al-batil memang tidak pernah hilang dari peradaban umat manusia. Pertarungan tersebut semakin sengit dan keras ketika umat Islam tidak punya perisai pelindung yang bisa mengayomi umat manusia dengan runtuhnya Daulah Khilafah Islamiyah di muka bumi ini,” tandasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar